Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Rabu, 17 Juli 2019 | 06:54 WIB

Dirundung Gempa Bumi Beruntun, Ada Apa?

Team VIVA »
Alika Noor Kholifah
Bobby Andalan (Bali)
Foto :
  • ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Petugas membersihkan puing-puing bangunan gapura gerbang masuk kawasan The Nusa Dua yang runtuh akibat gempa di Badung, Bali, Selasa (16/7/2019).

VIVA – Pagi yang tenang di Pulau Dewata mendadak terusik karena tanah bergetar. Tepatnya kemarin, Selasa, 16 Juli 2019, pukul 07:18:35 WITA, warga di Dusun Wanasari, Jalan Ahmad Yani Selatan Denpasar yang merasakan guncangan berhamburan ke luar rumah. Sejumlah siswa di sekolah pun berlarian meninggalkan ruang kelas karena panik. Bali diguncang gempa.

Tak lama setelah itu, ungkapan simpati mengalir deras dari warganet di media sosial Twitter. Tanda pagar #PrayforBali bergema, disertai harapan dan doa keselamatan bagi Pulau Seribu Pura, dan semua yang terkena dampak gempa. Tak hanya itu, kata kunci BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) pun mengalami kenaikan sehingga masuk jajaran trending pencarian Google.

Baca Juga

Sebagai lembaga yang bertugas mengabarkan – salah satunya – perihal gempa dan cuaca, BMKG bergerak cepat menginformasikan guncangan yang menyapa Bali pagi itu. Selain membuat pengumuman di media sosial resmi, BMKG juga langsung menggelar konferensi pers.

Di akun Facebook Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan informasi awal kekuatan gempa tersebut M=6,0, yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi M=5,8.

Terpopuler

Postingan tersebut juga menjelaskan episenter gempa bumi terletak pada koordinat 9,08 LS dan 114,55 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 80 km arah selatan Kota Negara, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali pada kedalaman 104 km.

Titik episenter berada persis di atas pusat gempa – Wikipedia

Mengutip Wikipedia, episenter adalah titik di permukaan bumi yang berada tepat di atas atau di bawah kejadian lokal yang memengaruhi permukaan bumi. Episenter terletak di atas permukaan bumi, di atas lokasi gempa, berlawanan dengan hiposenter (hiposentrum) yang menjadi pusat gempa dan yang terjadi di dalam bumi.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, tampak bahwa gempa berkedalaman menengah ini diakibatkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempeng Eurasia, tepatnya di zona transisi Megathrust-Benioff," tulis Daryono.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan kombinasi naik dan mendatar (oblique thrust fault)," tambahnya dalam keterangan tertulis.

Hingga pukul 10 pagi itu, setidaknya tercatat ada sembilan gempa susulan, dan menjawab kekhawatiran masyarakat setiap terjadi gempa bumi. BMKG juga menyertakan pengumuman tidak berpotensi tsunami. 

Gempa Beruntun Belakangan Ini

Jika Anda berlangganan notifikasi berita dari VIVA, tentu Anda memerhatikan dalam beberapa hari terakhir push notif (push notification) atau pesan pemberitahuan yang masuk ke ponsel Anda adalah seputar kejadian gempa. (Jika belum berlangganan push notif, Anda hanya tinggal mengklik kotak dialog yang muncul saat mengakses laman VIVA, dan ini gratis).

Sebelum gempa Bali kemarin, gempa dengan intensitas lebih besar, yakni magnitudo 7,2 telah lebih dulu mengguncang Halmahera Selatan, Maluku Utara, pada 14 Juli 2019. Tak seperti di Bali yang mengalami kerusakan ringan pada sejumlah rumah, sekolah, dan tempat ibadah, gempa Halmahera hingga saat ini setidaknya menelan korban tiga orang meninggal, 971 rumah rusak berat, dan ribuan orang mengungsi. 

Daryono mengumumkan di akun Facebook-nya, gempa Halmahera yang terjadi pada pukul 16:10:51 WIB itu terjadi dengan episenter terletak pada koordinat 0,56 LS dan 128,06 BT pada kedalaman 10 km.

