Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Sabtu, 10 Agustus 2019 | 08:04 WIB

Listrik Ngadat Bikin Sekarat

Team VIVA »
Dusep Malik
Fikri Halim
Rifki Arsilan
Adinda Purnama Rachmani
Ridho Permana
Foto :
  • ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Pekerja melakukan pemeriksaan konduktor Sutet di Arcamanik, Bandung, Jawa Barat

VIVA – Pantulan cahaya biru di atas kotak kaca persegi panjang menghiasi belasan kios ikan hias. Gemercik air menjadi wahana bermain ratusan ikan hias di dalam aquarium berkonsep aquascape.  Pandangan teduh itu memancing para pencinta ikan hias mendatangi Pusat Penjualan Ikan Hias yang berlokasi di Jalan Raden Intan, Duren Sawit, Jakarta Timur ini.

Situasi ini berbeda dengan kondisi saat Perusahaan Listrik Negara atau PT PLN (persero) yang tanpa pemberitahuan berhenti mengaliri listrik kepada pelanggannya selama lebih dari tujuh jam pada Minggu 4 Agustus 2019.

Baca Juga

Yopi, salah satu penjual ikan di pusat penjualan ikan hias itu mengatakan, situasi hari ini jauh lebih baik jika dibandingkan pada Minggu, 4 Agustus 2019 lalu. Pria asal Sukabumi yang sudah berjualan ikan hias sejak 2004 itu mengaku, pemadaman lampu atau yang dikenal dengan istilah blackout kemarin sangat berdampak bagi dirinya dan teman-teman seprofesi lainnya. 

Penjual ikan hias dirugikan akibat listrik mati

Menurut Yopi, kiosnya mengalami pemadaman listrik lebih dari enam jam, yaitu sejak pukul 11.48 WIB hingga 18.30 WIB. Belum lagi di sebagian wilayah Jabobetabek listrik padam lebih dari delapan jam.  "Bisa dibayangin itu, itu mati lampu terlama yang pernah saya alami selama saya jualan ikan hias kayanya," kata Yopi kepada VIVAnews, Kamis, 8 Agustus 2019.

Insiden pemadaman listrik itu berdampak pada matinya puluhan ikan hias yang dijualnya. "Ada lah 20 (ekor) an yang mati. Yang paling banyak Koi. Kalau dihitung jutaan juga itu kan kita ruginya," ujarnya menambahkan.

Ia berharap, insiden pemadaman listrik seperti kemarin tidak terjadi lagi di masa mendatang. Terlebih lagi. "Jualan ikan hias kan enggak setiap hari juga yang beli kan. Dan yang namanya ikan itu pasti sangat tergantung dengan listrik. Kalau enggak ada listrik atau listriknya mati, waduh, bisa gawat kita."

Hal senada disampaikan Yudhi Setiawan. Warga Matraman Jaya yang berjualan minuman dingin yang dipasok untuk pedagang pasar Tanah Abang juga merasakan dampak ekonomi yang cukup hebat dari kejadian padamnya listrik.

Dia merasakan pemadaman listrik sekitar 18 jam pada Minggu kelabu itu. Di mana pada hari itu tak ada satu pun minuman dingin yang dijualnya laku terjual. Belum lagi barang dagangan lainnya. "Kerugian pada hari itu sangat besar sekali bagi pemasukan dagangan saya,  ya itu tadi saya pemasok minuman dingin buat tukang dagang di pasar sekitaran Tanah Abang," ujarnya.

Ilustrasi mati listrik

Untuk itu, ia meminta kepada PLN dan Pemerintah agar lain kali memberikan pemberitahuan sebelum adanya pemadaman. Selain itu, untuk tanggung jawab atas kejadian ini dirinya meminta PLN perbaiki kinerja dan tidak terulang.

Hal yang sama juga menimpa bisnis besar seperti pusat perbelanjaan. Ketua Umum DPP Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Stefanus Ridwan mengatakan, matinya listrik yang cukup lama menjadi sebuah musibah bagi para pelaku ritel di dalam mal. Sebab, sejumlah transaksi sempat mati di sejumlah toko, terlebih mesin kasir tidak dapat berfungsi maksimal.

"Satu jam pertama saat listrik mulai padam pada Minggu siang pelaku ritel mengaku kena dampaknya, transaksi dan pembayaran sempat terganggu karena listrik mati," ujar Stefanus kepada VIVAnews.

VIVA – Pantulan cahaya biru di atas kotak kaca persegi panjang menghiasi belasan kios ikan hias. Gemercik air menjadi wahana bermain ratusan ikan hias di dalam aquarium berkonsep aquascape.  Pandangan teduh itu memancing para pencinta ikan hias mendatangi Pusat Penjualan Ikan Hias yang berlokasi di Jalan Raden Intan, Duren Sawit, Jakarta Timur ini.

