Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Insight

Informasi

Menggapai Haji Mabrur 

Minggu, 11 Agustus 2019 | 06:10 WIB
Foto :
  • Beno J/VIVA.co.id
Jemaah haji RI jelang khotbah wukuf di Arafah

Kesalehan Sosial

Baca Juga

Ibadah haji tak semata ritual fisik, pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lain, berdiam diri dan berdoa. Lebih dari itu, proses ibadah haji yang tengah dilakukan umat Islam dari penjuru dunia ini punya makna luhur sebagai refleksi kepasrahan Nabi Ibrahim dan keluarganya, atas perintah Allah.

Ketika Nabi Ibrahim diperintah Allah melalui mimpi untuk menyembelih Ismail, anak semata wayangnya dari istrinya Siti Hajar. Saat perjalanan Ibrahim dan keluarganya dari Mekah menuju Arafah. Mimpi itu datang berturut-turut selama tiga malam, yaitu saat di Mina, dan dua malam di Arafah.

Sempat ragu akan mimpi tersebut, di Arafah itulah Nabi Ibrahim melakukan perenungan (wukuf) sambil memohon petunjuk Allah. Beliau berkontemplasi, berzikir, dan berdoa sepanjang siang hari (9 Zulhijah) hingga menjelang matahari tenggelam (masuk 10 Zulhijah).

Di Arafah itulah Nabi Ibrahim mendapat keyakinan bahwa perintah menyembelih Ismail adalah perintah Allah dan ujian bagi kesabaran Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Pada 10 Zulhijah, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah dengan menyembelih Ismail, yang kemudian atas kuasa Allah, digantinya Ismail dengan seekor domba gibas.

Tanggal 10 Dzulhijah itulah yang kemudian dikenal sebagai Hari Nahar alias Hari Berkorban. Pada hari ini, umat Islam disyariatkan menyembelih hewan kurban, sebagai gambaran dari kepasrahan dan kesalehan Ibrahim atas perintah Allah.

Sekelumit kisah Nabi Ibrahim itu menjadi bagian penting dari perjalanan ibadah haji. Tentu, tujuannya bukan mencari titel 'haji' tapi menjadikan manusia mabrur, saleh secara individu dan sosial. 

Wakil Amirul Hajj, M Busyro Muqoddas mengajak para jemaah haji untuk memantapkan niat dalam melaksanakan proses ibadah haji sesuai dengan syariat tuntunan agama. Dengan begitu, jemaah bisa melakukan semua proses ibadah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. 

Di samping esensi haji secara personal yakni menjadi mabrur individual, Ketua PP Muhammadiyah itu mengajak jemaah juga bisa menjadi haji mabrur secara sosial kemasyarakatan, yang bisa dikembangkan baik dalam aspek kesehatan, politik, ekonomi yang ramah yang jujur berdasarkan prinsip-prinsip kemanusiaan. 

"Nah, itu pengertian-pengertian mabrur secara sosial itu menjadi sangat penting, ketika Indonesia sedang butuh ketulusan-ketulusan, keikhlasan-keikhlasan sosial, kejujuran sosial yang bisa dikembangkan oleh jemaah haji," kata Busyro Muqoddas di Mekah.

Menurutnya, ketika 231.000 jemaah haji bisa mengembangkan kemabruran hajinya pada aspek yang lebih luas, secara sosial, hukum dan ekonomi, dampaknya akan sangat positif. "Bayangkan saja dampaknya kalau jemaah haji setiap tahun 231.000 bisa mengembangkan mabrur secara sosial secara hukum secara ekonomi," ujarnya.

KH Ahmad Wazir, Konsultan Ibadah PPIH Mekah yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Denayar, Jombang, mengatakan ibadah haji dan umrah, termasuk ibadah yang agung dan mulia. Keduanya bisa punya dampak yang sangat jelas dalam mereformasi aspek hati seorang hamba.

Ibadah haji mampu menginternalisasi diri, berupa perasaan Tauhidullah (mengesakan Allah), menyadari betapa kebesaran Allah, yan pada akhirnya akan mencintai-Nya (mahabbah) dan  merindukan Allah. 

"Sehingga dalam kehidupan kita sehari-hari, tentunya harus tunduk, pasrah, penuh kesabaran serta tawakkal dalam perjalanan akhirat kita (suluk), kesemuanya itu telah disimbolisasikan dalam ritual haji," kata Kiai Wazir.

Melalui haji, Allah memerintahkan para tamu-tamunya (dhuyufurrahman) untuk mempersiapkan bekal. Menurut Kiai Wazir, para sufi mengartikulasikan bekal disini menjadi dua. Materi dan spiritual.

Bekal material tergambar dalam bekal fisik seperti BPIH, harta benda dan keperluan zahir bagi jemaah dan keluarga yang ditinggalkan. Sedangkan bekal spiritual adalah takwa. Sesuatu yang menyebabkan hajinya diterima Allah, dan terampuni dosa-dosa bagaikan bayi yang baru lahir dari rahim ibu.

"Inilah inti spiritualitas haji yang bisa menghantarkan kemabruran kita, dan sekaligus pahala berlipat kita. Alhajjul mabrur laisa lahu jaza' illa aljannah (Tidak ada balasan bagi mereka yang hajinya mabrur, kecuali dimasukan ke dalam surga)." [mus] 

Topik Terkait
Saksikan Juga