Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Selasa, 16 Juli 2019 | 06:00 WIB

Demi Indonesia Guyub Kembali

Team VIVA »
Lis Yuliawati
Bayu Nugraha
Reza Fajri
Lilis Khalisotussurur
Hardani Triyoga
Foto :
  • ANTARA Foto/Wahyu Putro
Pertemuan Jokowi-Prabowo

VIVA – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Presiden Joko Widodo saling memberi hormat. Keduanya lantas bersalaman dan tertawa bersama. Sejurus kemudian, mereka berjalan beriringan menuju kereta Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/ MRT). 

Jokowi dan Prabowo bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu, 13 Juli 2019. Pertemuan itu merupakan pertama kali sejak Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 selesai digelar, 17 April 2019 lalu. 

Baca Juga

Jokowi mengatakan, pertemuan itu merupakan pertemuan dua sahabat. Pertemuan telah lama direncanakan. Namun lantaran kesibukan masing-masing, rencana tersebut baru terwujud Sabtu lalu. Stasiun  MRT sengaja dipilih sebagai lokasi pertemuan lantaran Jokowi ingin mengajak Prabowo menjajal moda transportasi yang baru diresmikan 24 Maret 2019 lalu itu.

Setelah kompetisi yang keras di Pilpres 2019, menurut Jokowi, pertemuan antara dia dengan Prabowo ini menjadi pertanda tidak ada lagi persaingan.  “Semua harus bersatu demi membangun bangsa,” katanya.

Terpopuler

Meski pertemuan ini seolah tidak formal, Prabowo mengungkapkan, tetapi memiliki dimensi dan arti yang sangat penting. Prabowo lantas menegaskan, dia dan Jokowi memang bersahabat dan berkawan. Saling kritik yang kadang terjadi saat pilpres adalah tuntutan politik dan demokrasi.

Prabowo pun menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Jokowi menjadi Presiden RI periode 2019-2024. Tak hanya itu. Prabowo  juga menyampaikan kalau hubungan baik tentu akan terus terjalin dan mereka akan terus saling mengingatkan. "Saya ucapkan selamat bekerja," kata Prabowo.  

Jokowi mengajak seluruh pendukungnya maupun pendukung Prabowo untuk saling berjabat tangan. Selain itu, tidak ada lagi permusuhan, serta tidak ada lagi saling hina, termasuk menyebut cebong, sebutan untuk pendukung Jokowi, dan kampret, sebutan untuk pendukung Prabowo. “Tidak ada lagi 01 dan 02. Tidak ada lagi yang namanya cebong dan tidak ada lagi yang namanya kampret. Yang ada adalah Garuda Pancasila,” kata Jokowi menegaskan.

Pesan yang sama diutarakan Prabowo. “Sudah lah, tak ada lagi sebutan cebong dan kampret. Kita semua adalah Merah Putih,” ujar Prabowo.

Pertemuan dua kontestan pada Pilpres 2019 itu direspons positif sejumlah kalangan. Ketua DPP Partai Golkar Bidang Media dan Penggalangan Opini, Ace Hasan Syadzily, misalnya. Dia menilai, pertemuan Prabowo dan Jokowi di MRT, lalu dilanjutkan dengan makan siang bersama merupakan momen yang sangat penting bagi demokrasi. “Pertemuan ini sesungguhnya dinanti-nantikan rakyat Indonesia," kata Ace melalui pesan singkat, Minggu, 14 Juli 2019.

Dia mengatakan, seharusnya polarisasi masyarakat yang terbelah akibat perbedaan politik Pilpres selesai. Tidak ada lagi cebong dan kampret. “Semua harus mendukung pemerintahan Jokowi-Kiai Ma’ruf ini untuk kemajuan bangsa yang adil dan makmur," katanya.

Respons senada disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla. JK, sapaan Jusuf Kalla, menilai kebesaran hati Jokowi dan Prabowo untuk bersatu perlu dihargai. Usai pertemuan itu, kondisi politik bangsa pada sekarang ini sudah jauh lebih baik. "Baik pada Sabtu lalu, bertemunya Pak Presiden dengan Pak Prabowo juga mendamaikan politik kehidupan bangsa ini," kata JK di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 15 Juli 2019.