Situasi ini berbeda dengan kondisi saat Perusahaan Listrik Negara atau PT PLN (persero) yang tanpa pemberitahuan berhenti mengaliri listrik kepada pelanggannya selama lebih dari tujuh jam pada Minggu 4 Agustus 2019.

Yopi, salah satu penjual ikan di pusat penjualan ikan hias itu mengatakan, situasi hari ini jauh lebih baik jika dibandingkan pada Minggu, 4 Agustus 2019 lalu. Pria asal Sukabumi yang sudah berjualan ikan hias sejak 2004 itu mengaku, pemadaman lampu atau yang dikenal dengan istilah blackout kemarin sangat berdampak bagi dirinya dan teman-teman seprofesi lainnya. 

Penjual ikan hias dirugikan akibat listrik mati

Menurut Yopi, kiosnya mengalami pemadaman listrik lebih dari enam jam, yaitu sejak pukul 11.48 WIB hingga 18.30 WIB. Belum lagi di sebagian wilayah Jabobetabek listrik padam lebih dari delapan jam.  "Bisa dibayangin itu, itu mati lampu terlama yang pernah saya alami selama saya jualan ikan hias kayanya," kata Yopi kepada VIVAnews, Kamis, 8 Agustus 2019.

Insiden pemadaman listrik itu berdampak pada matinya puluhan ikan hias yang dijualnya. "Ada lah 20 (ekor) an yang mati. Yang paling banyak Koi. Kalau dihitung jutaan juga itu kan kita ruginya," ujarnya menambahkan.

Ia berharap, insiden pemadaman listrik seperti kemarin tidak terjadi lagi di masa mendatang. Terlebih lagi. "Jualan ikan hias kan enggak setiap hari juga yang beli kan. Dan yang namanya ikan itu pasti sangat tergantung dengan listrik. Kalau enggak ada listrik atau listriknya mati, waduh, bisa gawat kita."

Hal senada disampaikan Yudhi Setiawan. Warga Matraman Jaya yang berjualan minuman dingin yang dipasok untuk pedagang pasar Tanah Abang juga merasakan dampak ekonomi yang cukup hebat dari kejadian padamnya listrik.

Dia merasakan pemadaman listrik sekitar 18 jam pada Minggu kelabu itu. Di mana pada hari itu tak ada satu pun minuman dingin yang dijualnya laku terjual. Belum lagi barang dagangan lainnya. "Kerugian pada hari itu sangat besar sekali bagi pemasukan dagangan saya,  ya itu tadi saya pemasok minuman dingin buat tukang dagang di pasar sekitaran Tanah Abang," ujarnya.

Ilustrasi mati listrik

Untuk itu, ia meminta kepada PLN dan Pemerintah agar lain kali memberikan pemberitahuan sebelum adanya pemadaman. Selain itu, untuk tanggung jawab atas kejadian ini dirinya meminta PLN perbaiki kinerja dan tidak terulang.

Hal yang sama juga menimpa bisnis besar seperti pusat perbelanjaan. Ketua Umum DPP Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Stefanus Ridwan mengatakan, matinya listrik yang cukup lama menjadi sebuah musibah bagi para pelaku ritel di dalam mal. Sebab, sejumlah transaksi sempat mati di sejumlah toko, terlebih mesin kasir tidak dapat berfungsi maksimal.

"Satu jam pertama saat listrik mulai padam pada Minggu siang pelaku ritel mengaku kena dampaknya, transaksi dan pembayaran sempat terganggu karena listrik mati," ujar Stefanus kepada VIVAnews.

Perlu Investigasi 

Seperti diketahui, peristiwa padamnya listrik terjadi pada Minggu 4 Agustus 2019 sekira pukul 11.45 WIB, detik ke 27 pada saluran udara tegangan ekstra tinggi di Ungaran - Pemalang akibat gangguan pada sirkuit 1. Kemudian disusul gangguan sirkuit 2, sehingga keduanya gangguan. Akibatnya, terjadi penurunan tegangan pada pukul 11:48 detik ke 11 menyebabkan jaringan SOTT Depok, Tasik mengalamai gangguan. Peristiwa itu merupakan awal dari pemadaman dini sistem listrik di Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT PLN (persero), Sripeni Inten Cahyani berjanji akan mencari tahu penyebab padamnya listrik di hampir separuh pulau Jawa tersebut. Menurut dia, penyebab matinya listrik secara mendadak sangat kompleks. Sebab, sistem kelistrikan Jawa-Bali sangat komplek yaitu 250 pembangkit, 500 gardu induk dan ada 5.000 Km sirkuit transmisi Sutet 500 kV serta 7.000 Km transmisi 150 kV.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT PLN (persero), Sripeni Inten Cahyani

Untuk itu, PLN minta waktu untuk melakukan investigasi secara menyeluruh agar kasus serupa tidak terulang kembali. "Kita mohon waktu karena kami sangat mempertimbangkan kompleksitas itu.  Kami sangat ingin secara komprehensif untuk memastikan penyebabnya dan langkah ke depan," ujar Sripeni.

