Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Selasa, 21 Mei 2019 | 09:54 WIB

Di Singapura Heboh Cacar Monyet, Mengapa Belum Ada Travel Warning?

Team VIVA »
Tasya Paramitha
Rintan Puspitasari
Foto :
  • Dok CDC Public Health
Ilustrasi manusia terinfeksi Cacar Monyet.

VIVA – Temuan kasus cacar monyet di Singapura beberapa hari belakangan ini sontak menimbulkan keresahan di masyarakat. Ini dikarenakan dekatnya jarak antara Singapura dan Indonesia, serta banyaknya warga negara Indonesia yang melakukan aktivitas bisnis maupun wisata ke Singapura maupun sebaliknya.

Cacar monyet atau human monkeypox merupakan penyakit infeksi yang sebenarnya dapat dicegah dan dikatakan tidak mudah untuk menular antar manusia. Masyarakat diharapkan dapat memiliki pemahaman yang baik dan benar mengenai penyakit cacar monyet sehingga dapat melakukan langkah-langkah pencegahan yang tepat, tanpa menimbulkan kepanikan.

Baca Juga

Menurut Pakar Penyakit Tropik dan Infeksi dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), dr. Adityo Susilo, SpPD-KPTI, saat ini tidak diperlukan travel warning ke Singapura, mengingat sumber penularan cacar monyet yang telah dikarantina.

"Pada saat terjadinya kasus khusus seperti ini, kita perlu selalu waspada, namun dianjurkan untuk tidak khawatir secara berlebihan. Mengingat cacar monyet dapat secara efektif dicegah dengan menghindari kontak dengan hewan dan pasien yang terinfeksi, saat ini belum diperlukan travel warning secara khusus ke Singapura, karena sumber penularan potensial, yaitu pasien dan orang-orang sekitarnya yang berkontak dengan pasien sudah dikarantina," ujarnya dkutip dari laman FK UI, Selasa, 21 Mei 2019.

Terpopuler

Sebagaimana diketahui, kasus cacar monyet belum pernah ditemukan di Indonesia, termasuk di banyak negara lainnya di seluruh dunia. Kasus ini pertama kali ditemukan pada manusia tahun 1970, dan sudah sejak lama menjadi penyakit endemik yang mencakup beberapa negara di Afrika Barat dan Afrika Tengah.

Sebagai penyakit self-limiting atau swasirna yang dapat sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu 2-3 minggu, kecuali pada kondisi tertentu seperti adanya penyakit lain (komorbid) yang berat, daya tahan tubuh yang rendah, dan usia anak-anak, maka terdapat risiko komplikasi.

Oleh karena sifatnya yang swasirna, tidak ada obat spesifik yang perlu dikonsumsi. Yang utama adalah pasien cacar monyet harus mendapat asupan nutrisi dan cairan yang cukup serta dukungan terapi suportif-simtomatik lainnya

Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kesehatan saat ini tengah gencar melakukan penyebarluasan informasi terkait cacar monyet kepada masyarakat, serta meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan dari Singapura dan negara-negara Afrika Barat dan Afrika Tengah.

Selain itu, pemerintah pun mengimbau agar dinas kesehatan maupun instansi terkait segera melakukan upaya pengendalian awal dan melaporkan kepada Kemenkes apabila ditemukan kasus suspek cacar monyet.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Waspada Cacar Monyet Menyerang, Ketahui Gejalanya
TVONE NEWS - 5 bulan lalu