Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Selasa, 28 Mei 2019 | 08:08 WIB

Kiat Bijak Kelola THR agar Tak 'Bangkrut' di Hari Raya

Team VIVA »
Anisa Widiarini
Foto :
  • HaloMoney
Ilustrasi laporan keuangan

VIVA – Tak terasa Ramadan hanya tinggal menghitung hari. Bukan hanya momen silaturahmi yang dinantikan, namun yang tak kalah ditunggu-tunggu adalah Tunjangan Hari Raya (THR).

Bicara soal THR bisa diibaratkan dua mata pisau yang tajam. Jika Anda tidak bisa memanfaatkannya atau mengelola THR dengan baik untuk segala keperluan Hari Raya maka kenikmatan mendapat THR ini bisa berbalik menusuk Anda.

Baca Juga

Kalimat itu tak jadi ungkapan semata. Adnin (30) salah satu yang pernah merasakan pengalaman buruk mengelola THR. Alih-alih membayangkan nominal 2 kali gaji ada di rekeningnya, dalam waktu 5 hari setelah di transfer nyatanya nominal itu tak juga cukup untuk memenuhi kebutuhannya di Hari Raya.

"Sebelum THR turun tuh, aku udah belanja ini itu, pesan kue-kue, beli baju via online, sampai gadget yang harusnya enggak perlu dibeli pun jadi tergiur, kebeli juga. Sampai sadarnya belakangan," ujar Adnin diwawancarai VIVA lewat telepon Senin 27 Mei 2019.

Beda lagi Adnin, Farah (35) bahkan tak bisa sepeserpun merasakan membelanjakan THR, pasalnya wanita yang baru saja jadi ibu rumah tangga dengan 2 anak ini mengaku seluruh uang THRnya ia gunakan untuk membayar cicilan kartu kredit.

"Tahun ini officially jadi ibu rumah tangga alias enggak kerja lagi, otomatis penghasilan Lebaran itu cuma dari suami. Mungkin belum biasa, bulan lalu saya kalap belanja pakai kartu kredit, aku pikir bisa bayar pakai THR. Eh, ngepas banget buat bayar hutang. Akhirnya untuk lebaran malah pakai gaji bulanan suami," ujarnya kepada VIVA.

Pengalaman Adnin dan Farah tentu juga dialami oleh banyak orang. Gagal mengelola THR justru malah bikin 'bangkrut' hingga tak ayal membuat orang jadi berhutang.

Pakar Manajemen, Kepala Program Studi Manajemen Unika Atma Jaya Christiana Fara Dharmastuti mengatakan bahwa THR merupakan penghasilan tahunan yang tidak rutin, sehingga sangat menyenangkan mendapatkan tambahan ekstra dari pendapatan rutin tersebut.

"Biasanya THR ini akan diperoleh dari perusahaan tempat bekerja secara cuma-cuma dalam jumlah yang cukup besar. Banyak orang yang menggunakan THR untuk keperluan menjelang lebaran. Akan tetapi, tidak semua orang bisa menggunakan THR dengan bijak," ujarnya dari rilis yang diterima VIVA beberapa waktu lalu.

Banyak di antara mereka yang berfoya-foya dan boros menggunakan uang THR. Hingga membuat uang tersebut habis sebelum hari raya tiba. Padahal sebenarnya kita harus hemat dan lebih bijak dalam menggunakanya.

"Apalagi Lebaran tahun ini berdekatan dengan masa libur kenaikan dan masa pendaftaran sekolah. Agar THR benar-benar dapat bermanfaat dengan optimal, maka pengelolaan keuangan THR menjadi sangat penting."

Alokasi buat apa saja sih THR itu?

Seperti namanya Tunjangan Hari Raya artinya THR dimaksudkan untuk menunjang pengeluaran domestik rumah tangga saat hari raya. THR ini bersifat satu tahun sekali yang diterima setiap karyawan.

Konsultan Keuangan dari Zap Finance Prita Ghozie menuturkan bahwa jumlah THR yang diterima biasanya bervariasi. Namun karena berbarengan dengan gaji bulanan, seakan-akan yang diterima terkesan besar. Padahal jika disandingkan dengan kebutuhan, THR justru bersifat seperti air yang mengalir entah ke mana.

VIVA – Tak terasa Ramadan hanya tinggal menghitung hari. Bukan hanya momen silaturahmi yang dinantikan, namun yang tak kalah ditunggu-tunggu adalah Tunjangan Hari Raya (THR).

Bicara soal THR bisa diibaratkan dua mata pisau yang tajam. Jika Anda tidak bisa memanfaatkannya atau mengelola THR dengan baik untuk segala keperluan Hari Raya maka kenikmatan mendapat THR ini bisa berbalik menusuk Anda.

Kalimat itu tak jadi ungkapan semata. Adnin (30) salah satu yang pernah merasakan pengalaman buruk mengelola THR. Alih-alih membayangkan nominal 2 kali gaji ada di rekeningnya, dalam waktu 5 hari setelah di transfer nyatanya nominal itu tak juga cukup untuk memenuhi kebutuhannya di Hari Raya.

