Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Selasa, 23 Juli 2019 | 07:36 WIB

Bayang-bayang Tsunami 20 Meter

Team VIVA »
Lazuardhi Utama
Amal Nur Ngazis
Foto :
  • ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Warga berjalan di dekat rambu peringatan bencana tsunami.

VIVA – Informasi mengenai adanya potensi gempa megathrust bermagnitudo 8,8 dan disertai tsunami dengan ketinggian mencapai 20 meter di wilayah Selatan Jawa ramai menjadi perbincangan di media sosial sejak pekan lalu. Ancaman serupa ternyata juga dihadapi daerah-daerah lain.

Namun, apa sebenarnya megathrust? Begini, lempeng di Bumi ada beberapa jenis. Dua di antaranya adalah lempeng benua dan lempeng samudera. Lempeng benua lebih tebal daripada lempeng samudera. Karena lebih tipis, lempeng samudera akan masuk ke dalam lempeng benua saat bertabrakan.

Baca Juga

Lempeng samudera yang masuk ke dalam lempeng benua itu bisa menimbulkan getaran kuat, yang disebut dengan gempa megathrust.

Phil Cummins, selaku pimpinan ilmuwan Geoscience Australia dan guru besar bidang Bencana Alam dari Research School Earth Sciences, Universitas Nasional Australia, menyebut beberapa jenis gempa yang masuk kategori megathrust.

Gempa di Aceh pada 2004, gempa di Jepang pada 2011, dan gempa di Chili pada 2012. Ketiga, menurut Cummins, adalah contoh dari gempa megathrust. Potensi-potensi gempa megathrust yang berskala antara 8-9 skala richter (SR) ada di Indonesia, tepatnya di selatan Selat Sunda.

"Namun, untuk memprediksi suatu gempa dan tsunami belum ada teknologinya. Baru sekadar memprediksi potensi-potensi gempa ada di setiap wilayah," kata Cummins.

Jakarta terancam

Ia lalu memberi contoh gempa Tohoku yang terjadi di Jepang pada 2011. Kala itu, para ahli hanya memprediksi kekuatan gempa yang bisa terjadi adalah 8,5 SR. Namun yang terjadi sebenarnya mencapai 9 SR. Itu bisa diartikan kekuatan gempa Bumi sama sekali tidak bisa diprediksi.

Pakar Tsunami Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Widjokongko, mengatakan megathrust berpotensi menciptakan gempa dan tsunami dahsyat.

Sebelumnya, Widjo, membuat pemodelan bencana dengan fokus ke daerah Selatan Jawa dan menemukan gempa bermagnitudo 8,8 dan tsunami dengan tinggi 20 meter berpotensi terjadi di daerah itu.

Ia menekankan, Indonesia memiliki 16 segmen megathrust yang mencakup Pulau Sumatera, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), juga Laut Banda. Maka dari itu, daerah-daerah tersebut juga menghadapi ancaman serupa.

Widjo mengaku bahwa pemodelan itu berdasarkan pada data "Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017", yang disusun oleh Pusat Studi Gempa Nasional Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Pemukiman.

"Biasanya (gempa) terjadi di daerah subduksi atau pertemuan lempeng-lempeng. Kalau di Selatan Jawa, ya, pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang (bergerak) tujuh centimeter per tahun," ujar Widjo.

Ancaman Megathrust ini bukan kali pertama menjadi perbincangan publik. Pada awal Maret 2018, sebuah informasi menyebar ke warga Jakarta. Ibu kota Indonesia ini terancam hancur akibat guncangan gempa besar yang diprediksi bisa mencapai magnitudo hingga 8,7.

Informasi itu mencuat setelah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar diskusi bertema, "Gempa Bumi Megathrust 8,7, Siapkah Jakarta?"

Topik Terkait
Saksikan Juga
BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem
TVONE NEWS - 5 bulan lalu