Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Jumat, 8 November 2019 | 06:41 WIB

Setahun Ekspansi, Bagaimana Nasib Gojek di Luar Negeri?

Team VIVA »
Siti Sarifah Alia
Novina Putri Bestari
Foto :
  • Facebook/GO-JEK
Go-Viet di Vietnam

VIVA – Mulai setahun terakhir, Gojek melakukan ekspansi di berbagai negara di Asia Tenggara. Namun perluasan pasar itu juga mengalami sandungan, karena perusahaan itu terhalang izin beroperasi di Filipina.

Data dari ABI Research menunjukkan Gojek di Indonesia hanya menguasai 35,3% dan sisanya untuk Grab yaitu 63,6%. Di Vietnam Gojek juga hanya mampu meraup 10,3% pasar sedangkan Grab mencapai 72,9%.

Untuk riset tahun 2019 itu, mencatat Grab memiliki pangsa pasar 11,4% di Asia Pasifik. Untuk dominasi pasar ada di pasar Indonesia dan Vietnam.

"Model bisnis ride-hailing sebenarnya sederhana. Subsidi dan diskon pada awal operasi telah memungkinkan Grab, dan pemain lama seperti Easy Taxi atau Uber, mencaplok pangsa pasar yang besar," kata CEPO Jetspree, Alex le dalam pernyataannya, Kamis, 7 November 2019.

Dia mengatakan di Asia Tenggara, industri ride-hailing sedang dalam tahap fase maturity. Ini pula yang menjadi faktor Gojek agak sulit dalam ekspansi regional.

Bisnis Gojek yang terbilang lamban di pasar barunya juga membuat sulit meluncurkan rangkaian layanan lain untuk Indonesia. Penyebabnya adalah biaya akuisisi pelanggan baru mengirimkan makanan atau paket menjadi lebih mahal saat Gojek tidak memiliki basis pengguna aplikasinya.

Alex mengatakan aktivitas ini menjadikan situasi ayam atau telur. Yaitu saat kurangnya layanan lain, membuat platform menjadi kurang menarik.

Soal investasi, tahun ini Gojek masih pada target US$2 milair sedangkan Grab telah mendapatkan investasi hampir US$5 miliar. Grab sendiri mendapatkan investasi sebesar US$2 miliar di Indonesia dan US$500 juta di Vietnam.

Gojek sendiri berusaha untuk beradaptasi, salah satunya menggunakan merk baru di Vietnam dengan Go-Viet dan Get untuk Thailand. Namun untuk Vietnam tidak berjalan dengan baik karena mundurnya CEO kedua dalam beberapa bulan.

Alex juga mencatat bahwa tahun ini Gojek harus ditinggal pendirinya Nadiem Makarim yang saat ini menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dia mengatakan untuk melihat kiprah Gojek di tahun depan.

"Pertanyaan yang dihadapi operasi lokal seperti Go-Viet adalah bagaimana struktur komando yang akan dijalankan? Seberapa banyak kepercayaan yang Anda tempatkan pada tim lokal? Banyak, terlalu banyak, sedikit, atau malah terlalu sedikit? Sampai tingkat mana mereka dapat membuat keputusan, dengan sumber daya apa yang mereka miliki?" jelas Alex.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Bos Taksi Malaysia: Indonesia di Hati Saya
TVONE NEWS - 7 bulan lalu