"Secara tektonik wilayah Halmahera Selatan termasuk kawasan seismik aktif dan kompleks. Aktif artinya kawasan Halmahera Selatan memang sering terjadi gempa yang tercermin dari peta seismisitas regional dengan klaster aktivitas gempanya cukup padat," terang Daryono di akun Facebook.

"Disebut kompleks karena zona ini terdapat 4 zona seismogenik sumber gempa utama, yaitu Halmahera Thrust, Sesar Sorong-Sula, Sesar Sorong-Maluku, dan Sesar Sorong-Bacan. Adapun ketiga sistem sesar: Sesar Sorong-Sula, Sesar Sorong-Maluku, dan Sesar Sorong-Bacan merupakan “percabangan” atau splay dari Sesar Sorong yang melintas dari timur membelah bagian atas kepala burung di Papua Barat," lanjutnya.

Aktivitas gempa susulan pun terjadi di Halmahera. Setidaknya pada 16 Juli 2019 pukul 08:00 WIT, telah terjadi 93 gempa susulan, dengan magnitudo terkecil M=3,1 dan terbesar M=5,8.

Selain itu, lebih awal lagi pada Minggu, 7 Juli 2019, Ternate Maluku Utara juga diguncang gempa M=7 yang BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami namun kemudian dicabut pada Senin dini hari. Atau jika dirunut lagi, catatan gempa di wilayah Nusantara ini akan lebih panjang, baik yang skala kecil maupun besar.

Dengan adanya gempa besar di Ternate, kemudian Halmahera, beserta gempa susulan yang berulang kali, lalu di Bali yang juga memiliki intensitas kuat, kemudian menyisakan pertanyaan besar mengapa gempa seolah-olah bersahut-sahutan atau terjadi secara beruntun? Apakah kejadiannya saling berkaitan? Dan setelah itu daerah mana lagi yang kena giliran gempa?

Pihak yang kredibel dan kompeten untuk menjelaskan semua pertanyaan tersebut tentu saja BMKG, dan VIVA telah terhubung dengan Daryono. Sebelumnya, perlu kita pahami bahwa apa pun yang terjadi, selalu kedepankan sikap tenang dan jangan terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Menurut Daryono, gempa bersahut-sahutan itu memang karena sumber gempa di wilayah kita ini banyak. "Kita ini kan punya enam zona tumbukan lempeng. Enam zona tumbukan lempeng itu kalau dirinci menjadi 16 zona megathrust, megathrust itu sumber gempa yang memiliki potensi gempa besar, tapi kapan terjadinya enggak ada yang tahu," ujar Daryono dalam sambungan telepon dengan VIVA, Selasa, 16 Juli 2019.  

Zona megathrust, dijelaskan Daryono, merupakan zona penunjaman lempeng yang dangkal sehingga bisa terjadi gempa kuat dan itu bisa berpotensi tsunami. 

"Enam tumbukan lempeng dirinci menjadi 16 zona megathrust, kita juga masih memiliki 295 sesar aktif yang baru dapat dikenali. Yang belum dikenali masih banyak sehingga kadang ada gempa yang enggak ada sesarnya, itu berarti belum dikenali," ujarnya.

Dengan adanya 16 zona megathrust, kemudian 295 sesar aktif, menurut Daryono, artinya Indonesia memiliki begitu banyak sumber gempa. Masing-masing sumber gempa memiliki medan tegangan sendiri, atau bisa juga disebut akumulasi energi.

"Nah, kalau sudah akumulasi, suatu saat batuan itu tidak mampu menahan tegangan itu akhirnya terpatahkan sehingga menjadi gempa. Karena banyak sumber gempa yang masing-masing memiliki medan tegangan sendiri-sendiri, kemudian lepasnya juga sendiri-sendiri, enggak janjian. Jadi yang sana patah yang sini patah karena sudah masanya," jelas alumni Universitas Gadjah Mada ini.

