Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Selasa, 3 September 2019 | 09:02 WIB

#NoBra, Mengapa Perempuan Korea Selatan Memilih Tak Pakai BH

Foto :
  • bbc
- BBC

Sejumlah perempuan di Korea Selatan mengunggah foto mereka di internet saat berbusana tanpa memakai BH.

Menggunakan tagar #NoBra, gerakan perempuan tanpa BH itu kian populer di media sosial.

Baca Juga

Gagasan membangun gerakan tersebut muncul setelah aktris Korsel, Sulli, mengunggah foto dirinya yang tidak memakai BH ke akun Instagramnya yang diikuti jutaan warganet.

Sejak itu Sulli menjadi simbol gerakan tanpa bra di Korsel. Dia mengirim pesan jelas bahwa memakai atau tidak memakai BH adalah urusan "kebebasan pribadi".

Terpopuler

 

Gerakan tanpa bra

 

Walau mendapat banyak pesan berisi dukungan, Sulli menerima cercaan dari perempuan dan pria di media sosial. Sulli disebut "pencari perhatian" dan dituduh sengaja bersikap provokatif.

Beberapa orang meyakini dia mendompleng gerakan perempuan untuk ketenaran pribadi.

"Saya paham memakai bra adalah pilihanmu, tapi dia selalu mengabadikan foto dirinya memakai celana ketat atau membuat payudaranya terlihat. Dia tidak perlu melakukan itu," tulis seorang pengguna Instagram.

"Kami tidak menyalahkanmu karena tidak memakai bra. Kami memberitahumu bahwa kamu harus menyembunyikan putingmu," tulis pengguna lain.

"Kamu memalukan. Bisakah kamu pergi ke gereja seperti itu? Bisakah kamu bertemu adik iparmu atau mertuamu seperti itu? Tidak hanya pria, perempuan juga merasa tidak nyaman," cetus seorang warganet.

Baru-baru ini foto seorang penyanyi sohor lainnya, Hwasa, membuat gerakan #nobra kembali menjadi sorotan.

 

Kebebasan memilih

 

Foto-foto dan video yang menampilkan Hwasa pulang ke Seoul dari konser di Hong Kong dengan mengenakan kaus oblong tanpa bra menjadi viral.

Namun, sejak itu gerakan #nobra populer lagi di kalangan para perempuan awam. Gerakan tersebut tidak bisa dibilang tentang perempuan yang mencari kebebasan memilih di Korsel.

Pada 2018, gerakan `Lolos dari Korset` populer di negara itu. Para perempuan lantas memotong rambut panjang mereka dan pergi ke mana-mana tanpa riasan. Mereka mengunggah hasilnya di media sosial sebagai wujud pemberontakan.


Bintang YouTube Korsel, Lina Bae, menerima ancaman pembunuhan saat dia tampil tanpa riasan. - BBC

Slogan `Lolos dari Korset` muncul sebagai bentuk penentangan terhadap standar kecantikan tidak realistis, yang meminta perempuan menghabiskan berjam-berjam merias diri dan menerapkan perawatan kulit di Korsel.

Banyak perempuan yang diwawancarai BBC mengatakan ada keterkaitan signifikan antara kedua gerakan. Cara kedua gerakan menyebar melalui media sosial pun bisa menjadi indikasi adanya jenis baru aktivisme.

` Pemerkosaan melalui tatapan `

Selama beberapa tahun terakhir, para perempuan Korsel telah memprotes budaya patriarki, kekerasan seksual, dan kejahatan `kamera mata-mata`, yaitu aksi pria yang menempatkan kamera tersembunyi di WC dan tempat umum lainnya.

Demonstrasi perempuan Korsel yang terbesar berlangsung pada 2018, ketika puluhan ribu perempuan turun ke jalan-jalan Kota Seoul guna menyerukan pemberantasan pornografi `kamera mata-mata`.


Gerakan #nobra menyebar melalui media sosial. - BBC

Beberapa perempuan berkata kepada BBC bahwa mereka menghadapi dilema. Mereka mendukung gerakan tanpa BH, namun tidak cukup percaya diri untuk tidak mengenakan BH di tempat umum.

Salah satu alasan utama kerisauan mereka adalah `pemerkosaan melalui tatapan`, istilah di Korsel yang merujuk pada tatapan berlebihan sehingga membuat orang merasa sangat tidak nyaman.

Jeong Seong-eun, 28, merupakan bagian tim produksi No Brablem , film dokumenter tahun 2014 mengenai pengalaman perempuan saat tidak memakai BH.

Seong-eun mengaku proyek dengan teman-teman kampusnya itu bermula dari pertanyaan, "mengapa kita berpikir bahwa memakai BH adalah sesuatu yang alami?"

 

Hak memilih

 

Walau dirinya berpikir bahwa adalah hal yang baik jika semakin banyak perempuan mendiskusikan topik ini di publik, dia juga meyakini kebanyakan perempuan "merasa malu" memakai kaus yang memperlihatkan puting mereka.

"Mereka tahu memakai bra masih dianggap normal di Korea Selatan, karena itu mereka memilih memakai bra," ujarnya.

Park I-seul, 24, adalah model Korsel yang terlibat dengan gerakan berpikiran positif soal tubuh. Tahun lalu dia memutuskan membuat video yang mendokumentasikan dirinya tanpa bra selama tiga hari di Seoul.

Video itu populer, disaksikan 26.000 kali.

Menurutnya, beberapa pengikutnya memilih "jalan tengah" dengan memakai bra soft cup tanpa tali, alih-alih bra kawat.

"Saya salah paham bahwa jika kami tidak memakai bra kawat, payudara kita akan melorot dan tampak jelek. Namun setelah saya merekam video, saya tidak ingin pakai (bra) lagi. Kini saya mengenakan bra tanpa tali pada musim panas dan tanpa bra pada musim dingin," tuturnya.


