Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Sabtu, 27 Oktober 2018 | 08:44 WIB

Santri dalam Pusaran Politik

Team VIVA »
Endah Lismartini
Agus Rahmat
Rifki Arsilan
Anwar Sadat
Eduward Ambarita
Foto :
  • ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
Peringatan Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober

VIVA – "Jangan sampai antarumat saling mencela, jangan sampai sesama Muslim saling menjelekkan, tidak pernah dalam ajaran agama Islam diperbolehkan melakukan fitnah dan mencela." 

Kalimat itu disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada malam puncak peringatan Hari Santri Nasional 2018. Mengenakan jas abu-abu, sarung, dan kopiah, rahang Presiden RI tersebut terlihat mengeras ketika mengucapkan kalimat tersebut.

Baca Juga

Sambil sesekali melihat ke kertas pidato, binar mata Joko Widodo terlihat kuat dan hidup ketika meminta agar sesama Muslim tak saling mencela dan menjelekkan. Di hadapan sekitar 10 ribu santri yang memenuhi Lapangan Gasibu, Bandung, Jawa Barat, 22 Oktober 2018, Presiden RI meminta seluruh santri menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Terpopuler

Presiden Joko Widodo dalam peringatan Hari Santri di Bandung

Meski pesantren dan santri sudah ada sejak sebelum kemerdekaan, tapi peringatan Hari Santri Nasional baru disahkan pada 2015 lalu. Presiden Jokowi tak asal mengesahkan Hari Santri Nasional. Ia menilik sejarah peran penting santri dalam mewujudkan kemerdekaan dan kedaulatan negeri ini.

Suatu hari di bulan Oktober tahun 1945 rencana kedatangan tentara sekutu ke Surabaya terdengar Presiden Soekarno. Presiden RI pertama itu luar biasa gundah, jumlah sekutu yang besar dengan peralatan yang lebih canggih, akan membuat posisi sangat tidak seimbang.

Kemerdekaan yang baru berusia dua bulan terancam hilang dari genggaman jika Sekutu berhasil kembali menguasai Republik Indonesia. Soekarno lalu mengirim utusan ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, menemui Rais Akbar Syuriah Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari. Ia meminta fatwa jihad untuk membela negara. 

Permintaan Soekarno ditanggapi serius oleh KH. Hasyim Asy’ari. Tanggal 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari dan sejumlah ulama lainnya mengeluarkan Revolusi Jihad. Isinya, setiap Muslim wajib memerangi orang kafir yang bertujuan menghalangi kemerdekaan Indonesia. Dan mereka yang gugur saat berperang membela Indonesia dianggap syuhada, dan warga yang memihak Belanda dianggap pemecah belah persatuan, mereka layak dihukum mati.

Fatwa itu efektif. Ribuan santri dari berbagai pondok pesantren datang ke Surabaya. Mereka berjuang, berjihad melawan tentara Sekutu. Perang ini juga mempopulerkan nama Bung Tomo, yang dengan seruannya berhasil membakar semangat santri untuk berjihad melawan tentara Sekutu. Perang berkobar selama lebih dari dua minggu. Santri menang, dan tentara Sekutu berhasil diusir dari Surabaya. Kemerdekaan Indonesia terjaga, dan negeri ini tenteram hingga hari ini. 

Bung Tomo

Puluhan tahun berlalu. Pada 22 Oktober 2015, bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1437 Hijriah, untuk mengenang peran besar pesantren, santri, dan para kiai, Presiden Joko Widodo meresmikan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Melalui Keputusan Presiden RI Nomor 22 Tahun 2015, ketetapan itu disampaikan. Tahun ini adalah tahun ketiga peringatan Hari Santri Nasional. Secara khusus, setiap tahun pemerintah melakukan peringatan untuk mengenang jasa santri dan meneguhkan santri sebagai bagian dari jati diri bangsa ini.