"Sebelum THR turun tuh, aku udah belanja ini itu, pesan kue-kue, beli baju via online, sampai gadget yang harusnya enggak perlu dibeli pun jadi tergiur, kebeli juga. Sampai sadarnya belakangan," ujar Adnin diwawancarai VIVA lewat telepon Senin 27 Mei 2019.

Beda lagi Adnin, Farah (35) bahkan tak bisa sepeserpun merasakan membelanjakan THR, pasalnya wanita yang baru saja jadi ibu rumah tangga dengan 2 anak ini mengaku seluruh uang THRnya ia gunakan untuk membayar cicilan kartu kredit.

"Tahun ini officially jadi ibu rumah tangga alias enggak kerja lagi, otomatis penghasilan Lebaran itu cuma dari suami. Mungkin belum biasa, bulan lalu saya kalap belanja pakai kartu kredit, aku pikir bisa bayar pakai THR. Eh, ngepas banget buat bayar hutang. Akhirnya untuk lebaran malah pakai gaji bulanan suami," ujarnya kepada VIVA.

Pengalaman Adnin dan Farah tentu juga dialami oleh banyak orang. Gagal mengelola THR justru malah bikin 'bangkrut' hingga tak ayal membuat orang jadi berhutang.

Pakar Manajemen, Kepala Program Studi Manajemen Unika Atma Jaya Christiana Fara Dharmastuti mengatakan bahwa THR merupakan penghasilan tahunan yang tidak rutin, sehingga sangat menyenangkan mendapatkan tambahan ekstra dari pendapatan rutin tersebut.

"Biasanya THR ini akan diperoleh dari perusahaan tempat bekerja secara cuma-cuma dalam jumlah yang cukup besar. Banyak orang yang menggunakan THR untuk keperluan menjelang lebaran. Akan tetapi, tidak semua orang bisa menggunakan THR dengan bijak," ujarnya dari rilis yang diterima VIVA beberapa waktu lalu.

Banyak di antara mereka yang berfoya-foya dan boros menggunakan uang THR. Hingga membuat uang tersebut habis sebelum hari raya tiba. Padahal sebenarnya kita harus hemat dan lebih bijak dalam menggunakanya.

"Apalagi Lebaran tahun ini berdekatan dengan masa libur kenaikan dan masa pendaftaran sekolah. Agar THR benar-benar dapat bermanfaat dengan optimal, maka pengelolaan keuangan THR menjadi sangat penting."

Alokasi buat apa saja sih THR itu?

Seperti namanya Tunjangan Hari Raya artinya THR dimaksudkan untuk menunjang pengeluaran domestik rumah tangga saat hari raya. THR ini bersifat satu tahun sekali yang diterima setiap karyawan.

Konsultan Keuangan dari Zap Finance Prita Ghozie menuturkan bahwa jumlah THR yang diterima biasanya bervariasi. Namun karena berbarengan dengan gaji bulanan, seakan-akan yang diterima terkesan besar. Padahal jika disandingkan dengan kebutuhan, THR justru bersifat seperti air yang mengalir entah ke mana.

“Orang berpikir punya uang banyak, jadinya hasrat untuk membeli jadi bertambah,” ujarnya. Padahal ?berapapun jumlahnya yang terpenting adalah setiap orang harus bisa membedakan pengeluaran gaji dan THR.

"Misalnya THR habis sebelum Hari Raya, kebanyakan orang menutupinya dengan gaji pokok yang seharusnya tidak boleh dicampur adukan. Harus bisa dibedakan pengeluaran Gaji an Pengeluaran THR," tulisnya lewat akun instagram @PritaGhozie.

Untuk alokasi dana, Prita menyebut bahwa Gaji yang diterima sebaiknya digunakan untuk membayar kebutuhan sehari-hari seperti biasa.

"Gaji bulanan dipergunakan untuk dana operasional setiap bulannya. Misalnya untuk membayar listrik, operasional sehari-hari, membayar cicilan, hingga hutang."

Sedangkan THR sebaiknya dialokasikan untuk pembiayaan Hari Raya.

"THR itu untuk Lebaran. Utamakan mengalokasikan dana untuk keperluan yang wajib terlebih dahulu seperti menunaikan zakat fitrah, zakat mal dan sedekah."

Lebih rinci Prita lewat akun instagram @Zap Finance menjabarkan penggunaan THR untuk hari raya dibagi ke dalam beberapa prioritas pengeluaran.

"Penggunaan THR dibagi dalam 3 prioritas utama. Wajib, butuh, dan ingin."

Pada prioritas wajib, Prita mengelompokkan hal-hal seperti pembayaran Zakat, pembayaran THR asisten rumah tangga, dan dana darurat.

Pada prioritas butuh, Prita mengelompokkan hal-hal seperti sedekah, hidangan Lebaran dan kue-kue, hingga angpao untuk sanak saudara.

