Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Sabtu, 10 Agustus 2019 | 07:58 WIB

Hilang Jabatan Gegara Listrik Padam

Team VIVA »
Amal Nur Ngazis
Renne R.A Kawilarang
Foto :
  • The Korea Herald
Menteri Ekonomi Pengetahuan Korsel Choi Joong-kyung mundur dari jabatannya setelah krisis pemadaman listrik di Korsel pada 15 September 2011.

VIVA – Taiwan, 15 Agustus 2017. Tiba-tiba saja listrik padam, tidak saja di Ibu Kota Taipei, namun juga setengah wilayah negeri pulau itu, termasuk 6,68 juta rumah tangga. 

Sontak saja penduduk gempar, aktivitas lumpuh. Apalagi itu kejadian Selasa sore, pukul 16.52 waktu setempat, saat banyak pekerja bersiap pulang kantor, bahkan masih ada sebagian dari mereka yang berkutat dengan pekerjaan. Para pekerja kantor pemerintah dan perusahaan listrik milik negara, CPC Corporation, sudah pasti terpaksa lembur gegara listrik byar pet.   

Baca Juga

Gelap malam saat itu mulai muncul. Sambil mencari tahu penyebabnya, mulai pukul 6 sore listrik pun dijatah. Untung pihak berwenang masih punya cadangan listrik, namun harus irit sampai pemadaman berakhir dan lampu semua rumah di Taiwan nyala kembali pukul 21.30 waktu setempat, seperti yang diungkapkan stasiun berita CNA English News. 

Suasana di Dihua Street, Taipei, Taiwan 

Apakah masalah saat itu langsung selesai? Tentu saja tidak. Masyarakat Taiwan menuntut penjelasan serta pertanggungjawaban pihak-pihak berwenang. Belakangan penyebabnya terungkap, ternyata ada faktor kelalaian saat tim pekerja CPC tidak langsung mengganti mode automatis ke manual saat pekerjaan penggantian perangkat di Pembangkit Listrik Tatan di Kota Taoyuan. Enam generator utama pun langsung mati, berhenti memasok 4 GW listrik ke konsumen dan pemulihannya pun butuh waktu, demikian kabar dari Bloomberg dan Amcham.    

Masyarakat sebagai konsumen pun marah, media massa tak henti menekan dengan bombardir pertanyaan. Hanya dalam hitungan jam, Presiden Taiwan saat itu, Tsai Ing-wen pun minta maaf kepada rakyat. 

Tak hanya itu, sejumlah pejabat langsung hilang jabatan. Financial Express mengabarkan, sehari setelah krisis, 16 Agustus 2017, Menteri Urusan Ekonomi Lee Chih-kung mengundurkan diri dari jabatannya setelah menyatakan orang yang bertanggung jawab atas pemadaman itu akan dihukum. Tiga hari kemudian Pimpinan CPC Corporation yang bertanggungjawab dalam memasok listrik secara nasional, Chen Chin-te, juga mengundurkan diri. Pengunduran diri Chen diterima Perdana Menteri Lin Chuan.  

Pejabat mundur lantaran listrik padam juga pernah terjadi di Korea Selatan enam tahun sebelumnya. Tepatnya saat 15 September 2011 mati lampu mendadak secara massal melanda lebih dari 2,1 juta rumah tangga dan banyak lagi bangunan di Korsel selama satu jam. 

Media setempat juga mengabarkan sekitar 2.900 orang terjebak di banyak lift, lampu lintas di banyak kota mati total dan produksi di banyak pabrik terganggu. Masyarakat pun marah. Pemerintah saat itu beralasan pemadaman terpaksa terjadi lantaran persediaan listrik saat itu sudah sangat rendah dan bisa membahayakan. 

Hongdae, Korea Selatan

Kemarahan pun ditujukan kepada Menteri Ekonomi Pengetahuan Korsel saat itu, Choi Joong-kyung, karena dianggap tidak becus. Setelah berhari-hari ditekan, Choi pun akhirnya mundur dari jabatannya pada 27 September 2011, seperti diungkapkan media kyunghang.com.  

Dua peristiwa itu menunjukkan bahwa pemadaman listrik merupakan krisis yang tidak hanya baru-baru ini terjadi di Jakarta dan beberapa kota di Pulau Jawa. Banyak negara pun mengalami, mulai dari negara-negara berkembang hingga negara maju seperti Korsel dan Taiwan. Tentu dengan penyebab dan akibat yang berbeda. 