Ia menuturkan, pentingnya melakukan investigasi adalah agar pihaknya tidak hanya berhenti sampai penyebabnya ditemukan. Melainkan, bagaimana improvement sistem kelistrikan Jawa Bali ke depan.

Terkait adanya dugaan tindakan sabotase dalam kasus ini, Plt Dirut PLN yang baru saja dilantik dua hari sebelum kejadian mati listrik itu belum bisa menyampaikan sebelum proses investigasi selesai. Namun, agar kasus serupa tidak terjadi lagi, Sripeni memastikan bahwa PLN akan memberikan prioritas paling utama akan ketersediaan listrik kepada pelanggan seperti instruksi yang sudah diberikan Presiden Joko Widodo.

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin dengan berbagai upaya untuk menjaga agar kejadian seperti kemarin tidak akan terulang. Kami akan berupaya semaksimal mungkin," ujarnya berjanji.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana mengatakan, matinya listrik hampir separuh pulau Jawa ini adalah sepenuhnya ada di operator yaitu PLN dan itu sudah dijelaskan. Saat ini yang menjadi perhatian pemerintah adalah kontigensi plan ke depan seperti apa dan SOP di lapangan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Ia mengakui, saat ini sebenarnya sudah ada dua sistem kelistrikan di Jawa, masing-masing dua sirkuit. Sehingga, ke depan dalam jangka pendek dan panjang memungkinkan untuk membuat backbone menjadi tiga. "Itu yang kemudian kita kaji sekarang, tapi karena membutuhkan pembangunan yang lama, memang sudah jalan untuk beberapa segmen yang sifatnya looping. kalau sekarang diputus satu arah mati, harusnya kan ada back up dari sana. kalau ring kan nanti bisa aja," ujar Rida kepada VIVAnews.

Ombudsman menggelar konferensi pers menyikapi pemadaman listrik?

Ia menjelaskan, sebelum munculnya kajian ini sistem kelistrikan di bagian barat Jawa masih mengandalkan listrik dari timur yang memang punya pembangkit yang lebih banyak. Dengan demikian, ke depan pemerintah akan banyak mendorong pembangkit di bagian barat dan selatan untuk beroperasi komersial. Seperti pada Pembangkit di Cilacap dan Jawa VII. 

"Semua pembangkit memang kebanyakan di timur dan barat tergantung dari situ. Makanya penempatan ini juga sangat penting dan itu sudah dilakukan, artinya nanti kita tidak akan lagi tergantung dari timur," ujarnya.

Perlu Dipantau

Lambatnya pemulihan dari pemadaman listrik massal ini perlu menjadi bahan acuan seluruh pihak. Kementerian ESDM akan mendorong PLN untuk lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan. Rida menuturkan, Kementerian ESDM akan menyelesaikan masalah ini dengan sejumlah regulasi yang ada. Sehingga, ke depan dapat memberikan keyakinan terhadap pelayanan PLN sesuai yang telah diharapkan.

"Tingkat mutu pelayanan dalam hal ini. Kalau misalkan kompensasi yang ada tidak membuat mampu atau belum mampu mendorong PLN untuk lebih berbuat, ya kita agak sedikit perkeras. Ini sesuai arahan pak Menteri untuk memberi cambuk kepada PLN untuk lebih mampu meningkatkan pelayanannya."

Mati listrik di pameran 

Pengamat Ketenagalistrikan, Herma Darnil mengatakan, dalam kasus blackout ini sudah sebaiknya semua pihak mengambil pelajaran. Sebab, bisa saja tidak keseluruhan salah, melainkan kekurangan dalam profesionalisme Sumber Daya Manusia. Untuk itu, ke depan perlu ada pengawasan di PT PLN terkait pengelolaan operasi agar semakin baik dan juga menunggu hasil dari investigasi untuk melakukan perbaikan dan juga pencegahan.

"Sebenarnya itu sudah ada sistem pengawasan untuk itu. Dan itulah yang juga harus diaudit. Kalau di dalam SOP yang sudah baku, itu harus selalu diperiksa," ujarnya kepada VIVANews.

Selain itu, untuk memaksimalkan pelayanan di PLN, sebaiknya proses audit di PLN dapat dilakukan setiap tahun. Audit itu terkait manajeman pengoperasian, pengawasan dan komposisi komisaris.

