Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Sabtu, 15 Juni 2019 | 10:00 WIB

Gen Z si Digital Native

Team VIVA »
Amal Nur Ngazis
Diza Liane Sahputri
Foto :
  • Instagram/@cheriecolaa
Generasi Z

VIVA – Bocah berusia 10 tahun keturunan Indonesia itu mendemokan aplikasi buatannya di perangkat mobilenya. Jarinya lincah menyapu layar perangkat. 

Di depannya, seorang berambut putih, Kepala Eksekutif Apple, Tim Cook saksama memperhatikan aksi bocah tersebut. Tak butuh waktu lama, bos Apple itu terpukau dengan aplikasi mobile karya bocah bernama Yuma Soerianto tersebut. 

Baca Juga

"Keren sekali, hebat," kata Cook dengan karya bocah kelahiran Singapura tersebut dikutip dari laporan The Sydney Morning Herald. 

Rasa kagum Penerus Steve Jobs ini makin besar pada Yuma. Sebab, aplikasi buatan Yuma yang dipamerkan ke Cook dibuat cuma dalam beberapa jam saat mengudara dari Melbourne ke Negeri Paman Sam, perjalanan menuju konferensi pengembang tahunan Apple. 

"Kamu membuatnya di pesawat dalam perjalanan dari Australia ke AS? Wow. Kamu bisa membuat aplikasi dalam hitungan jam. Saya terkesan. Saya tak sabar melihat karyamu selanjutnya," puji Cook.

Yuma Soerianto

Bocah keturunan Indonesia itu menjadi buah bibir dalam gelaran World Wide Developer Conference Apple 2017. 

Sejak momen itu, Yuma mendunia, diundang lintas negara dan benua. Bicara karya-karyanya. Sampai kini Yuma masih memesona. Pada WWDC 2019 beberapa pekan lalu, kehadiran Yuma disambut sorak sorai oleh pengunjung konferensi tahunan tersebut. Mereka meneriakkan yel-yel, 'yuma..yuma..yuma' saat tahu Yuma muncul dengan tas punggung dan topi khasnya. 

Pada Januari lalu di kantor Tokopedia, Yuma mengaku hidupnya lekat dengan teknologi. Dalam sebuah wawancara dengan EFTM Online, ia mengaku tertarik melihat sesuatu bekerja.

Programmer aplikasi iOS itu mengaku kerjaan sehariannya yaitu main game, menonton video streaming internet. "Waktu bermain saya malah nggak banyak," kata dia.

Yuma mengatakan, karya yang ia buat sendiri yakni sebuah website dan kemudian membuat aplikasi pertama pada usia 9 tahun pada 2016.

"Saya ingin membuat aplikasi yang bisa merevolusi dunia. Saya juga ingin mengajari seluruh dunia bagaimana caranya coding dan membuat mereka suka melakukannya," ujar Yuma. 

Bocah keturunan Indonesia itu merupakan wujud anak Generasi Z, generasi yang lahir antara 1996 sampai 2010. Di dunia, saat ini ada sekitar 2,5 miliar Generasi Z. Kalau di Indonesia, data sensus 2010 menunjukkan, ada 68 juta Generasi Z, yang mana dua kali lipat dari Generasi X atau generasi yang lahir pada 1965-1976.

Karakteristik Generasi Z cukup berbeda dengan generasi sebelumnya. Perbedaan ini lantaran, generasi tersebut lahir dan tumbuh bersama dengan membuncahnya teknologi serta internet.

Teknologi Sejak Dalam Pikiran

Menurut riset Getting to Know Gen Z: How The Pivotal Generation is Different From Millennials yang dilakukan lembaga konsultasi pemasaran Barkley and Futurecast, saat Google diluncurkan pada 1998, Generasi Z usianya 2 tahun. Kemudian saat perangkat mobile iPod dihadirkan Apple pada 2001, Generasi Z usianya 5 tahun. Pada saat Facebook dan YouTube lahir masing-masing pada 2004 dan 2005, Generasi Z usianya 8 dan 9 tahun. Selanjutnya saat iPhone pertama kali hadir pada 2007, usia Generasi Z sudah menginjak 11 tahun.