Namun menjelang Pemilu, frasa 'santri' seperti tak lagi sakral. Frasa 'santri' yang lekat dengan pesantren mendadak ditafsirkan berbeda. Adalah Partai Keadilan Sosial alias PKS yang membuat bingung ketika tiba-tiba mereka menyematkan 'santri' untuk Sandiaga S.Uno, Cawapres Prabowo Subianto. Pasangan ini adalah capres-cawapres yang didukung oleh PKS. Presiden PKS Sohibul Iman, dalam sambutannya saat deklarasi Prabowo-Sandiaga Uno sebagai calon presiden dan wakil presiden, menyebut mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu sebagai santri post-Islamisme, santri modern, hingga santri abad milenial. 

Menurut Sohibul Iman, Sandiaga adalah sosok yang berpegang teguh pada ajaran Islam, dan kini menjadi sosok yang saleh.  "Dari sisi capaian materi, dia sudah menyundul langit. Kemudian, dia ada kerinduan spritual, akhirnya dia belajar Islam dan dia kini menjadi sosok yang saleh salatnya, rajin puasanya, rajin kerja keras. Jadi, dia menjadi sosok walaupun tampilannya stylish, milenial tetapi dia berpegang teguh ajaran Islam," kata Sohibul Iman di KPU, Jumat 10 Agustus 2018. Dengan alasan itulah Sohibul Iman merasa Sandi layak disebut santri.

Siapakah Santri?

VIVA – "Jangan sampai antarumat saling mencela, jangan sampai sesama Muslim saling menjelekkan, tidak pernah dalam ajaran agama Islam diperbolehkan melakukan fitnah dan mencela." 

Kalimat itu disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada malam puncak peringatan Hari Santri Nasional 2018. Mengenakan jas abu-abu, sarung, dan kopiah, rahang Presiden RI tersebut terlihat mengeras ketika mengucapkan kalimat tersebut.

Sambil sesekali melihat ke kertas pidato, binar mata Joko Widodo terlihat kuat dan hidup ketika meminta agar sesama Muslim tak saling mencela dan menjelekkan. Di hadapan sekitar 10 ribu santri yang memenuhi Lapangan Gasibu, Bandung, Jawa Barat, 22 Oktober 2018, Presiden RI meminta seluruh santri menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Presiden Joko Widodo dalam peringatan Hari Santri di Bandung

Meski pesantren dan santri sudah ada sejak sebelum kemerdekaan, tapi peringatan Hari Santri Nasional baru disahkan pada 2015 lalu. Presiden Jokowi tak asal mengesahkan Hari Santri Nasional. Ia menilik sejarah peran penting santri dalam mewujudkan kemerdekaan dan kedaulatan negeri ini.

Suatu hari di bulan Oktober tahun 1945 rencana kedatangan tentara sekutu ke Surabaya terdengar Presiden Soekarno. Presiden RI pertama itu luar biasa gundah, jumlah sekutu yang besar dengan peralatan yang lebih canggih, akan membuat posisi sangat tidak seimbang.

Kemerdekaan yang baru berusia dua bulan terancam hilang dari genggaman jika Sekutu berhasil kembali menguasai Republik Indonesia. Soekarno lalu mengirim utusan ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, menemui Rais Akbar Syuriah Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari. Ia meminta fatwa jihad untuk membela negara. 

Permintaan Soekarno ditanggapi serius oleh KH. Hasyim Asy’ari. Tanggal 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari dan sejumlah ulama lainnya mengeluarkan Revolusi Jihad. Isinya, setiap Muslim wajib memerangi orang kafir yang bertujuan menghalangi kemerdekaan Indonesia. Dan mereka yang gugur saat berperang membela Indonesia dianggap syuhada, dan warga yang memihak Belanda dianggap pemecah belah persatuan, mereka layak dihukum mati.