Kecewa

VIVA – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Presiden Joko Widodo saling memberi hormat. Keduanya lantas bersalaman dan tertawa bersama. Sejurus kemudian, mereka berjalan beriringan menuju kereta Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/ MRT). 

Jokowi dan Prabowo bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu, 13 Juli 2019. Pertemuan itu merupakan pertama kali sejak Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 selesai digelar, 17 April 2019 lalu. 

Jokowi mengatakan, pertemuan itu merupakan pertemuan dua sahabat. Pertemuan telah lama direncanakan. Namun lantaran kesibukan masing-masing, rencana tersebut baru terwujud Sabtu lalu. Stasiun  MRT sengaja dipilih sebagai lokasi pertemuan lantaran Jokowi ingin mengajak Prabowo menjajal moda transportasi yang baru diresmikan 24 Maret 2019 lalu itu.

Setelah kompetisi yang keras di Pilpres 2019, menurut Jokowi, pertemuan antara dia dengan Prabowo ini menjadi pertanda tidak ada lagi persaingan.  “Semua harus bersatu demi membangun bangsa,” katanya.

Meski pertemuan ini seolah tidak formal, Prabowo mengungkapkan, tetapi memiliki dimensi dan arti yang sangat penting. Prabowo lantas menegaskan, dia dan Jokowi memang bersahabat dan berkawan. Saling kritik yang kadang terjadi saat pilpres adalah tuntutan politik dan demokrasi.

Prabowo pun menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Jokowi menjadi Presiden RI periode 2019-2024. Tak hanya itu. Prabowo  juga menyampaikan kalau hubungan baik tentu akan terus terjalin dan mereka akan terus saling mengingatkan. "Saya ucapkan selamat bekerja," kata Prabowo.  

Jokowi mengajak seluruh pendukungnya maupun pendukung Prabowo untuk saling berjabat tangan. Selain itu, tidak ada lagi permusuhan, serta tidak ada lagi saling hina, termasuk menyebut cebong, sebutan untuk pendukung Jokowi, dan kampret, sebutan untuk pendukung Prabowo. “Tidak ada lagi 01 dan 02. Tidak ada lagi yang namanya cebong dan tidak ada lagi yang namanya kampret. Yang ada adalah Garuda Pancasila,” kata Jokowi menegaskan.

Pesan yang sama diutarakan Prabowo. “Sudah lah, tak ada lagi sebutan cebong dan kampret. Kita semua adalah Merah Putih,” ujar Prabowo.

Pertemuan dua kontestan pada Pilpres 2019 itu direspons positif sejumlah kalangan. Ketua DPP Partai Golkar Bidang Media dan Penggalangan Opini, Ace Hasan Syadzily, misalnya. Dia menilai, pertemuan Prabowo dan Jokowi di MRT, lalu dilanjutkan dengan makan siang bersama merupakan momen yang sangat penting bagi demokrasi. “Pertemuan ini sesungguhnya dinanti-nantikan rakyat Indonesia," kata Ace melalui pesan singkat, Minggu, 14 Juli 2019.

Dia mengatakan, seharusnya polarisasi masyarakat yang terbelah akibat perbedaan politik Pilpres selesai. Tidak ada lagi cebong dan kampret. “Semua harus mendukung pemerintahan Jokowi-Kiai Ma’ruf ini untuk kemajuan bangsa yang adil dan makmur," katanya.

Respons senada disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla. JK, sapaan Jusuf Kalla, menilai kebesaran hati Jokowi dan Prabowo untuk bersatu perlu dihargai. Usai pertemuan itu, kondisi politik bangsa pada sekarang ini sudah jauh lebih baik. "Baik pada Sabtu lalu, bertemunya Pak Presiden dengan Pak Prabowo juga mendamaikan politik kehidupan bangsa ini," kata JK di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 15 Juli 2019.