Dengan lini masa tersebut, tak heran Generasi Z hidupnya penuh dengan sentuhan teknologi. Makanya generasi ini juga kadang disebut iGeneration alias generasi internet. Ada juga yang menamakan Generasi Z sebegai generasi pascamillenial.

VIVA – Bocah berusia 10 tahun keturunan Indonesia itu mendemokan aplikasi buatannya di perangkat mobilenya. Jarinya lincah menyapu layar perangkat. 

Di depannya, seorang berambut putih, Kepala Eksekutif Apple, Tim Cook saksama memperhatikan aksi bocah tersebut. Tak butuh waktu lama, bos Apple itu terpukau dengan aplikasi mobile karya bocah bernama Yuma Soerianto tersebut. 

"Keren sekali, hebat," kata Cook dengan karya bocah kelahiran Singapura tersebut dikutip dari laporan The Sydney Morning Herald. 

Rasa kagum Penerus Steve Jobs ini makin besar pada Yuma. Sebab, aplikasi buatan Yuma yang dipamerkan ke Cook dibuat cuma dalam beberapa jam saat mengudara dari Melbourne ke Negeri Paman Sam, perjalanan menuju konferensi pengembang tahunan Apple. 

"Kamu membuatnya di pesawat dalam perjalanan dari Australia ke AS? Wow. Kamu bisa membuat aplikasi dalam hitungan jam. Saya terkesan. Saya tak sabar melihat karyamu selanjutnya," puji Cook.

Yuma Soerianto

Bocah keturunan Indonesia itu menjadi buah bibir dalam gelaran World Wide Developer Conference Apple 2017. 

Sejak momen itu, Yuma mendunia, diundang lintas negara dan benua. Bicara karya-karyanya. Sampai kini Yuma masih memesona. Pada WWDC 2019 beberapa pekan lalu, kehadiran Yuma disambut sorak sorai oleh pengunjung konferensi tahunan tersebut. Mereka meneriakkan yel-yel, 'yuma..yuma..yuma' saat tahu Yuma muncul dengan tas punggung dan topi khasnya. 

Pada Januari lalu di kantor Tokopedia, Yuma mengaku hidupnya lekat dengan teknologi. Dalam sebuah wawancara dengan EFTM Online, ia mengaku tertarik melihat sesuatu bekerja.

Programmer aplikasi iOS itu mengaku kerjaan sehariannya yaitu main game, menonton video streaming internet. "Waktu bermain saya malah nggak banyak," kata dia.

Yuma mengatakan, karya yang ia buat sendiri yakni sebuah website dan kemudian membuat aplikasi pertama pada usia 9 tahun pada 2016.

"Saya ingin membuat aplikasi yang bisa merevolusi dunia. Saya juga ingin mengajari seluruh dunia bagaimana caranya coding dan membuat mereka suka melakukannya," ujar Yuma. 

Bocah keturunan Indonesia itu merupakan wujud anak Generasi Z, generasi yang lahir antara 1996 sampai 2010. Di dunia, saat ini ada sekitar 2,5 miliar Generasi Z. Kalau di Indonesia, data sensus 2010 menunjukkan, ada 68 juta Generasi Z, yang mana dua kali lipat dari Generasi X atau generasi yang lahir pada 1965-1976.

Karakteristik Generasi Z cukup berbeda dengan generasi sebelumnya. Perbedaan ini lantaran, generasi tersebut lahir dan tumbuh bersama dengan membuncahnya teknologi serta internet.

Teknologi Sejak Dalam Pikiran

Menurut riset Getting to Know Gen Z: How The Pivotal Generation is Different From Millennials yang dilakukan lembaga konsultasi pemasaran Barkley and Futurecast, saat Google diluncurkan pada 1998, Generasi Z usianya 2 tahun. Kemudian saat perangkat mobile iPod dihadirkan Apple pada 2001, Generasi Z usianya 5 tahun. Pada saat Facebook dan YouTube lahir masing-masing pada 2004 dan 2005, Generasi Z usianya 8 dan 9 tahun. Selanjutnya saat iPhone pertama kali hadir pada 2007, usia Generasi Z sudah menginjak 11 tahun.

