Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Sabtu, 22 Juni 2019 | 09:34 WIB

Dari Bandar Kelapa hingga Pusat Kekuasaan

Team VIVA »
Lis Yuliawati
Fajar Ginanjar Mukti
Syaefullah
Anwar Sadat
Foto :
Batavia masa lalu

VIVA – Monumen Selamat Datang menjulang kokoh di kawasan Bundaran HI, Jakarta.  Terdapat patung seorang pria dan wanita di sana. Keduanya tampak melambaikan tangan. Satu tangan lainnya sang pemudi memegang rangkaian bunga sebagai tanda penyambutan.

Diresmikan Presiden Soekarno pada 1962, patung itu dibuat untuk menyambut para atlet yang akan berlaga di ajang olahraga Asian Games IV. Salah satu ikon Jakarta itu masih tegak berdiri hingga kini, seakan tak lelah menyambut siapa saja yang hadir di Ibu Kota.

Baca Juga

Masyarakat dari berbagai latar belakang suku, agama, budaya dan lainnya, datang ke Jakarta. Tujuan mereka pun beragam. Dari sekadar melancong hingga mengadu nasib di Ibu Kota.
 
Sejarawan Yahya Andi Saputra menyebutkan, Jakarta dulu merupakan kota bandar, yang disebut Bandar Kelapa. Kemudian ketika kerajaan Sunda Pajajaran berkuasa, maka nama itu berubah menjadi Sunda Kelapa. “Jadi kota bandar itu artinya kota yang sangat terbuka,” ujarnya kepada VIVA, Kamis, 20 Juni 2019.

Sebagai kota bandar, menurut Yahya, Jakarta merupakan kota yang sangat terbuka sehingga memungkinkan banyak orang dari segala suku dan bangsa datang. Dengan keterbukaan itu, kota ini dikenal sebagai kota multikultur.

Terpopuler

Batavia

Di dalam kota itu ada orang Betawi. Mereka berusaha menempatkan dirinya sebagai satu etnik yang menjadi sabuk penguat. “Menjadi kabel penghubung, yang menjadi koridor-koridor yang dibangun sehingga orang menjadi suka di situ,” ujar Yahya.

Dahulu, menurut Budayawan Betawi Ridwan Saidi, pusat kota Jakarta berada di pelabuhan Sunda Kelapa. “Pusatnya itu pusat kota, kegiatan hiburan, seni, itu semua di daerah Sunda Kelapa,” ujarnya.

Pelabuhan Sunda Kelapa yang pertama itu terdapat di Muara Kali Adem. Lokasinya di antara Kapuk Muara dan Pluit Muara Angke. Lalu karena banyak rob dipindah ke Kali Besar Pasar Ikan.  

VIVA – Monumen Selamat Datang menjulang kokoh di kawasan Bundaran HI, Jakarta.  Terdapat patung seorang pria dan wanita di sana. Keduanya tampak melambaikan tangan. Satu tangan lainnya sang pemudi memegang rangkaian bunga sebagai tanda penyambutan.

Diresmikan Presiden Soekarno pada 1962, patung itu dibuat untuk menyambut para atlet yang akan berlaga di ajang olahraga Asian Games IV. Salah satu ikon Jakarta itu masih tegak berdiri hingga kini, seakan tak lelah menyambut siapa saja yang hadir di Ibu Kota.

Masyarakat dari berbagai latar belakang suku, agama, budaya dan lainnya, datang ke Jakarta. Tujuan mereka pun beragam. Dari sekadar melancong hingga mengadu nasib di Ibu Kota.
 
Sejarawan Yahya Andi Saputra menyebutkan, Jakarta dulu merupakan kota bandar, yang disebut Bandar Kelapa. Kemudian ketika kerajaan Sunda Pajajaran berkuasa, maka nama itu berubah menjadi Sunda Kelapa. “Jadi kota bandar itu artinya kota yang sangat terbuka,” ujarnya kepada VIVA, Kamis, 20 Juni 2019.

Sebagai kota bandar, menurut Yahya, Jakarta merupakan kota yang sangat terbuka sehingga memungkinkan banyak orang dari segala suku dan bangsa datang. Dengan keterbukaan itu, kota ini dikenal sebagai kota multikultur.

Batavia

Di dalam kota itu ada orang Betawi. Mereka berusaha menempatkan dirinya sebagai satu etnik yang menjadi sabuk penguat. “Menjadi kabel penghubung, yang menjadi koridor-koridor yang dibangun sehingga orang menjadi suka di situ,” ujar Yahya.

Dahulu, menurut Budayawan Betawi Ridwan Saidi, pusat kota Jakarta berada di pelabuhan Sunda Kelapa. “Pusatnya itu pusat kota, kegiatan hiburan, seni, itu semua di daerah Sunda Kelapa,” ujarnya.

Pelabuhan Sunda Kelapa yang pertama itu terdapat di Muara Kali Adem. Lokasinya di antara Kapuk Muara dan Pluit Muara Angke. Lalu karena banyak rob dipindah ke Kali Besar Pasar Ikan.  

Tanah Kekuasaan

Menurut Ridwan, Jakarta tidak pernah diserang oleh Fatahillah. Oleh karena itu dia tidak sependapat bila penentuan hari lahir Jakarta terkait dengan aksi Fatahillah atas Portugis itu.

“Jadi penetapan HUT Jakarta berdasarkan Fatahillah nyerang Portugis, itu adalah hoax, enggak ada dasarnya. Karena di Jakarta dan di Jawa tidak pernah ada tentara Portugis,” ujarnya.

