Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Sabtu, 27 Juli 2019 | 06:18 WIB

Teror Kematian di Balik Tren Lari Maraton

Team VIVA »
Anisa Widiarini
Isra Berlian
Foto :
  • istimewa
Lomba lari (ilustrasi).

VIVA – Beberapa tahun belakangan, olahraga lari menjadi tren di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Mulai jenuhnya masyarakat berolahraga di dalam ruangan dan keinginan untuk berekspresi seluas-luasnya saat berlatih ternyata mampu menggerakkan animo masyarakat untuk berolahraga di luar ruangan.

Lari maraton dinilai memiliki banyak keunggulan. Selain manfaatnya bagi kesehatan dan kebugaran tubuh, lari maraton relatif murah. Jenis olahraga ini juga mudah dan dapat dilakukan di mana saja. 

Baca Juga

Di sisi lain, maraton juga mampu memperluas jaringan pertemanan dengan bermunculannya berbagai komunitas maraton. Ditambah lagi sekarang banyak selebriti juga gencar mempromosikan gerakan lari maraton lewat akun media sosialnya. Sebut saja Dian Sastro Wardoyo, mantan Putri Indonesia 2002 Melanie Putri, Wulan Guritno, Chicco Jerikho, Hesti Purwadinata, hingga aktris senior Lia Waroka.

Saking populernya, tren ini juga dilirik kalangan pebisnis. Banyak brand dan instansi tertentu menggelar dan mensponsori berbagai event lomba. Belakangan bahkan tren ini mulai berkembang lebih kreatif. Penyelenggara mengadakan bentuk lomba yang baru, misalnya Vertical Run, Color Run, Mountain Run, dan lainnya. Hal itu tentu saja memanjakan masyarakat penggemar lari maraton.

Kania (30) salah satu pelari yang hobi mengikuti ajang lari maraton. Karyawan bank swasta ini mengaku sengaja mengikuti berbagai acara yang digelar.

"Dapet aja tuh, biasanya infonya dari komunitas lari, ya temen-temen kantor juga," ujarnya dihubungi VIVA lewat pesan singkat Jumat, 26 Juli 2019.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa setiap bulan ia selalu berkesempatan ikut lomba lari yang diselenggarakan berbagai acara.

"Satu bulan bisa paling banyak 3 acara, kan biasanya weekend," ujarnya.

Ada banyak macam olahraga maraton. Dilansir laman marathon hand book, ada 5 jenis maraton yang paling sering digelar, yaitu 5K, 10K, Half Marathon, Full Marathon, dan Ultra Marathon.

Yang membedakan kelima jenis maraton ini adalah jarak tempuhnya. 5K biasanya dilakukan oleh pemula dengan jarak tempuh 5km. Untuk jenis 10K dilakukan dengan jarak tempuh 10km, Half Marathon dengan jarak tempuh 20km, Full Marathon dengan jarak 42km, sedangkan Ultra Marathon untuk jarak 50-200km.

Bisa disimpulkan bahwa jarak kelima jenis maraton tersebut bukanlah diperuntukkan bagi orang awam. Apalagi ternyata penyelenggaraan lomba maraton tidak bisa sembarangan.

Sekretaris Jenderal Persatuan Seluruh Atletik Seluruh Indonesia (PASI), Tigor Tanjung, mengatakan semua jenis lomba atletik harus melalui izin Federasi Atletik Internasional (IAF).

"Sekarang banyak lomba-lomba, tetapi kita kan cuma kenal lomba yang diakui oleh IAF. Ada lomba yang dapat supervisi dari PASI, dan ada yang tidak," tuturnya, saat dihubungi VIVAnews beberapa waktu lalu.

Menurut Tigor, pihaknya memang melakukan supervisi untuk beberapa ajang lomba lari. Namun, panitia pelaksana harus tunduk pada peraturan yang sudah ditetapkan oleh PASI dengan acuan regulasi IAF, sehingga kegiatan lomba maraton yang tidak sesuai bisa dipastikan sangat berisiko.

Menyehatkan tapi juga berbahaya

Risiko soal lari maraton juga dibenarkan dr Michael Triangto, SpKO spesialis kedokteran olahraga dari RS Mitra Kemayoran dan Klinik Slim n Health Jakarta. Dari sudut pandang kedokteran dirinya menilai bahwa segala kegiatan olahraga pada dasarnya memiliki dampak positif untuk kesehatan dan kebugaran tubuh. Namun di sisi lain, lari maraton jika dilakukan dengan cara yang tidak tepat akan menimbulkan dampak negatif.

"Peningkatan minat masyarakat dalam berolahraga lari ini merupakan kabar baik, meningkatnya taraf kesehatan masyarakat, sehingga itu dapat mengurangi terjadinya penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes melitus, hipertensi, kolesterol, darah tinggi dan penyakit," ujarnya kepada VIVA beberapa waktu lalu.

Ditambahkan oleh dr Michael, bahkan dalam catatan sejarah olahraga maraton yang berawal dari Pheidippides, seorang prajurit Yunani yang berlari sejauh 42.195 km ke Athena untuk memberitahukan kemenangan perang di Maraton yang berakhir dengan kematiannya. 

Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpapar Corona, Ini Data Tenaga Medis Meninggal Dunia
TVONE NEWS - 3 bulan lalu