Dengan lini masa tersebut, tak heran Generasi Z hidupnya penuh dengan sentuhan teknologi. Makanya generasi ini juga kadang disebut iGeneration alias generasi internet. Ada juga yang menamakan Generasi Z sebegai generasi pascamillenial.

Karena lekat dengan teknologi, karakteristik Generasi Z ini bisa terlihat yakni mahir menggunakan bermacam gadget, kepercayaan dan optimisme tinggi, berambisi dalam meraih kesuksesan, terbuka dengan kebebasan berpendapat dan berekspresi, detail dan cenderung kritis dalam berpikir dan menghadapi sebuah permasalahan, lainnya generasi ini haus dengan pujian penghargaan. Dengan berbagai kemudahan teknologi, Generasi Z dicirikan suka memecahkan masalah dengan cepat dan instan.

Ciri lainnya yang membedakan dengan generasi sebelumnya yakni kemampuan multitasking atau melakukan beragam aktivitas dalam satu waktu, misalnya menggunggah status melalui ponsel, browsing dengan PC dan mendengarkan streaming musik.

Generasi Z akrab dengan gadget

Menurut psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) Jakarta, Elly Risman, Generasi Z merupakan anak-anak yang sejak lahir sudah akrab dengan teknologi. Artinya, teknologi sudah menjadi bagian dari hidup mereka sejak mereka lahir ke dunia. Jadi, jangan heran jika anak-anak dari Generasi Z sangat mahir menggunakan teknologi apa pun.

Generasi ini berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, seperti Generasi Baby Boomers (lahir 1946 – 1964), Generasi X (lahir 1965 – 1980) dan Y (lahir 1981 – 1995). Perbedaan paling tampak adalah ketertarikan Generasi Z kepada perangkat gadget di usia yang masih sangat muda.

Generasi Z merupakan generasi yang banyak mengandalkan teknologi untuk berkomunikasi, bermain, dan bersosialisasi. Perbedaannya dengan generasi sebelumnya, tingkat kepedulian Generasi Z ini masih lebih rendah dari Generasi X dan Y karena selalu terpaku pada layar ponselnya. Namun, proses belajar Generasi Z jauh lebih cepat dari generasi sebelumnya.

Target Potensial

Selain terobsesi dengan gadget dan internet, Generasi Z merupakan generasi yang konsumtif. Hal itu diakibatkan tidak terbatasnya arus informasi yang diterima dan kemudahan berbelanja, sehingga membuat Generasi Z selalu up to date terhadap produk-produk baru.

Menurut catatan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Ivan Sudjana, Generasi Z merupakan generasi yang sangat melek digital. Bisa dikatakan mereka adalah pengguna terbesar media sosial yang juga sangat konsumtif.

"Menyoroti generasi milenial yang sangat konsumtif ini tidak bisa dipisahkan dari kemudahan mereka untuk berbelanja. Sebab, mereka berpikir dan memiliki persepsi bahwa uang itu mudah dicari," ujar Ivan.

Selain itu Generasi Z ini juga menjadi target pasar yang sangat potensial. Berdasarkan data yang didapat dari obrolan di Twitter yang dilakukan Provetic, ditemukan fakta orang dengan rentang usia 20 hingga 24 tahun menjadi usia pengguna Twitter terbesar, yaitu sekitar 45 persen dari total responden atau sebanyak 4.670 akun.

Hal ini yang menguatkan, kalangan milenial ini memiliki perilaku konsumtif. Belanja, traveling, membeli tiket konser dan film menjadi prioritas mereka. Tak pelak, perilaku konsumtif generasi milenial, terkadang menimbulkan gesekan dengan orangtuanya.

Akrab dengan media sosial

Karakter lainnya, Generasi Z dikenal lebih mandiri daripada generasi sebelumnya. Pipit Fitriyani, dalam paper Pendidikan Karakter Bagi Generasi Z, menuliskan generasi ini tidak menunggu orangtua untuk mengajari hal-hal atau memberi tahu mereka bagaimana membuat keputusan.

