Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Riwayat Panjang Konflik Berdarah Mesuji

Jumat, 19 Juli 2019 | 06:12 WIB
Foto :
  • VIVA/ Ardian.
Bentrok warga di Mesuji, Lampung, Rabu, 17 Juli 2019.

Masyarakat di daerah itu, memang dikenal kerap berselisih hingga saling serang, lalu jatuh korban jiwa maupun luka-luka. Secara umum, penyebabnya dipicu oleh masalah sengketa lahan. Namun, ada juga yang gara-gara masalah sepele, meski berurat-akar pada perkara perebutan lahan.

Pada 2010, bentrok antarwarga dipicu permasalahan sepele, yaitu sabung ayam. Dua kelompok warga bentrok di Simpang Pematang, Kecamatan Mesuji, Lampung, pada 25 November 2010. Dua warga tewas dan puluhan lainnya terluka parah akibat tawuran dengan batu dan senjata tajam itu.

Baca Juga

2011 - Bentrokan warga dengan aparat pecah di wilayah hutan Register 45, Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji, Lampung, November 2011. Seorang warga tewas akibat tembakan polisi. Ketika itu, warga menyerbu sebuah areal perkebunan kelapa sawit, menyusul perebutan klaim atas lahan dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT BSMI.

2012 - Dua kelompok warga bentrok 19 Juni 2012. Kedua kelompok massa dari Simpang Pematang di Kabupaten Mesuji dan warga Kecamatan Pematang Panggang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Dua orang tewas dan delapan warga lain luka-luka.

Bentrokan terus terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Perselisihan sengketa lahan antarwarga ini, melibatkan senjata tajam dan senjata api, sehingga memakan korban jiwa.

Pada 2017 saja, dua kelompok warga saling serang pada 1 Agustus 2017, menyusul perselisihan perkara pencurian buah kelapa sawit di lahan perkebunan milik PT Prima Alungga di Mesuji. Tiga orang terluka tembak dalam peristiwa itu.

Situasi saat itu sangat mencekam, karena seluruh mess dan perkantoran PT Prima Alungga dibakar oleh massa dan para karyawan dievakuasi.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Komisaris Besar Polisi Asep Adi Saputra mengakui, konflik agraria di Mesuji, memang sudah sering terjadi. Pihaknya akan mendalami dan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan, terkait persoalan pengelolaan lahan tersebut, agar bentrokan tak terulang kembali.

"Kita sedang lakukan pendalaman. Siapa regulasi yang diterapkan dan keputusannya. Yang jelas, institusi atau lembaga yang punya otoritas betul-betul bertanggung jawab dan bisa menegakkan aturan di sana, kemudian mensosialisakan dibantu seluruh pemerintah daerah," katanya. (asp)

Topik Terkait
Saksikan Juga