Byar Pet di AS

Negara adidaya Amerika Serikat pun mengalami krisis pemadaman listrik, seperti yang terjadi Juli lalu. Denyut Kota Big Apple tiba-tiba terhenti dan lumpuh. Papan iklan Times Square padam dan menggelap. Gedung Rockfeller Center juga gelap gulita, banyak warga terperangkap di dalam lift, lampu lalu lintas mati, komuter telantar.

VIVA – Taiwan, 15 Agustus 2017. Tiba-tiba saja listrik padam, tidak saja di Ibu Kota Taipei, namun juga setengah wilayah negeri pulau itu, termasuk 6,68 juta rumah tangga. 

Sontak saja penduduk gempar, aktivitas lumpuh. Apalagi itu kejadian Selasa sore, pukul 16.52 waktu setempat, saat banyak pekerja bersiap pulang kantor, bahkan masih ada sebagian dari mereka yang berkutat dengan pekerjaan. Para pekerja kantor pemerintah dan perusahaan listrik milik negara, CPC Corporation, sudah pasti terpaksa lembur gegara listrik byar pet.   

Gelap malam saat itu mulai muncul. Sambil mencari tahu penyebabnya, mulai pukul 6 sore listrik pun dijatah. Untung pihak berwenang masih punya cadangan listrik, namun harus irit sampai pemadaman berakhir dan lampu semua rumah di Taiwan nyala kembali pukul 21.30 waktu setempat, seperti yang diungkapkan stasiun berita CNA English News. 

Suasana di Dihua Street, Taipei, Taiwan 

Apakah masalah saat itu langsung selesai? Tentu saja tidak. Masyarakat Taiwan menuntut penjelasan serta pertanggungjawaban pihak-pihak berwenang. Belakangan penyebabnya terungkap, ternyata ada faktor kelalaian saat tim pekerja CPC tidak langsung mengganti mode automatis ke manual saat pekerjaan penggantian perangkat di Pembangkit Listrik Tatan di Kota Taoyuan. Enam generator utama pun langsung mati, berhenti memasok 4 GW listrik ke konsumen dan pemulihannya pun butuh waktu, demikian kabar dari Bloomberg dan Amcham.    

Masyarakat sebagai konsumen pun marah, media massa tak henti menekan dengan bombardir pertanyaan. Hanya dalam hitungan jam, Presiden Taiwan saat itu, Tsai Ing-wen pun minta maaf kepada rakyat. 

Tak hanya itu, sejumlah pejabat langsung hilang jabatan. Financial Express mengabarkan, sehari setelah krisis, 16 Agustus 2017, Menteri Urusan Ekonomi Lee Chih-kung mengundurkan diri dari jabatannya setelah menyatakan orang yang bertanggung jawab atas pemadaman itu akan dihukum. Tiga hari kemudian Pimpinan CPC Corporation yang bertanggungjawab dalam memasok listrik secara nasional, Chen Chin-te, juga mengundurkan diri. Pengunduran diri Chen diterima Perdana Menteri Lin Chuan.  

Pejabat mundur lantaran listrik padam juga pernah terjadi di Korea Selatan enam tahun sebelumnya. Tepatnya saat 15 September 2011 mati lampu mendadak secara massal melanda lebih dari 2,1 juta rumah tangga dan banyak lagi bangunan di Korsel selama satu jam. 

Media setempat juga mengabarkan sekitar 2.900 orang terjebak di banyak lift, lampu lintas di banyak kota mati total dan produksi di banyak pabrik terganggu. Masyarakat pun marah. Pemerintah saat itu beralasan pemadaman terpaksa terjadi lantaran persediaan listrik saat itu sudah sangat rendah dan bisa membahayakan. 

Hongdae, Korea Selatan

Kemarahan pun ditujukan kepada Menteri Ekonomi Pengetahuan Korsel saat itu, Choi Joong-kyung, karena dianggap tidak becus. Setelah berhari-hari ditekan, Choi pun akhirnya mundur dari jabatannya pada 27 September 2011, seperti diungkapkan media kyunghang.com.  

Dua peristiwa itu menunjukkan bahwa pemadaman listrik merupakan krisis yang tidak hanya baru-baru ini terjadi di Jakarta dan beberapa kota di Pulau Jawa. Banyak negara pun mengalami, mulai dari negara-negara berkembang hingga negara maju seperti Korsel dan Taiwan. Tentu dengan penyebab dan akibat yang berbeda. 

Byar Pet di AS

Negara adidaya Amerika Serikat pun mengalami krisis pemadaman listrik, seperti yang terjadi Juli lalu. Denyut Kota Big Apple tiba-tiba terhenti dan lumpuh. Papan iklan Times Square padam dan menggelap. Gedung Rockfeller Center juga gelap gulita, banyak warga terperangkap di dalam lift, lampu lalu lintas mati, komuter telantar.