Kompensasi PLN

Matinya listrik di hampir setengah pulau Jawa kali ini dinilai sangat memalukan Bangsa Indonesia, sebab terjadi dua minggu sebelum Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-74. Kejadian yang terjadi pada pukul 11.48 WIB tersebut menciptakan kepanikan, bencana kebakaran dan kerugian ekonomi yang cukup besar di masyarakat. Bahkan, padamnya listrik juga menimbulkan korban jiwa.

Pada hari itu, sejumlah layanan publik berhenti operasi dan harus melakukan evakuasi pada para penumpangnya. Seperti terjadi pada Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta yang harus mengeluarkan penumpangnya dari kereta yang sedang beroperasi di bawah tanah maupun di jalur layang.

Kebakaran saat mati listrik

Selain itu, akibat padamnya aliran listrik PT PLN (Persero) sejumlah rumah di wilayah Jabodetabek mengalami kebakaran dan menyebabkan korban jiwa. Tercatat sebanyak 109 jiwa mengungsi dengan kerugian mencapai Rp1 miliar.

Peristiwa padamnya listrik di sejumlah daerah di sebagian Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta ini, menjadi catatan kelam Perusahaan Listrik Negara (PLN), sejak kasus serupa terjadi pada 1997. Saat itu, pada 1997 listrik pernah padam dan blackout di sistem Jawa Bali dan kemudian terjadi lagi pada September 2018 secara parsial yang terjadi hanya di Bekasi.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, insiden blackout selama delapan jam lebih kali ini jelas sebuah kecelakaan yang sangat fatal. Bahkan, Tulus mengibaratkan, kejadian ini seperti pesawat yang sedang jatuh dari udara, dan ini merupakan suatu pelanggaran terhadap Undang-undang Ketenagalistrikan, sehingga konsumen berhak mendapatkan kompensasi.

Tulus menuturkan, dalam UU Ketenagalistrikan saat ini sebenarnya tidak terdapat istilah kompensasi, sehingga sebenarnya itu seperti insentif saja dan kata lain dari ganti rugi. "Konsumen berhak mendapatkan ganti rugi jika pemegang usaha (PLN) gagal dalam melayani konsumennya. Itu sudah jelas tanpa ditafsirkan macam-macam," ujarnya menegaskan.

PLN menggelar konferensi pers menyikapi pemadaman listrik massal

Sebagai bentuk tanggung jawab pada masyarakat PT PLN menyatakan akan memberikan kompensasi sesuai deklarasi Tingkat Mutu Pelayanan (TMP), dengan indikator lama gangguan. Kompensasi akan diberikan sebesar 35 persen dari biaya beban atau rekening minimum untuk konsumen golongan tarif adjustment, dan sebesar 20 persen dari biaya beban atau rekening minimum untuk konsumen pada golongan tarif yang tidak dikenakan penyesuaian tarif tenaga listrik (Non adjustment). Penerapan ini diberlakukan untuk rekening bulan depan.

Khusus untuk pra bayar, pengurangan tagihan disetarakan dengan pengurangan tagihan untuk tarif listrik reguler. Pemberian kompensasi akan diberikan pada saat pelanggan membeli token berikutnya (pra bayar). 

Saat ini PLN sedang menghitung besaran kompensasi yang diberikan kepada konsumen. Khusus untuk pelanggan premium, PLN akan memberikan kompensasi sesuai Service Level Agreement (SLA) yang telah ditandatangani bersama.

Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN (persero), Djoko Raharjo Abumanan, mengungkapkan saat ini ada 21 juta pelanggan PLN yang terdampak pemadaman listrik massal di sejumlah wilayah di pulau Jawa.  Menurut dia, total kompensasi yang harus dibayar PLN kepada masyarakat mencapai Rp1 triliun. Dan berdasarkan hitungan sementara PLN hingga Senin pagi, kompensasi yang harus dibayar mencapai Rp838,9 miliar dan berpotensi akan bertambah. 

"Iya (hampir Rp1 triliun), dan untuk kompensasi PLN langsung otomatis (nanti dibayar melalui pengurangan tagihan" kata Djoko saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin, 5 Agustus 2019.

Berdasarkan data PLN, detail kompensasi tingkat mutu pelayanan jumlah pelanggan yang terdampak dari Jakarta, Jawa Barat dan Banten mencapai 21,9 juta pelanggan. Namun, untuk Jawa Tengah belum dimasukkan dalam data tersebut sehingga jumlahnya masih mungkin akan bertambah. [mus]

Baca Juga

‘Perjalanan’ Listrik hingga ke Konsumen

Hilang Jabatan Gegara Listrik Padam

 

 

 

 

Topik Terkait
Saksikan Juga
Warga Gugat PLN Diminta Segera Lakukan Ganti Rugi
TVONE NEWS - 14 hari lalu