Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Selasa, 21 Januari 2020 | 18:02 WIB

Siap-siap, Fintech akan Gerogoti Perbankan

Team VIVA »
Lazuardhi Utama
Foto :
  • Imarticus
Ilustrasi fintech.

VIVA – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi atau IPTIK Nasional 2017 masih rendah, atau berada di level 4,99 dari skala 1-10.

Sementara itu, berdasarkan data yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF) melalui The Global Competitiveness Report 2018, menyebut Indonesia berada di urutan ke-45 dari 140 negara atau keempat di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga

Salah satu tantangan besar Indonesia dalam menyambut revolusi industri 4.0 adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM) di industri teknologi informasi (IT) untuk mencapai potensi ekonomi digital sebesar US$150 miliar atau Rp2.100 triliun pada 2025.

Di era persaingan digital sekarang, siapa pun yang tak memiliki infrastruktur IT yang mumpuni dipastikan akan tersingkir. Oleh karena itu, perangkat lunak atau software open source bisa menjadi solusi terbaik bagi perusahaan yang ingin memenangkan persaingan.

Terpopuler

Selain andal dan aman, software berbasis open source menawarkan kebebasan dan keleluasaan ketimbang software berlisensi yang cenderung kurang adil dan bersifat kapitalistik.

Kepala Eksekutif PT Equnix Business Solutions, Julyanto Sutandang, mengaku bahwa peralihan dari software lisensi berbayar ke open source bisa menghemat sekitar 50 persen dari total anggaran IT pada sistem tersebut.

Menurutnya, transformasi yang terjadi di dunia perbankan, dari era analog ke digital, telah mengubah banyak hal. Perubahan ini berimbas ke tingkat persaingan yang lebih tinggi dan kompleks serta membutuhkan persiapan infrastruktur IT yang lebih baik.

Tak hanya antarbank, kini perusahaan rintisan berbasis financial technology (startup fintech) juga mulai unjuk gigi lewat pembayaran online serta uang elektronik, dan pembayaran mikro. Ia juga memandang menjamurnya startup fintech tidak mungkin bisa terjadi jika tanpa peran software open source.

"Efisiensi biaya hanya bisa terjadi dengan menggunakan software open source. Keberadaan fintech sudah mulai menggeroti perbankan serta old establish enterprise lainnya. Revolusi industri modern akan dimulai dari sini. Tidak berubah, ya, dilibas," ungkap Julyanto di Jakarta, Selasa, 21 Januari 2020.

Ia memaparkan tidak mungkin mereka akan berkembang pesat jika sejak awal mereka sudah terbenani dengan biaya tinggi untuk penyediaan software. Sebab itulah PostgreSQL hadir yang diklaim sebagai sistem database open source dengan performa lebih unggul dibanding sistem database berbayar manapun.

Sementara, di sisi perbankan, ia mengaku persaingan yang sangat ketat juga menuntut efisiensi tinggi. Dengan begitu, sistem database open source PostgreSQL akan menjadi solusi terbaik untuk Database RDBMS (relational database management system).

"Jadi perbankan tidak lagi tergantung pada sistem database komersial. PostgreSQL adalah raja database untuk sistem transaksional tinggi yang dapat digunakan sebagai alternatif utama dalam dunia bisnis," klaim Julyanto.

Sebagai informasi, Bank Indonesia telah menggagas sistem big data sejak 2014 sebagai satu dari lima program transformasi Arsitektur Fungsi Strategis BI 2014-2024.

Program tersebut diharapkan bisa mempercepat langkah bank sentral dalam mengendalikan inflasi dan mendukung tercapainya stabilitas sistem keuangan. Hal ini berimbas ke perbankan lokal untuk segera memperkuat basis teknologi digitalnya.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Plesir Gak Khawatir, BNI Bikin Holiday Jadi Yeay!
BERITA - sekitar 1 bulan lalu