Pertunjukan Jennifer Lopez di Madison Square Garden dibatalkan, pengunjung pertunjukan musik yang kadung hadir dievakuasi petugas. Hiburan berganti kegelapan, kekecewaan dan kegusaran. Di mana-mana gelap, di bawah tanah dan di gedung dan hotel.

Gelap gulita itu berlangsung selama 4 jam pada akhir pekan kedua Juli 2019. New York, Kota Big Apple mencekam, listrik padam besar-besaran. 40 ribu orang di Manhattan, salah satu pusat keramaian di New York harus menjalani 4 jam yang gelap. 

New York, AS

Laporan kontributor tvOne di Amerika Serikat menyebutkan, listrik padam total di New York melumpuhkan sebagian jalur darat di Kota berjuluk The City That Never Sleeps. 40 ribu orang di Manhattan terdampak. Penyelidikan awal menyebutkan listrik padam akibat pemutusan karena adanya transformator yang meldak di Upper West Side. 

Sebagai kota yang tak pernah tidur, 4 jam tanpa listrik adalah bencana. Semua lumpuh dan mencekam. Bagi warga New York, listrik padam total adalah hal langka, terakhir kali insiden semacam ini terjadi 42 tahun lalu, pada 1977. Listrik padam ini merepotkan warga pastinya, 72 ribu pelanggan terdampak pada listrik yang putus tersebut. Untungnya tak ada korban jiwa dalam insiden ini dan situasi sudah normal dengan cepat dalam sehari sudah normal sepenuhnya.

Bermula dari Topan

Listrik padam terparah, menurut data Rhodium Group, yang terparah dalam sejarah terjadi di Filipina pada 11 November 2013. 

Biang listrik padam total di Filipina adalah bencana alam topan super Haiyan. Fenomena angin pusar super ini melumat dan memorakprandakan wilayah Filipina. Topan Haiyan menewaskan setidaknya 7 ribu penduduk. Badai paling mematikan di Filipina ini tercatat mempunyai kecepatan angin 305 kilometer per jam saat ganas-ganasnya. 

Dampak topan super itu juga merusak pasokan listrik. Bencana alam ini mengakibatkan 6,1 miliar jam pasokan listrik putus. Listrik di tiga provinsi besar yaitu Samar, Leyte dan Bohol nyaris putus total. Data menunjukkan, sekitar 6,7 juta warga terdampak dengan listrik padam dampak badai super tersebut.

Putusnya aliran listrik benar-benar makin melengkapi derita Filipina. Evakuasi korban dan puing menjadi terkendala. Di mana-mana lumpuh, sampai-sampai pesawat untuk evakuasi juga nyaris lumpuh. 

Salah satu sudut jalanan di Filipina

Laporan laman Los Angeles Times menunjukkan, lumpuhnya pasokan listrik membuat pesawat evakuasi hanya bisa beroperasi pada siang hari. Tentunya kondisi ini membuat evakuasi berjalan lambat. Matinya listrik ini tak disadari oleh warga. 

Pada 12 November subuh hari, ribuan orang menerobos pagar dan bergegas menuju sebuah pesawat di Bandara Tacloban, Pulau Leyte. Para ibu sampai memegang buah hati mereka di atas kepala sampil mengiba, berharap mereka menjadi prioritas mendapatkan tempat duduk dalam penerbangan evakuasi meninggalkan zona badai. 

Bandara ini merupakan salah satunya lapangan terbang utama di Pulau Leyte yang terdampak parah badai super. Akses menuju bandara ini tersumbat puing dan sisa orang meninggal yang membusuk. Praktis untuk mencapai bandara ini perlu waktu setidaknya tiga jam. 

Kengerian ini membuat polisi dan militer menertibkan warga, memaksa ribuan warga meninggalkan pesawat di bandara tersebut. 

Warga tak bisa berbuat apa-apa. Mereka masih bersiaga di sekitar bandara. Begitu ada pesawat kargo yang mendarat, massa korban badai langsung mencoba menuju pesawat mencari aman. 

Selain akses evakuasi, jaringan telekomunikasi di Tacloban lumpuh. Telepon tak berfungsi dan radio lokal mati. Ada kabar, menurut laporan Los Angles Times, saat badai melanda wilayah Tacloban, penyiar radio masih mengudara menggunakan generator. Namun nasibnya nahas, sang penyiar diduga tenggelam. Salah seorang warga menyebutkan Kota tacloban menjadi kota mati sedangkan koresponden BBC melaporkan Kota Tacloban menjadi 'zona perang'. 