Kecewa

Namun, bagi sebagian pendukung Prabowo, pertemuan itu membuat mereka kecewa. Di antara mereka mengungkapkannya lewat media sosial. “Sy mendukung pak Prabowo, namun ada rasa kecewa mendalam bahkan mungkin sangaaaat kecewa ketika melihat bapak bertemu pak Jokowi di MRT, ya sdhlah sdh brg tentu bapak punya alasan sendir, semoga ada makna di balik moment tsb....,” tulis seorang netizen di Instagram Indonesiaadilmakmur yang dikutip VIVA, Senin, 15 Juli 2019.

Tak hanya itu. Pertemuan tersebut juga tak didukung Persaudaraan Alumni 212. Menurut Juru Bicara PA 212, Novel Bamukmin, pihaknya tak pernah mendukung atau memberikan rekomendasi pertemuan antara Prabowo dengan Jokowi.

Alasannya, PA 212 masih menjaga perasaan umat Islam, terutama  Alumni 212 serta simpatisannya. Novel pun mengaku tak tahu alasan Prabowo mau bertemu dengan Jokowi. Sebab, setelah putusan  sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi , tak ada komunikasi resmi antara ormas dan para ulama. "Saya tidak tahu juga atas dasar apa Prabowo bisa bertemu dengan Jokowi. Apakah Prabowo lebih mendengar orang-orang yang berkhianat pada kami?" ujarnya.

Novel menegaskan, PA 212 sudah tak bersama lagi dengan  mantan calon presiden Prabowo Subianto. Kebersamaan antara mereka berakhir seiring kontestasi Pemilu 2019 usai.

Sejak awal, kata Novel, PA 212 satu komando dengan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. “Kami sejak awal satu komando dengan ulama yang istiqomah salah satunya imam besar kami HRS, bukan tokoh atau figur partai mana pun," katanya.

Nama Habib Rizieq sempat disebut-sebut sebagai salah satu syarat rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo. Saat ini, Habib Rizieq masih berada di Arab Saudi.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung menegaskan, dalam pertemuan itu, Jokowi dan Prabowo sama sekali tidak membahas masalah Habib Rizieq. "Enggak ada pembahasan itu sama sekali,” ujarnya, Sabtu, 13 Juli 2019.

Dengan bertemunya dua tokoh ini, Pramono berharap, akan secara perlahan menyejukkan di kalangan akar rumput. Pramono menyebutkan, pertemuan Prabowo dan Jokowi akan kembali terjadi dan bukan hanya sekali ini.

Politikus Partai Gerindra, Andre Rosiade menegaskan, pertemuan Jokowi-Prabowo tidak diikuti kesepakatan-kesepakatan politik  tertentu, seperti penentuan menteri-menteri dalam kabinet. "Kemarin itu pertemuan kebangsaan, dua negarawan bertemu dalam rangka menurunkan tensi dan polarisasi agar Indonesia guyub kembali,"  katanya seperti dilansir BBC Indonesia, Senin, 15 Juli 2019.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Arief Poyuono meminta barisan pendukung Prabowo  untuk berpikir ke depan demi kepentingan Indonesia. “Silaturahmi Kang Mas Joko Widodo dan Mas Bowo itu untuk kebaikan bangsa dan negara. Bijaklah dalam menilai pertemuan kedua tokoh ini," ujarnya.

Arief mengungkapkan, pihak internal Gerindra solid satu suara mendukung pertemuan Jokowi-Prabowo. Ia membantah ada perpecahan internal Gerindra karena muncul suara yang tak setuju Prabowo bertemu dengan Jokowi.

"Sangat solid sekali, dan pertemuan ini didukung sepenuh oleh kader Partai Gerindra hingga akar rumput ya. Karena mereka sangat mengerti tentang keputusan yang diambil partai dan Prabowo," ujarnya. [mus]
 

Topik Terkait
Saksikan Juga
Gerindra Tergoda Istana?
TVONE NEWS - sekitar 1 bulan lalu