Beberapa perempuan memilih penutup puting alih-alih memakai BH. - Nahyeun Lee

Gerakan ini tidak spesifik di Seoul.

Seorang pebisnis dan mahasiswi desain visual berusia 22 tahun dari Daegu, Nahyeun Lee, juga terinspirasi.

Dia memulai membentuk merek Yippee sebagai bagian dari proyek pascasarjana di Universitas Keimyung. Mulai Mei tahun ini dia menjual penutup puting dengan slogan, "B rassiere, it`s okay, if you don`t! ".

Da-kyung, perempuan berusia 28 tahun dari Provinsi Jeollanam-do, mengatakan dia terinspirasi foto-foto aktris Sulli dan kini mengenakan bra saat bekerja, namun tidak memakai BH saat bepergian bersama kekasihnya.

"Pacar saya berkata, jika saya tidak nyaman memakai BH, jangan memakainya," ujarnya.

Pesan-pesan mereka adalah perempuan berhak memilih. Namun apa yang dipaparkan riset tentang tidak memakai BH?

 

Tidak pakai BH punya efek pada kesehatan?

 

Dr Deidre Mc Ghee adalah fisioterapis dan turut menjabat direktur Riset Payudara Australia di Universitas Wollongong.

"Saya yakin perempuan berhak memilih. Namun jika Anda punya bobot payudara yang signifikan dan tidak ada penopangnya, maka postur akan terdampak, termasuk leher dan punggung," paparnya.

"Seiring perempuan bertambah usia, struktur anatomi mereka berubah, kulit berubah, dan taraf sokongan menurun secara alami."

"Tatkala perempuan berolahraga tanpa penyokong, payudara akan bergerak dan bra olahraga bisa mengangkat sakit pada payudara dan membantu mencegah penyakit leher serta punggung."

"Riset kami menemukan bahwa jika perempuan tidak punya payudara, misalnya setelah operasi mastectomy, karena payudara adalah bagian dari identitas seksual kami, banyak perempuan akan tetap melindungi area tersebut dan sekitar bahu."

"Hal serupa, jika Anda merasa malu atau sadar tentang penampilan payudara atau pergerakan payudara, Anda akan membentuk postur yang tidak membantu itu. Bagi beberapa perempuan yang mengalami mastectomy, saya katakan kepada mereka untuk mempertimbangkan memakai bra demi postur dan kepercayaan diri mereka."


Kalimat "kaum feminis pembakar bra" muncul pada akhir 1960-an. - Getty Images

Dr Jenny Burbage adalah dosen senior bidang biomekanik di Universitas Portsmouth dan dia mengatakan bahwa perasaan tidak nyaman atau sakit memakai bra yang dialami perempuan "terkait dengan bra yang kurang sesuai".

"Sejauh yang diketahui kelompok riset kami, belum ada kajian sains terbitan terpercaya yang menemukan bahwa memakai bra ada kaitannya dengan kanker payudara," ucapnya.

Namun, penyakit itu bukanlah penyebab mengapa kaum perempuan untuk pertama kalinya menentang BH.

Kalimat "kaum feminis pembakar bra" bermula dari sebuah aksi protes di luar pagelaran Miss America pada 1968.

Perempuan pengunjukrasa saat itu melemparkan benda-benda, termasuk bra, yang mereka pandang sebagai simbol penindasan perempuan. Benda-benda itu dibuang ke tempat sampah, walau mereka tidak benar-benar membakarnya.

Sejak itu istilah `membakar bra` terkait dengan gerakan pembebasan perempuan.

Pada Juni 2019, ribuan perempuan di Swiss berjalan kaki ke tempat kerja, membakar BH, dan memblokade lalu lintas pada hari demonstrasi demi menuntut upah yang lebih adil, kesetaraan, serta penuntasan pelecehan dan kekerasan seksual.

Hari Tanpa Bra pada 13 Oktober menjadi hari untuk meningkatkan pemahaman soal kanker payudara di seluruh dunia. Tahun lalu, perempuan di Filipina menggunakan hari itu untuk menyerukan kesetaraan gender.


Aksi `Free the Nipple` menentang sensor terhadap payudara perempuan. - Getty Images

Jurnalis Vanessa Almeda mengatakan Hari Tanpa Bra "meneguhkan feminisme dan apresiasi jati diri kami sebagai perempuan".

"BH menyimbolkan betapa perempuan ditahan dengan belenggu," ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, para pegiat mengambil satu langkah lebih jauh dengan menyoroti standar ganda soal penyensoran terhadap puting pria dan puting perempuan.

Pada Desember 2014, Netflix merilis film drama dokumenter berjudul Free the Nipple yang mengikuti sekelompok perempuan muda di Kota New York yang memulai aksi protes menentang kriminalisasi dan penyensoran payudara perempuan.

Aksi mereka membuat kampanye `Bebaskan Puting` menjadi fenomena global.

Gerakan Tanpa BH di Korsel baru-baru ini mencerminkan fokus dunia yang kian meningkat terhadap pembatasan pada tubuh perempuan. Cemoohan terhadap perempuan yang ikut ambil bagian dalam gerakan itu menunjukkan perlawanan di Korsel terhadap tantangan pada ekspektasi budaya.

Bagaimanapun, bagi banyak perempuan di negara itu, ini adalah masalah fundamental "kebebasan pribadi".

Semakin terlihatnya gerakan ini mengindikasikan bahwa bagi banyak perempuan Korsel, tagar itu tidak akan kehilangan momentum sampai tanpa BH bukan lagi masalah.

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Reporter Terpeleset di Kolam Renang
TVONE NEWS - sekitar 1 tahun lalu