Fatwa itu efektif. Ribuan santri dari berbagai pondok pesantren datang ke Surabaya. Mereka berjuang, berjihad melawan tentara Sekutu. Perang ini juga mempopulerkan nama Bung Tomo, yang dengan seruannya berhasil membakar semangat santri untuk berjihad melawan tentara Sekutu. Perang berkobar selama lebih dari dua minggu. Santri menang, dan tentara Sekutu berhasil diusir dari Surabaya. Kemerdekaan Indonesia terjaga, dan negeri ini tenteram hingga hari ini. 

Bung Tomo

Puluhan tahun berlalu. Pada 22 Oktober 2015, bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1437 Hijriah, untuk mengenang peran besar pesantren, santri, dan para kiai, Presiden Joko Widodo meresmikan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Melalui Keputusan Presiden RI Nomor 22 Tahun 2015, ketetapan itu disampaikan. Tahun ini adalah tahun ketiga peringatan Hari Santri Nasional. Secara khusus, setiap tahun pemerintah melakukan peringatan untuk mengenang jasa santri dan meneguhkan santri sebagai bagian dari jati diri bangsa ini.

Namun menjelang Pemilu, frasa 'santri' seperti tak lagi sakral. Frasa 'santri' yang lekat dengan pesantren mendadak ditafsirkan berbeda. Adalah Partai Keadilan Sosial alias PKS yang membuat bingung ketika tiba-tiba mereka menyematkan 'santri' untuk Sandiaga S.Uno, Cawapres Prabowo Subianto. Pasangan ini adalah capres-cawapres yang didukung oleh PKS. Presiden PKS Sohibul Iman, dalam sambutannya saat deklarasi Prabowo-Sandiaga Uno sebagai calon presiden dan wakil presiden, menyebut mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu sebagai santri post-Islamisme, santri modern, hingga santri abad milenial. 

Menurut Sohibul Iman, Sandiaga adalah sosok yang berpegang teguh pada ajaran Islam, dan kini menjadi sosok yang saleh.  "Dari sisi capaian materi, dia sudah menyundul langit. Kemudian, dia ada kerinduan spritual, akhirnya dia belajar Islam dan dia kini menjadi sosok yang saleh salatnya, rajin puasanya, rajin kerja keras. Jadi, dia menjadi sosok walaupun tampilannya stylish, milenial tetapi dia berpegang teguh ajaran Islam," kata Sohibul Iman di KPU, Jumat 10 Agustus 2018. Dengan alasan itulah Sohibul Iman merasa Sandi layak disebut santri.

Siapakah Santri?

Presiden PKS Sohibul Iman mungkin punya definisi sendiri soal santri yang ia sematkan pada sosok Sandiaga Uno yang kini menjadi gacoan mereka untuk memenangkan pertarungan Pilpres 2019. Tapi benarkah definisi santri yang selama ini dikenal publik adalah seperti yang diberikan Sohibul Iman kepada Sandiaga Uno?

Sejarawan dari Universitas Islam Nasional Syarif Hidayatullah Jakarta Johan Wahyudi membantah penjelasan Sohibul Iman. Ia mengatakan, terminologi santri bukan gelar. Itu adalah sematan untuk mereka yang menuntut ilmu di pesantren.

"Santri adalah seorang pelajar yang belajar agama di pesantren, langgar, surau, dayah, rangkang atau tempat pendidikan Islam tradisional. Baik yang bermukim maupun yang tidak. Namun di era kekinian, terminologi santri lebih dekat pada pelajar agama yang bermukim di pesantren atau lembaga tradisional lain yang sejenis," ujarnya kepada VIVA.

Aktifivitas santri di pondok pesantren

"Saya kira publik harus berkaca pada sejarah pendidikan Islam nusantara. Yang namanya santri ya yang berhubungan langsung dengan pesantren, baik sebagai murid, kiai atau ustaznya. Bukan yang tiba tiba didaulat dengan gelar santri. Sematan santri bukan gelar tapi lebih pada pengalaman belajar agama di pesantren," ujarnya menambahkan.