Apabila diterjemahkan ke tempat kerja, generasi ini berkembang untuk memilih bekerja dan belajar sendiri. Tanpa diragukan lagi, generasi Z akan menjadi generasi  paling beragam yang memasuki lapangan kerja. 

Pipit menuliskan, Generasi Z terdiri dari berbagai bagian dari kelompok ras atau etnis minoritas. Mereka juga dibesarkan untuk lebih menerima dan menghormati lingkungan dibanding generasi orang-orang sebelumnya.

Generasi Z menempatkan uang dan pekerjaan dalam daftar prioritas. Tentu saja, mereka ingin membuat perbedaan, tetapi hidup dan berkembang adalah lebih penting.

Penulis dalam majalah Forbes, Kathryn Dill dalam 7 Things Employers Should Know About The Gen Z Workforce, mengemukakan Forbes Magazine membuat survei tentang Generasi Z di Amerika Utara dan Selatan, di Afrika, di Eropa, di Asia dan di Timur Tengah. Sebanyak 49 ribu anak-anak ditanya. 

Atas dasar hasil itu dapat dikatakan bahwa generasi Z adalah generasi global pertama yang nyata. Smartphone dan media sosial tidak dilihat sebagai perangkat dan platform, tapi lebih pada cara hidup. 

Kedengarannya gila, tapi beberapa penelitian mendukung klaim ini. Sebuah studi oleh Goldman Sachs menemukan, hampir setengah dari Generasi Z terhubung secara online selama 10 jam sehari atau lebih. 

Studi lain menemukan, seperlima dari Generasi Z mengalami gejala negatif ketika dijauhkan dari perangkat smartphone mereka. Cepat merasa puas diri bukanlah sebuah kata yang mencerminkan Generasi Z. Sebanyak 75 persen dari Generasi Z bahkan tertarik untuk memegang beberapa posisi sekaligus dalam sebuah perusahaan, jika itu bisa mempercepat karier mereka.

Bagi Generasi Z informasi dan teknologi adalah hal yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka, karena mereka lahir dimana akses terhadap informasi, khususnya internet sudah menjadi budaya global, sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap nilai-nilai, pandangan dan tujuan hidup mereka. 

Bangkitnya Generasi Z juga akan menimbulkan tantangan baru bagi praktek manajemen dalam organisasi, khususnya bagi praktek manajemen sumber daya manusia.

Digital Native

Penulis buku Digital Game-Based Learning, Marc Prensky menuliskan, hadirnya teknologi digital mengembangkan sebuah generasi. Menurutnya ada dua kelompok besar dari era kehadiran teknologi digital ini yakni digital immigrant atau imigran digital dan digital native atau pribumi digital 

Prensky mengatakan, istilah digital immigrant merujuk pada individual yang lahir sebelum merebaknya teknologi digital dan tak terpapar teknologi tersebut pada awal perkembangan usianya. Sebaliknya digital native, merupakan generasi yang telah dan terus berinteraksi dengan teknologi sejak mereka belia. 

Generasi Z akrab dengan semua yang berbau digital

Martina Cut dalam tulisan di laman Medium, mengungkapkan dalam beberapa tahun peneliti menemukan Generasi Z memiliki sikap yang lebih positif pada internet sedangkan generasi sebelum Generasi Z, malah gelisah dengan penggunaan internet, email dan media sosial. Dalam beberapa studi menunjukkan otak generasi digital native lebih secara aktif lengket saat mengakses halaman web dibanding mereka membaca konten yang berbasis teks tulisan cetak. 

Martina Cut mengatakan, perkembangan internet membentuk ulang bagaimana generasi atas sebuah informasi dan akhirnya berkontribusi pada pembentukan sikap. 

"Digital native melihat tiap orang pada level yang setara dan tidak membagi dunia dalam posisi hirarkis. Mereka memandang dunia ini dengan horizontal. Mereka melintasi batas-batas dan merangkul manfaat berbagi satu sama lainnya," tulisnya. 

Menurut Cut, generasi digital native dunianya adalah dunia demokrasi dan kesetaraan. Mereka menolak pemerintahan terpusat dan terkendali, dan meminta dunia yang agresif, kompetitif dan terobsesi dengan hasil. 

