Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Sabtu, 3 Agustus 2019 | 07:44 WIB

Waspada Benih Radikalisme

Team VIVA »
Hardani Triyoga
Bayu Nugraha
Zahrul Darmawan (Depok)
Nur Faishal (Surabaya)
Cahyo Edi (Yogyakarta)
Foto :
  • VIVA.co.id/BNPT
Potensi radikalisme di lima provinsi di Indonesia hasil survei BNPT, The Nusa Institute, dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme/Ilustrasi.

VIVA –  "Kenapa isu ini diangkat lagi."

Demikian Muhammad Anis bertanya kepada wartawan usai pengukuhan dua guru besar di Aula Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Rabu, 31 Juli 2019. Raut wajah Rektor UI itu terlihat kesal. Dengan dahi mengkerut di atas kacamatanya, Anis heran isu radikalisme kembali muncul dan diangkat.

Baca Juga

Akademisi senior itu kecewa karena kampus selalu dikaitkan dengan isu penyebaran paham radikalisme. Padahal, faktanya belum tentu demikian. Anis pun merespons riset yang dikeluarkan Setara Institute bertajuk 'Wacana dan Gerakan Keagamaan di Kalangan Mahasiswa: Memetakan Ancaman atas Negara Pancasila di PTN'.

Dalam riset itu, Setara mencantumkan UI sebagai satu dari 10 perguruan tinggi negeri yang terpapar paham radikalisme.  Anis mempertanyakan riset Setara dengan menyeret UI. Ia menekankan kampus yang dipimpinnya terbebas dari paham radikalisme. Namun, mungkin yang ada menurutnya adalah intoleran.

"Jadi menurut saya radikalisme itu enggak ada di dalam kampus. Mungkin yang ada itu adalah intoleran, itu mungkin ada, walaupun jumlahnya sangat kecil,” ujar Anis.

Rektor UI, Muhamad Anis

Penyebaran benih-benih paham radikal ke masyarakat dengan sasaran pertama perguruan tinggi dinilai sudah lama. Dan perguruan tinggi menjadi salah satu muara potensial dengan menyasar calon intelektual seperti mahasiswa.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ismunandar mengatakan, dari penelitian benih radikal ini sudah muncul sejak 1980-an. Menurut dia, saat itu pemberlakuan normalisasi kehidupan kampus/badan koordinasi kemahasiswaan (NKK/BKK) pada 1980-an atau saat Orde Baru menjadi salah satu pemicu.

Luthfi Assyaukanie dalam bukunya, Ideologi Islam dan Utopia (2011:3), era pemerintahan Soeharto menerapkan kebijakan represif terhadap Islam. Hal ini dinilai berdampak pada sikap politik dan mentalitas kaum Muslimin Indonesia. Namun, kebijakan Orba hanya salah satu faktor penyebab.

"Tapi, ini bukanlah satu-satunya faktor yang menjelaskan mengapa terjadi perubahan radikal," demikian dikutip dari buku tersebut.

Radikalisasi Instan?

VIVA –  "Kenapa isu ini diangkat lagi."

Demikian Muhammad Anis bertanya kepada wartawan usai pengukuhan dua guru besar di Aula Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Rabu, 31 Juli 2019. Raut wajah Rektor UI itu terlihat kesal. Dengan dahi mengkerut di atas kacamatanya, Anis heran isu radikalisme kembali muncul dan diangkat.

Akademisi senior itu kecewa karena kampus selalu dikaitkan dengan isu penyebaran paham radikalisme. Padahal, faktanya belum tentu demikian. Anis pun merespons riset yang dikeluarkan Setara Institute bertajuk 'Wacana dan Gerakan Keagamaan di Kalangan Mahasiswa: Memetakan Ancaman atas Negara Pancasila di PTN'.

Dalam riset itu, Setara mencantumkan UI sebagai satu dari 10 perguruan tinggi negeri yang terpapar paham radikalisme.  Anis mempertanyakan riset Setara dengan menyeret UI. Ia menekankan kampus yang dipimpinnya terbebas dari paham radikalisme. Namun, mungkin yang ada menurutnya adalah intoleran.

"Jadi menurut saya radikalisme itu enggak ada di dalam kampus. Mungkin yang ada itu adalah intoleran, itu mungkin ada, walaupun jumlahnya sangat kecil,” ujar Anis.

Rektor UI, Muhamad Anis

Penyebaran benih-benih paham radikal ke masyarakat dengan sasaran pertama perguruan tinggi dinilai sudah lama. Dan perguruan tinggi menjadi salah satu muara potensial dengan menyasar calon intelektual seperti mahasiswa.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ismunandar mengatakan, dari penelitian benih radikal ini sudah muncul sejak 1980-an. Menurut dia, saat itu pemberlakuan normalisasi kehidupan kampus/badan koordinasi kemahasiswaan (NKK/BKK) pada 1980-an atau saat Orde Baru menjadi salah satu pemicu.