Anggota Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa, Maman Imanulhaq juga tak sependapat dengan Sohibul Iman. Menurutnya, tak setiap orang bisa disebut santri, karena santri itu punya beberapa karakteristik yang melekat. Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin mengatakan, salah satu karakteristik santri adalah belajar agama Islam.

"Dia belajar agama Islam, itu yang penting. Kedua, dia masuk di satu komunitas pesantren atau komunitas pengajian. Dan yang ketiga, santri itu identik Islam yang ramah dan toleran," ujarnya.

Menurut Maman, hal terpenting lainnya adalah santri identik dengan nilai-nilai kebangsaan. "Jadi kalau ada orang ngaku santri, tapi dia anti Pancasila atau anti NKRI itu dipertanyakan kesantriannya," ujarnya menambahkan.

Pemberian sebutan santri kepada Sandiaga yang dilakukan oleh PKS ternyata juga tak disetujui oleh rekan seperjuangan mereka. Andrie Rosadie, Wasekjen Partai Gerindra yang juga Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga tersebut menolak ikut menyebut Sandi sebagai santri.

"Saya sendiri bilang dari awal saya tidak mau masuk dalam Bang Sandi itu sebagai santri post-Islamisme. Menurut saya Bang Sandi itu bukan santri. Bang Sandi itu seorang muslim yang taat, gitu lho. Itu menurut saya ya," ujarnya. Ia tetap berpegang bahwa santri adalah mereka yang belajar agama di pondok pesantren.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, santri didefiniskan sebagai orang yang mendalami agama Islam, atau orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh. Ulama terkenal KH. Mustofa Bisri memiliki definisi khusus tentang santri. Dikutip dari NU online, 22 Oktober 2018, kiai yang lebih terkenal dengan panggilan Gus Mus ini mengatakan, santri adalah murid kiai yang dididik dengan kasih sayang untuk menjadi mukmin yang kuat (yang tidak goyah imannya oleh pergaulan, kepentingan, dan adanya perbedaan). Selain itu, santri menurut Gus Mus adalah kelompok yang mencintai negaranya, mencintai tanah airnya (tempat dia dilahirkan, menghirup udaranya, dan bersujud di atasnya), sekaligus menghormati guru dan orangtuanya kendati keduanya telah tiada. 

Seorang santri, lanjut Gus Mus, adalah kelompok orang yang memiliki kasih sayang pada sesama manusia dan pandai bersyukur. "Yang menyayangi sesama hamba Allah; yang mencintai ilmu dan tidak pernah berhenti belajar (minal mahdi ilãl lahdi); Yang menganggap agama sebagai anugerah dan sebagai wasilah mendapat ridha tuhannya. Santri ialah hamba yang bersyukur," ujarnya. 

Santri sedang belajar Kitab Kuning

Peran santri yang disampaikan Gus Mus juga dibenarkan Johan Wahyudi. Ia mengatakan, sejak dulu santri punya peran bela negara. "Para santri melakukan pengabdian pada negara di bidang bela negara (berperang) dan pendidikan agama. Jangan salah, pesantren di masa lalu bukan hanya mengajarkan ilmu agama namun juga beragam ilmu kebijaksanaan lain seperti filosofi pewayangan, keahlian menyusun kidung Jawa, bahkan keahlian bercocok tanam," ujarnya. 

Berebut Santri 

Dari perspektif politik, jumlah umat Islam yang mayoritas di Indonesia jelas tak bisa diabaikan untuk memenangkan Pemilu. Itu sebabnya, pesantren dan santri, yang menjadi basis Muslim, masih menjadi bidikan utama siapapun yang ikut dalam kontestasi politik. 