Insiden listrik padam terparah dalam sejarah juga terjadi di Puerto Rico. Biangnya adalah Badai Maria yang melanda wilayah Karibia Amerika pada 16 September 2017. 

Badai tersebut membuat infrastruktur porak poranda. 80 persen jaringan listrik Puerto Rico rusak dan lumpuh. Rusaknya infrastruktur menyulitkan untuk menghidupkan lagi aliran listrik ke rumah warga.

Laporan perusahaan riset ekonomi Rhodium Group menunjukkan, akibat badai super tersebut, lebih dari 3,4 miliar pasokan listrik hilang. Firma riset itu melabeli listrik padam di Puerto Rico merupakan kedua yang terparah di dunia. 

Kurang dari sebulan setelah diamuk Badai Maria, Rhodium Group mengatakan, berdasarkan data dari Department of Energy’s Office of Electricity Delivery and Energy Reliability, pasokan listrik di Puerto Rico yang telah pulih kala itu baru mencapai 26 persen saja. 

Puerto Rico

Memasuki awal 2018, setengah atau 55 persen area Puerto Rico masih belum mendapatkan pasokan listrik. Otoritas listrik tetap bekerja keras memulihkan kondisi. Mereka melaporkan sejumlah pelanggan listrik yang layanannya bisa dipulihkan secara langsung dan persentase pembangkit listrik sebelum badai yang dipulihkan. 

Situasi Puerto Rico tanpa listrik berjalan berbulan-bulan berikutnya. Pada pertengahan April, pemulihan mulai mendekati penuh. 96 persen Puerto Rico dinyatakan telah terpasok aliran listrik, namun 53 ribu rumah tangga atau sekitar 100 ribu sampai 200 ribu penduduk Puerto Rico masih kekurangan layanan listrik.

Menurut kalkulasi Rhodium Group, pada Oktober 2017 atau sebulan setelah badai, ternyata Badai Maria melampaui dampak padamnya listrik di Puerto Rico itu merupakan yang terburuk sepanjang sejarah listrik padam di Amerika Serikat. 

Dampak Badai Maria ini tiga kali lebih parah dibanding sejarah padamnya listrik terparah di Amerika Serikat. Padam listrik akibat Badai Maria menyebabkan setidaknya putusnya 3,4 miliar jam pasokan listrik meskipun yang terdampak cuma 1,5 juta warga Puerto Rico.

Angka putusnya pasokan listrik itu lebih parah dibandingkan dengan dampak padamnya listrik akibat Badai George pada 1998 yang mana membuat putusnya 1,05 miliar jam pasokan listrik di Amerika Serikat. 

Jika dibandingkan hilangnya pasokan listrik di Puerto Rico akibat Badai Maria itu melebihi hilangnya pasokan listrik akibat badai di Amerika Serikat selama lima tahun terakhir sampai 2018. 

Rangkuman data Rhodium Group dari berbagai sumber termasuk padam listrik di dunia yang terjadi akibat fenomena alam dan sebab teknis listrik lainnya dan mengecualikan padamnya listrik akibat perang.
 
Data menunjukkan, parahnya padamnya listrik di Puerto Rico secara global karena menduduki posisi kedua, di bawah padam listri di Filipina akibat Badai Haiyan. 

Lumpuhnya listrik di Puerto Rico lebih parah dibanding padamnya listrik di Filipina pada 2012 akibat Badai Bopha. Padamnya listrik di Puerto Rico menyebabkan hilangnya 3,4 miliar jam pasokan listrik sedangkan dampak Badai Bopha di Filipina membuat hilangnya 3,2 miliar jam pasokan listrik. 

Padamnya listrik di Puerto Rico lebih parah dibanding kegelapan di India yang terjadi pada 2012, padahal kala itu setengah India mati listrik. 

Padamnya listrik di Puerto Rico selama berbulan-bulan membuat dampak sosial. Sembilan bulan setelah badai dan masih dalam kegelapan di Puerto Rico melahirkan krisis perumahan dan yang parah muncul krisis bunuh diri serta lonjakan tingkat pembunuhan. 

Laporan Vox, menunjukkan kemungkinan krisis dampak dari kegelapan berbulan-bulan ini melahirkan lebih dari 4.600 kematian.

Data dari Komisi Pencegahan Bunuh Diri Kementerian Kesehatan Puerto Rico dan tambahan data dari koran terbesar di sana EL Neuvo Dia, selama November 2017 sampai Januari 2018, nomor panggilan krisis Kementerian Kesehatan Puerto Rico menerima 3.050 panggilan telepon dari warga yang mengaku mencoba mengakhiri hidup. Angka ini naik 246 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Dan tiga bulan setelahnya malah makin parah, laporan menunjukkan, sekitar 9.645 orang menelpon panggilan krisis untuk bunuh diri, melonjak 83 persen dari periode yang sama 2017. 