Luthfi Assyaukanie dalam bukunya, Ideologi Islam dan Utopia (2011:3), era pemerintahan Soeharto menerapkan kebijakan represif terhadap Islam. Hal ini dinilai berdampak pada sikap politik dan mentalitas kaum Muslimin Indonesia. Namun, kebijakan Orba hanya salah satu faktor penyebab.

"Tapi, ini bukanlah satu-satunya faktor yang menjelaskan mengapa terjadi perubahan radikal," demikian dikutip dari buku tersebut.

Radikalisasi Instan?

Menguatnya penyebaran paham radikalisme saat ini dinilai karena prosesnya yang didukung perkembangan teknologi. Mantan teroris Ali Fauzi mengatakan, radikalisme di era sekarang sudah berbeda dengan zaman sebelumnya termasuk Orde Baru. Bukan hanya mengincar lewat jalur kampus.

Menurut dia, proses radikalisme saat ini bisa instan karena didukung media sosial. Berbeda dengan dulu yang mengandalkan secara tradisional atau bertemu langsung face to face. "Sekarang proses radikalisasi itu bisa instan. Bisa lewat medsos misalnya Facebook," ujar Fauzi kepada VIVAnews, Kamis, 1 Agustus 2019.

Mantan teroris Ali Fauzi

Dia meyakini, perkembangan teknologi itu justru membuat radikalisasi lebih mudah tersebar ke masyarakat. Menurutnya, cara yang paling ampuh penyebar benih paham radikal saat ini dengan menggunakan grup whatsApp karena dinilai lebih aman.

Meski tak ada kajian spesifik, namun ia menekankan fenomena yang ada saat ini di medsos menguatkan penyebaran pemahaman radikal. Kelompok radikal menurutnya mengandalkan jalur medsos. "Melihat di medsos, menguatnya radikalisme tidak dibantah. Intinya radikalisasi saat ini jauh lebih mudah" kata Fauzi menambahkan.

Pengamat terorisme Al Chaidar menambahkan, menguatnya penebaran radikalisme disebabkan faktor yang tidak tunggal dan kompleks. Maka itu, perlu upaya khusus dari pemerintah dalam penanganan persoalan radikalisme ini.

Menurut dia, paham radikalisme ini bila sudah menjerat orang maka akan memiliki ciri tertentu. Beberapa gejala tersebut yaitu orang tersebut tak mau menerima dan mendengarkan pendapat orang lain. Menurut dia, kelompok ini selalu merasa benar di masyarakat. Perilaku ini yang sering memunculkan intoleransi.

Gejala radikal lainnya, yakni berani mengintimidasi orang lain demi mencapai tujuan. Intimidasi ini dengan teror yang bisa mengancam jiwa orang lain untuk memberikan peringatan. Orang radikal memiliki kesadaran ingin tata dunia baru dengan cara teror kekerasan menggunakan aksi sadis.

Sasaran Empuk

Kelompok penganjur radikalisme cenderung mengincar anak-anak muda sebagai sasaran empuk. Anak muda yang biasanya mahasiswa baru akan mudah kena doktrin. Hal ini pernah dialami sejumlah mahasiswa kedokteran Universitas Airlanggga. Namun, peristiwa ini disebut terjadi dulu, bukan saat ini.

"Kedokteran itu dulu gudangnya, tapi itu dulu itu pun sebenarnya kecil," ujar Juru Bicara Unair, Suko Widodo kepada VIVAnews, Rabu, 31 Juli 2019.

Suko yang juga pakar komunikasi politik itu mengatakan, mahasiswa baru jadi sasaran empuk kelompok ekstrimis dengan berbagai modus cara. Misalnya, seperti pelaku mencarikan kos atau asrama agar mudah dipantau.

Grafik potensi penyebaran radikalisme di Indonesia

Belajar dari itu, pihak rektorat punya aturan tegas berupa pemecatan bila menyangkut dosen atau pegawai yang terjerat paham radikalisme. Untuk mahasiswa, dilakukan pendampingan oleh dosen-dosen pilihan. "Itu dilakukan terhadap mahasiswa baru, mereka yang sudah menjalani masa kuliah, atau aktif di unit unit kegiatan mahasiswa," tutur Suko.

Namun, meski mahasiswa dianggap menjadi sasaran utama, masih ada kalangan lain yang dibidik. Ada potensi lain seperti aparatur sipil negara sampai warga biasa seperti pedagang menjadi incaran kelompok penyebar paham radikal ini.

Pengamat terorisme dari Institute Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi mengatakan, paham radikalisme dipengaruhi beberapa faktor yang menjadi pemicu seperti pendidikan. Selain itu, radikalisme juga dipicu karena faktor pemikiran, ekonomi, politik, sosial, sampai psikologis.

Dengan faktor pemicu tersebut, ada aspek yang perlu menjadi perhatian. Misalnya, masyarakat ekonomi yang rendah bisa memicu terjebak radikalisme. "Masyarakat ekonomi lemah bisa saja percaya tokoh radikal yang dianggap bisa mengubah hidupnya ke depan," tutur Fahmi. [mus]

 

Topik Terkait
Saksikan Juga
Menhan Temui Rektor se-Indonesia Antisipasi Paham Radikal
TVONE - 13 hari lalu