Saat ini jelas kentara bagaimana bandul perpolitikan mulai melibatkan santri dan pesantren secara aktif. Kelompok ini tak lagi dipandang sebagai 'pendulang suara' jelang Pemilu. Jika selama ini mereka dianggap 'pasif," di era pemerintahan Jokowi situasi mulai berubah.

Sejak sebelum kemerdekaan peran pesantren, santri dan kiai tak bisa diabaikan. Kisah permintaan fatwa Presiden Soekarno pada KH. Wahid Hasyim hingga memunculkan Resolusi Jihad juga menjadi salah satu bukti, peran pesantren, kiai dan santri dalam perjalanan pembentukan negeri ini sangat signifikan. 

Bahkan jika ditarik dalam konteks sejarah, menurut sejarawan UIN Johan Wahyudi, sudah sejak awal perkembangan Islam, santri berkontribusi pada negeri. Misalnya, Meurah Silu, raja pertama Samudera Pasai, berguru pada para ulama Arab hingga ditahbiskan menjadi pemimpin. Raden Patah, raja pertama Demak (abad 16), merupakan santri di pesantren Ampel dan binaan Sunan Ampel.

Johan Wahyudi juga mengakui peran strategis politik santri. Menurutnya, sejak dulu kekuatan politik santri selalu diperhitungkan. "Hanya saja semasa Orde Baru ada hubungan yang agak dingin dengan Muslim tradisional yang berafiliasi dengan NU atau organisasi sejenis. Saat itu santri dianggap pasif dan kontra Islam modernis seperti Muhammadiyah. Sekarang zaman berbeda. Lain zaman, lain pula orangnya. Santri cenderung mudah berinteraksi dengan serbaneka fenomena sosial agama. Mereka menjadi rujukan, juga sandaran dalam berpolitik karena komitmen mereka pada bela bangsa dan negara," ujarnya. 

Ketua PBNU Robikin Emhas juga menjabarkan bagaimana kekuatan Islam khususnya kaum santri memiliki sejarah panjang dan dinamis dalam dinamika politik nasional. Sejak pemilu pertama pada 1955, kaum santri sudah terlibat aktif dalam percaturan politik.

"Sebagai gambaran data, pada pemilu 1955, Nahdlatul Ulama yang mewakili kekuatan santri meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante dengan 18,4 persen suara. Sementara Masyumi yang juga merepresentasi kekuatan Islam meraih 57 kursi DPR dan 112 kursi Konstituante dengan 20,9 persen suara. Ini bukan kekuatan yang kecil. Indonesia adalah negara demokrasi dengan jumlah penduduk Muslim terbesar dunia. Pertanyannya, ada nggak partai atau kekuatan politik yang berani mengabaikan kekuatan mayoritas?" ujarnya.

Besarnya kekuatan pesantren juga sudah dihitung oleh kedua kubu yang akan bersaing dalam Pilpres 2019 mendatang. Wasekjen Gerindra Andrie Rosadie mengaku pihaknya memperhitungkan jumlah santri yang cukup besar. "Jumlahnya signifikan sekali.Jumlahnya sangat banyak, dan menjadi salah satu suara yang sangat menentukan dalam Pilpres ini," ujarnya. 

Capres Prabowo Subianto berkunjung ke pesantren

Andrie mengakui, bertandang ke pesantren menjadi salah satu strategi yang mereka lakukan untuk memenangkan hati santri. "Ya, kami terus terusan silaturrahim ke pondok pesantren. Menyerap aspirasi warga pondok pesantren. Pak Prabowo juga terus silaturahmi ke pesantren, Bang Sandi juga begitu. kita silaturahmi, minta doa, minta nasihat, dan juga kita serap aspirasi aspirasi dari pesantren," tutur Andrie.

Ia juga menyampaikan, pihak mereka sudah menyiapkan program Santripreneur sebagai bentuk pemberdayaan. "Dengan Santripreneur diharapkan ekonomi kerakyatan terangkat, banyak menjadikan santri yang berwirausaha sehingga dapat membuka lapangan kerja dan mengangkat ekonomi umat," ujarnya menambahkan.