Lalu di prioritas ke 3 yaitu ingin. Prita mengelompokkan pembelian baju Lebaran, oleh-oleh, membeli gadget (barang-barang keinginan) hingga mudik.

"Untuk mudik tergantung masing-masing orang ya, ada mudik yang menjadi prioritas butuh, ada pula yang menjadikannya prioritas ingin," ujarnya.

Tak hanya itu, Prita juga memberikan persentase berapa persen sebaiknya dana yang di keluarkan di tiap-tiap pos.

"Untuk zakat alokasikan 10 persen dari pendapatan, lalu kebutuhan lebaran bisa dialokasikan 50-70 persen dari THR termasuk kebutuhan mudik, angpao dan hantaran. Lalu jangan lupa sisihkan pula dana darurat sebesar 20 persen gaji."

Dana darurat dimaksudkan untuk antisipasi jika ada yang sakit, atau kecelakaan saat mudik. Hingga membayar asisten infal.

"Kita tidak pernah berharap ada hal buruk, tapi ada baiknya kita sediakan dana darurat. Nanti jika tak terpakai, bisa disimpan sebagai tabungan."

Tips bijak memanfaatkan dan kelola uang THR

Ada berbagai cara memanfaatkan dan mengelola THR. Christiana menyebut pentingnya menghitung perkiraan jumlah THR yang didapat untuk menyusun anggaran.

“Perencanaan dalam anggaran kas, skala prioritas dan membagi pengeluaran dalam persentase tertentu menjadi faktor penting dalam kesuksesan pengelolaan THR. Langkah utama yang harus dilakukan, yaitu menghitung perkiraan jumlah THR yang akan diterima, lalu membuat anggaran pengeluaran hari raya,” ujarnya.

Meskipun keberadaan THR ditujukan untuk keperluan hari raya, tetapi sangat penting untuk menyisihkan terlebih dahulu minimal 10 persen dari penerimaan untuk menambah tabungan atau dapat dikelompokkan sesuai skala prioritas. Berikut ini tipsnya.

1. THR untuk orang-orang yang berhak 

Prioritaskan untuk membayar kewajiban berupa THR, bonus maupun zakat, untuk orang-orang yang harus diberikan haknya seperti pembantu, sopir, pegawai, dan orangtua. 

2. Melunasi utang

Gunakan uang THR untuk melunasi utang dan tunggakan yang ada, khususnya utang yang sifatnya tidak tetap seperti tagihan kartu kredit, pinjaman online, maupun pinjaman lain yang memiliki biaya bunga tinggi.

3. Kebutuhan Lebaran

Perioritasnya tidak lain adalah kebutuhan Lebaran seperti pakaian, makanan, minuman. Pada saat berbelanja, gunakan prinsip belanja cerdas. Misalnya, memperhatikan apakah barang yang dibeli merupakan kebutuhan atau keinginan, memanfaatkan promosi dan diskon, serta membuat perbandingan dengan belanja online yang biasanya cenderung lebih murah.

4. Biaya mudik

Perlu diperhitungkan biaya transportasi, akomodasi, dan juga konsumsi selama perjalanan mudik nanti. Perencanaan dengan membeli tiket murah, pembelian tiket dari  jauh hari, dan memanfaatkan mudik ekonomis yang banyak dilaksanakan berbagai organisasi dapat digunakan untuk menghemat pengeluaran.

5. Dana cadangan

THR merupakan tambahan pemasukan yang penerimaannya tidak rutin. Tambahan pemasukan ini menjadi kesempatan baik untuk menambah dana cadangan yang dapat menjadi investasi atau tabungan untuk menambah kebutuhan tidak terencana mendatang.

Dana THR sebaiknya juga dialokasikan untuk pengeluaran yang tidak rutin. Pengeluaran selama bulan Ramadan yang bersifat rutin seperti kebutuhan bulanan, tagihan bulanan, cicilan pinjaman, dan lainnya tetap dialokasikan dari pendapatan rutin.  

Pengeluaran kas perlu adanya disiplin dan komitmen sesuai jumlah yang dianggarkan dan tingkat prioritas yang telah ditetapkan. Hal penting dalam menganggarkan penerimaan THR adalah jika penerimaan THR telah mencukupi kebutuhan maka saatnya untuk menambah dana cadangan yang dapat ditabung guna kebutuhan lain seperti kebutuhan anak sekolah. 

Apabila penerimaan THR tidak mencukupi kebutuhan maka saatnya untuk lebih selektif dalam pengeluaran serta berkreasi dalam menambah pemasukan, khususnya di bulan puasa banyak kegiatan yang dapat menciptakan peluang usaha seperti menerima pesanan kue, berjualan pakaian dan usaha lainnya. 

Dengan komitmen dan disiplin dalam mengelola keuangan THR sesuai rencana, maka keuangan keluarga akan lebih lebih sehat dan sejahtera. (ren)

Topik Terkait
Saksikan Juga
Damai Indonesia Menangkan Anugerah Syiar Ramadhan 2019
TVONE NEWS - 3 bulan lalu