Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Insight

Informasi

Menggapai Haji Mabrur 

Minggu, 11 Agustus 2019 | 06:10 WIB
Foto :
  • Beno J/VIVA.co.id
Jemaah haji RI jelang khotbah wukuf di Arafah

Wukuf di Arafah

Baca Juga

Syairi bersama jutaan jemaah haji dari berbagai penjuru dunia, hari Jumat, 8 Zulhijah 1440 H/ 9 Agustus 2019, bersiap untuk diberangkatkan menuju Arafah. Di padang pasir berbatu itu, jutaan umat muslim melaksanakan wukuf pada tanggal 9 Zulhijah.

"Al Hajj Arafah.." begitu bunyi sabda Nabi Muhammad SAW. Arafah memiliki makna penting dalam prosesi ibadah haji, karena wukuf di padang luas yang terletak di sebelah timur luar Kota Mekah ini merupakan rukun haji.

Wukuf secara harfiah dimaknai berhenti atau berdiam diri di Padang Arafah. Waktunya sesuai syariat hukum Islam, yakni dari mulai tergelincirnya matahari 9 Zulhijah sampai dengan terbenamnya matahari pada tanggal 10 Zulhijah.

Dalam rangkaian ibadah haji, wukuf di padang Arafah merupakan ritual paling penting yang wajib dilakukan oleh setiap jemaah haji sebagai puncak ibadah haji. Tidak sah hajinya bila tidak wukuf di Arafah. 

Tak heran, jemaah haji mengupayakan berbagai cara, sekalipun sakit, harus di safari-wukufkan, bahkan apabila ia meninggal dunia sebelum sempat melaksanakan wukuf di Arafah ini, maka akan dibadal-hajikan.

"Haji itu intinya wukuf di Arafah, barang siapa yang menjumpai wukuf di Arafah, maka ia menjumpai haji" begitu bunyi sabda Nabi Muhammad SAW.

Ada berbagai pendapat ulama tentang wukuf di Arafah. Ada yang beranggapan wukuf di Arafah itu sah walau hanya sesaat saja. Tapi ada yang berpendapat bahwa wukuf itu harus menggabungkan siang dan malam, artinya dari mulai tergelincir sampai terbenam matahari.

Jemaah haji berada di Jabal Rahmah, di Padang Arafah

Prof Dr Quraish Shihab dalam artikelnya tentang wukuf di Arafah, mengatakan dari segi pandangan hukum Islam, siapa yang berhenti walau sejenak di Padang Arafah setelah tergelincirnya matahari 9 Zulhijjah, maka wukufnya dapat dinilai shahih (sah hajinya).

Walau yang dituntut oleh hukum Islam sebenarnya, demi kesempurnaan wukuf adalah keberadaannya di Arafah dari tergelincir matahari hingga matahari terbenam. Tapi dengan hanya sesaat berada di Arafah bukan berarti tidak berkualitas. 

"Mengapa walau sesaat, karena sesaat atau sedikit dapat menghasilkan atau mengakibatkan banyak dan langgeng, jika itu diberkati atau dikehendaki Allah," tulis Quraish Shihab dalam artikelnya.

Dengan kata lain, wukuf telah sah walau sejenak, karena sejenak pada saat datangnya anugerah Allah itu, bila dimanfaatkan dengan baik, sudah cukup untuk mengubah hidup menjadi jauh lebih baik.

Karena di padang Arafah itulah, Allah menyiapkan situasi dan kondisi dari sebuah kejadian besar yang akan dialami oleh seluruh umat manusia setelah dibangkitkan dari kematian pada hari kiamat nanti, yakni dikumpulkan di padang Mahsyar.

Semua amal ibadah umat manusia selama di dunia akan dipertanggungjawabkan. Wukuf di padang Arafah merupakan refleksi manusia akan hari kebangkitan itu. 

"Maka manfaatkan waktu wukuf itu untuk berdoa, merenung, muhasabah diri. Karena di situ waktu yang paling mustajab kita berdoa, memasrahkan diri, muhasabah menjadi pribadi yang lebih baik," kata Konsultan Ibadah PPIH Mekah, KH Masrur Ainun Najih.

Di luar ritual normal jemaah haji wukuf di Arafah, ada sebagian jemaah yang karena keterbatasan fisik, pertimbangan kondisi kesehatan, atau yang meninggal dunia, maka mereka akan disafariwukufkan atau dibadahlhajikan.

Dalam hal ini, panitia haji telah menyiapkan sejumlah petugas haji yang akan membadalhajikan jemaah yang meninggal dunia atau sakit kronis, serta mengupayakan transportasi khusus untuk mengangkut jemaah haji sakit agar bisa disafariwukufkan di Arafah pada 9 Zulhijjah.

"Dalam keadaan bagaimanapun seseorang sudah berada di Arafah, sudah dianggap cukup. Baik dengan berdiri, duduk, berkendara, disafarikan, tidur atau jaga, bahkan tahu atau tidak tahu jika ini Arafah, semuanya tetap sah (hajinya)," kata Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Denanyar, Jombang, KH Ahmad Wazir kepada tim MCH.

Topik Terkait
Saksikan Juga