Sementara Jokowi, sebagai petahana malah langsung melibatkan KH. Ma'ruf Amin, yang identik dengan ulama dan santri sebagai calon wakilnya. Direktur Relawan Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Maman Imanulhaq mengatakan, santri memang vote getter, tapi sebenarnya itu bisa juga dilihat sebagai bentuk penghormatan kepada pesantren yang memang sudah teruji dalam sejarah. Sebagai tempat penguatan nilai-nilai keilmuan, di sisi lain adalah tempat bagaimana nilai budaya itu bisa menyatu dengan nilai agama. Dan pesantren lah menjadi pelopor dua hal itu.

Maman menjelaskan, saat ini, jika KH. Ma'ruf Amin mendatangi pesantren, itu bukan saja dalam kepentingan kampanye. Tapi Ma'ruf Amin datang untuk bersilaturahmi, bertemu dengan teman lama dan bertukar ide untuk masa depan Indonesia. Sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia, jaringan pertemanan KH. Ma'ruf Amin dengan kiai dan pesantren di seluruh Indonesia sangat luas. 

Presiden Jokowi berkunjung ke Pesantren Girikusumo, Mranggen, Demak

Tapi cara tersebut ternyata tak dipandang efektif oleh Direktur Eksekutif Voxpol Centre Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago. Menurut dia, meski Ma'ruf Amin berasal dari pesantren dan pemimpin ulama, namun belum tentu kalangan pesantren dan santri akan memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Sebab, tak mudah mengkondisikan atau memobilisasi santri dan kiai.  "Bahkan ada pesantren, kiai  yang main dua kaki," ujar Pangi.

Ia menambahkan, permainan dua kaki terjadi karena mereka juga sadar dimanfaatkan, bahkan sangat disayangkan,  dijadikan komoditas politik oleh politisi dalam rangka mendulang elektoral. "Mereka sadar agama, pesantren hanya dijadikan sebagai kendaraan politik, tunggangan politik dalam rangka memenangkan kontestasi elektoral," ujarnya menjelaskan.

Pangi mengambil contoh kiai NU Salahudin Wahid yang pernah jadi cawapres, lalu ada almarhum Hasyim Muzadi yang juga pernah jadi cawapres, dan faktanya kedua orang tersebut tetap kalah dalam Pilpres. Faktanya, ujar Pangi, ini membuktikan kondisi NU tak solid dan bulat untuk mendukung kader NU dan kiainya.

Ketua PP Muhammadiyah Bidang Pustaka dan Informasi, Prof Dr H Dadang Kahmad membenarkan tesis Pangi. Menurutnya, menurutnya masyarakat sudah mulai cair dan rasional, daya pilihnya sudah mulai fungsional, dan tidak lagi simbol. Maka kemungkinan tidak sebagaimana yang diharapkan bahwa seluruh santri akan tertarik. Karena memang di antara santri-santri juga banyak yang sudah punya pilihan.

"Di alam modern sekarang ini tingkat rasionalitas sudah mulai tinggi. Jadi sekali lagi pilihan itu berdasarkan pilihan fungsional tidak simbol sekarang," ujarnya. 

Ia menambahkan, santri masa sekarang beda dengan santri masa lalu, di mana tingkat ketaatan mereka pada kiai sangat tinggi. Rasionalitas santri itu sudah tinggi, ujar Dadang. "Mereka orang orang intelektual menggunakan daya pilihnya berdasarkan rasional. Tidak berdasarkan pada pilihan pilihan tradisional atau personal lagi."  (mus)

Baca Juga

Kiprah Santri Pejuang

Santri Beroposisi sampai Perang Suci

 

 

Topik Terkait
Saksikan Juga
Prabowo Datang, Ribuan Santri Padati Jalan di Pamekasan
BERITA - 6 bulan lalu