Pada intinya, apa yang Daryono sampaikan adalah tidak ada keterkaitan antara gempa di satu wilayah dengan wilayah lain, meski terjadinya bersamaan. Pemahaman tentang hal ini kembali lagi pada narasi utama bahwa Indonesia memiliki banyak sekali sumber gempa, termasuk sesar yang belum diketahui. Dan, baik Ternate, Halmahera, kemudian Bali, mereka tidak janjian untuk sama-sama melahirkan gempa yang mengagetkan penghuninya. 

"Jadi kalau ada gempa yang kejadiannya berdekatan lokasinya, atau hampir berdekatan waktunya, itu kebetulan saja. Bukan berarti saling merambat saling picu, tidak begitu. Jadi tidak ada sesuatu yang merambat ke sana kemari," terang Daryono yang juga aktif di Instagram dan Twitter.

Daryono tak lupa berpesan agar masyarakat tidak mudah terpedaya dengan adanya informasi yang menyebut akan terjadi gempa. Karena pada prinsipnya BMKG memang memprediksi potensi gempa yang timbul karena patahan atau pergerakan sesar, namun tidak dapat mengetahui kapan itu terjadi.

"(BMKG) Kalau posisi tahu, tapi kapan terjadinya tidak tahu. Jadi, itu berita bohong kalau sampai ada kejadian nanti malam akan gempa 7,0, besok tanggal sekian, itu bohong semua. Hoax itu. Karena belum ada teknologi yang bisa memprediksi dengan tepat gempa," ujarnya. 

Ikan terdampar tanda gempa Bali?

Viral di internet video yang menyebut ribuan ikan terdampar di Pantai Canggu, Bali. Video itu bermula dari akun Twitter @tohir2349 yang mengaitkannya dengan kejadian gempa pada Selasa pagi, 16 Juli 2019.

Sekretaris BPBD Kota Denpasar, Ardi Ganggas, hingga artikel ini ditulis, masih belum dapat memastikan benar atau tidaknya kejadian yang terekam video itu. Pihaknya mengaku dalam proses pengecekan. 

Saat VIVA bertanya tanggapan Daryono mengenai video peristiwa ikan terdampar tersebut, ia justru bertanya balik. "Memangnya itu benar, ya, bukan hoax?" 

Daryono lantas mengemukakan penjelasan lain, bahwa ia sudah banyak mendengar hal-hal semacam itu. Namun sebagai orang yang berkecimpung di bidang gempa bumi, ia memilih skeptis alias tidak mudah percaya terhadap hal-hal yang tak dapat dibuktikan secara empiris kebenarannya.

"Masalah ikan itu, kejadian yang kayak gitu itu udah banyak. Jadi memang yang konon katanya ada ikan laut dalam yang di Jepang, kemudian katanya ada ikan ini itu, itu juga kebetulan saja. Jadi saya sebagai orang yang menekuni gempa bumi, ya skeptis melihat seperti itu. Tidak mudah percaya, karena bisa jadi ikan itu kan ada faktor-faktor lain, seperti faktor alam, lingkungan," jelasnya.

Di era informasi yang serba cepat, ketika konten apa pun bisa beredar secara leluasa melalui internet, sikap skeptis seperti Daryono tak ada salahnya menjadi benteng pertahanan kita. Tidak mudah percaya, tidak menelan suatu informasi mentah-mentah, adalah bentuk kehati-hatian terhadap jerat kebohongan yang saat ini marak digulirkan di dunia maya.

Tak hanya soal video ikan terdampar ini, tapi juga semua informasi, termasuk peringatan bencana gempa bumi, tsunami, dan segala yang berkaitan dengannya. Pastikan tidak ada ruang bagi sindikat penyebar hoax untuk menjadikan kita korban, dengan memiliki pola pikir kritis, mengedepankan bukti empiris dan berpedoman pada cara-cara ilmiah. 

Seperti kata Daryono, "Fenomena awan gempa, ikan muncul, ikan mati terdampar, purnama menyebabkan gempa, saya melihatnya sebagai sebuah spekulasi, jadi enggak pernah percaya seperti itu karena bukti empirisnya tidak ada." (ase)

Topik Terkait