Kemudian, pada abad ke-19, saat zaman Pemerintah Hindia Belanda, pelabuhan Sunda Kelapa dipindah  ke Jalan Lodan hingga sekarang.

Kota Jakarta, menurut Ridwan, aslinya bernama Majakatera. Nama itu berarti land of power atau tanah kekuasaan. Namun, orang-orang menyebutnya Jaketra lalu jadi Jakarta.

Pada 1623 nama itu diganti oleh Belanda (VOC) menjadi Batavia. Penduduk dan orang-orang Jepang lantas memprotes. Lalu mereka tetap menyebut Jakarta. “Jadi nama Batavia hanya nama resmi saja. Kalau nama hari-hari penduduk tetap menyebut itu Jakarta,” kata Ridwan.

Kemudian, saat zaman Jepang, mereka menyebutnya Jakaruta. Lalu pada saat proklamasi kembali menjadi Jakarta. “Harus dicatat kota ini belum pernah bernama Jayakarta. Itu belum pernah. Itu nama desa di Karawang,” ujarnya.

Batavia

Hunian pertama di Jakarta terdapat di Kapuk Muara. Orang Betawi membangun gapura di Kampung Muara. Gapura di dalam bahasa Samarkand adalah Betawi. Itu terjadi pada abad ke-10.

“Ya terserah mau bikin HUT Jakarta 9.000 tahun yang lalu atau abad ke-10. Tapi yang jelas yang dirayakan sekarang itu adalah hoax,” tegas Ridwan.

Terlepas dari sejarah perubahannya yang mengalami proses cukup panjang, tepat pada 22 Juni 2019, Jakarta resmi genap berusia 492 tahun. Di usianya yang kian mendekati lima abad itu, Jakarta telah berubah menjadi kota metropolitan.

Pantauan VIVA, gedung-gedung pencakar langit terus menjamur di Jakarta, baik untuk hunian, kantor, maupun tempat perbelanjaan. Jalan protokol yang luas menghiasi kawasan-kawasan utama Ibu Kota.  Dipadukan dengan taman dan pedestrian di kanan kirinya.

Sarana transportasi pun semakin berkembang.  Mass Rapid Transit (MRT), misalnya, saat ini telah hadir di Jakarta Pusat hingga ke Selatan. Begitu pula dengan layanan kereta layang yang populer disebut LRT (Light Rail Transit), yang tengah diujicoba dan saat ini baru menghubungkan Rawamangun (Jakarta Timur) dengan Kelapa Gading di Jakarta Utara.

Pada peringatan HUT ke-492, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta  telah menyiapkan serangkaian acara. Di antaranya, Live Mural Jakarta Anniversary di Terowongan Jalan Kendal, Jakarta Pusat; pasar kreatif, air mancur menari.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajak seluruh warga Jakarta untuk ikut berpartisipasi dan menikmati rangkaian acara yang telah disiapkan. "Rangkaian acara ini kami hadirkan untuk seluruh warga Jakarta. Bahkan, harapannya, bisa mendatangkan turis domestik maupun mancanegara ," ujar Anies, dalam keterangannya, Kamis, 20 Juni 2019.

Tantangan Baru

Untuk malam puncak HUT  bertajuk “Wajah Baru Jakarta”, digelar di Bundaran HI, pada 22 Juni 2019. Acara ini memadukan unsur tradisional dan teknologi, dengan menampilkan tari tradisional, lagu dan kostum tradisional secara kolosal. Acara akan dibagi menjadi tiga babak, mulai dari Jakarta Tempo Doeloe, Jakarta Membangun, hingga Wajah Baru Jakarta.

Cici Marlina, warga Cililitan, Jakarta Timur, berharap tema “Wajah Baru Jakarta” dalam perayaan HUT Jakarta tahun ini, benar-benar diwujudkan. “Semoga dengan tema wajah baru , yang diperlihatkan tahun ini benar benar wajah baru dan tidak cuma wacana,” ujarnya.

Dia menilai semakin bertambahnya usia kota ini,  banyak sekali kemajuan dan perkembangan yang dialami. Pembangunan sudah terstruktur baik, penataan ruang juga baik. “Jadi semakin bertambah usia, Jakarta bisa  dibilang semakin maju dari pada tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Kemacetan Jakarta

Yahya berharap, pembenahan yang dilakukan di Jakarta seimbang antara fisik dan nonfisik. Pembenahan nonfisik di antaranya pengembangan sumber daya manusia, pengembangan pemerintahan yang adil, jujur dan jauh dari korupsi. “Jadi memang kalau pembinaan secara nonfisik itu penting,” ujarnya.

Dalam usia Jakarta yang sudah mencapai 492 tahun, menurut Yahya, sudah banyak yang diberikan kota ini bagi warganya. Lantaran itu, warga harus merawat kota Jakarta dengan penuh rasa cinta.

Hingga kini, menurut Yahya, Jakarta terus menjadi magnet bagi masyarakat untuk datang. Hal itu antara lain lantaran lokasinya yang strategis, masyarakatnya  yang  terbuka menerima siapapun. Jika tak lagi menjadi Ibu Kota pun, Jakarta  akan tetap menjadi magnet yang dirindukan oleh orang-orang dari manapun. (ren)

 

Topik Terkait
Saksikan Juga
HUT DKI Jakarta Ke-490
BERITA - lewat 2 tahun lalu