"Perbedaan warga digital native dengan digital immigrant yakni digital immigrant berorientasi pada tujuan sedangkan digital native berorientasi pada nilai. Digital native menyukai proses paralel dan multi tasking," jelasnya. 

Prensky mengatakan, generasi digital native memproses informasi secara cepat, menikmati tugas dan game sedangkan digital immigrant memproses informasi secara lambat, bekerja pada satu hal pada satu waktu dan kurang serius melakukan pendekatan belajar. 

Berdasarkan pengamatannya, Martina Cut mengatakan ada beberapa pelajaran yang bisa diambil masing-masing digital immigrant dan digital native. 

Dari digital native, Martina Cut, menuliskan digital immigrant bisa belajar untuk lebih terbuka dan mau terlibat dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Digital immigrant bisa mengikuti digital native dalam menyaring dan memfokuskan sumber daya yang lebih banyak diakses digital native. 

Sebaliknya, meski bisa dibilang lebih ketinggalan dalam teknologi, digital immigrant bukan tak bisa diambil pelajarannya. Digital immigrant bisa mengajarkan digital native untuk mendapatkan tujuan dengan cepat, kemudian membantu generasi teknologi itu untuk mengukur pembelajaran dan menciptakan apa yang mungkin bisa dilakukan. 

Generasi Z dan Hoaks

Ciri-ciri digital native memang lekat dengan karakter Generasi Z. Pada era derasnya media sosial ini, dosen School of Communication, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Andina Dwifatma memberikan rangsangan yang menarik. Dalam tulisannya 'Apakah Generasi Z Lebih Tahan Hoaks Ketimbang Gen X dan Gen Y di laman The Conversation, dia menuturkan, Generasi Z mendapat ujian. 

Dengan label sebagai pribumi digital dan lebih luas dalam menerima informasi, Generasi Z, Andina bertanya apakah menjamin mereka lebih kebal dari hoaks. 

Dengan internet menjadi makanan sehari-hari dan dalam genggaman, Generasi Z berpotensi terpapar informasi hoaks yang terus subur mampir di aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, belum lagi media sosial. 

Kampanye Anti Hoax

Data riset Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) tentang wabah hoaks nasional selama Februari sampai Maret 2019, menunjukkan adanya penurunan pemeriksaan kebenaran berita dari 82,2 persen menjadi 69,3 persen. Sementara dalam riset tersebut, responden terbesar merupakan Generasi Z yang berusia 22-24 tahun (27 persen). 

Namun Mastel mengatakan, penurunan pengecekan kebenaran berita itu bukan hal buruk, sebab 7,5 persen responden mengaku meng-counter berita yang mereka terima, 2,1 persen menegur pengirim berita, 3,2 persen responden langsung menghapus. Sedangkan 16,9 persen responden lainnya berpendapat mendiamkan berita heboh ketika menerimanya. 

Ujian tersebut, menurut Andina, menjajal sejauh mana kemampuan Generasi Z dalam mengolah hoaks. Dia menuliskan, generasi ini punya keunikan, yakni tidak memprioritaskan kecepatan sebagai faktor penting dalam mencari berita. Generasi Z ini punya tipikal berpandangan kecepatan bukanlah sebuah keuntungan tapi sebuah kewajaran. 

Sumber informasi mereka bukan kabar dari WhatsApp, melainkan aplikasi kuratorial berita seperti LINE Today. Menyebarkannya pun bukan lewat grup atau chat pribadi, tapi dibagikan lewat timeline masing-masing. Tantangan berikutnya adalah mengarahkan Generasi Z untuk memperhatikan isu-isu publik yang penting. Model aplikasi kuratorial berita seperti disebut di atas, bisa menjadi inspirasi.

Generasi Z juga cenderung lebih individualis dibandingkan generasi pendahulunya. Maksudnya, mereka lebih tertarik dan lebih percaya pada upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh individu, daripada berserikat dan berkumpul.

Baca Juga

Beda Generasi Beda Ciri 

Nada Miring Generasi Z

Topik Terkait
Saksikan Juga
Sertifikasi Digital Akun Media Sosial
TVONE NEWS - lewat 2 tahun lalu