Alhasil, angka tingkat bunuh diri 2017 menjadi yang tertinggi sejak 2013 sekaligus menggambarkan krisis kesehatan mental parah di Puerto Rico. 

Profesor psikolog di Universidad Carlos Albizu di Puerto Rico, Santana Mariño mengatakan, Badai Maria membawa lebih dari bencana.  Kehancuran plus hidup tanpa listrik mengacaukan kehidupan. Dia mengatakan, kehancuran fisik bangunan bisa membuat sejenak untuk bangkit tapi dengan tanpa listrik kondisi menjadi kian pelik. 

"Normal saja kalau itu (kekacauan) karena ada konflik keluarga. Tapi saat Anda bertambah stres lebih dari 5 bulan tanpa listrik, tanpa makanan dan pola hidup berubah, itu membuat orang lebih susah mengelola kehidupan sehari-hari," ujarnya pada surat kabar terbesar Puerto Rico.

Laman Vox melaporkan, salah satu upaya untuk menyiasati gelap gulita ini yakni dengan membangun microgrid, atau jaringan listrik lokal yang memotong jaringan listrik utama. Tapi upaya pemulihan daya ini berjalan keliru karena melibatkan kontraktor yang terlalu mahal. Akhirnya langkah ini sia-sia.

Kegelapan Puerto Rico memang berjalan berlarut-larut, bertahap tahap demi tahap. Setidaknya butuh 328 hari atau nyaris setahun setelah badai untuk Puerto Rico akhirnya normal kembali dari hidup tanpa listrik. 

Krisis di India

Listrik mati parah pernah melanda India dalam dua hari bertutut-turut pada 2012. 'Bencana' ini mulai terjadi pada 30 Juli 2012, jaringan listrik Utara India mengalami masalah. 

Dampaknya luar biasa, 300 juta penduduk di 9 negara bagian India termasuk ibu kota New Delhi hidup tanpa listrik. Semua lumpuh. 

Dasar apes, sehari setelahnya. Mengutip data Power Technology, jaringan listrik baru yang meliputi jaringan listri Utara, Barat, Timur dan Timur Laut India padam. Listrik mati serempak ini dampak dari perbaikan atau pemulihan dari jaringan listrik Utara.

Laman The Economic Times mengatakan, India memiliki lima jaringan listrik yaitu Utara, Timur, Timur Laut, Selatan dan Barat. Semua jaringan tersebut saling terhubung, kecuali jaringan listrik Selatan. Makanya tak heran listrik padam total terjadi dalam insiden tersebut. Seluruh jaringan listrik yang dijalankan Power Grid Corporation atau PLN-nya Puerto Rico itu yakni 95 kilometer sirkuit saluran transmisi. 

India

Akibatnya setidaknya total 700 warga India dan 20 negara bagian India terdampak listrik mati. 

Namun data lainnya menunjukkan lebih parah. Laporan Deccan Herald, listrik mati nasional itu berdampak pada 22 negara bagian, setengah India gelap tanpa listrik dan berdampak pada setidaknya 620 juta penduduk atau 9 persen populasi dunia.

Insiden listrik mati nasional ini membuat kacau, jaringan kereta lumpuh, ratusan kereta mogok, lampu lalu lintas mati, macet di mana-mana. Dampak lainnya operasi bedah di rumah sakit dibatalkan, rumah sakit akhirnya beroperasi dengan generator cadangan, dan pekerjaan konstruksi serta penambangan berhenti beroperasi di seluruh wilayah India bagian utara. 

Penyebab listrik padam total di India itu simpang siur. Dikuti dari BBC, Menteri Keuangan India menyalahkan krisis listrik India ini akibat negara-negara bagian tertentu yang terlalu rakus mengambil pasokan listrik yang lebih pada jaringan listrik nasional. 

Menteri Energi India, Sushil Kumar Shinde akhirnya meminta negera bagian yang dituding jadi biang untuk berhenti mengambil kuota pasokan listrik. Laporan media menunjukkan, negara bagian Uttar Pradesh merupakan salah satu negara bagian yang rakus listrik tersebut.

"Saya telah menginstruksikan pejabat kami untuk menghukum negara bagian yang mengambil kuota lebih listrik," ujar Shinde. 

Namun tudiangan dari pemerintah itu dibantah pleh pejabat negara bagian. Ketua Power Grid Corporation di Uttar Pradesh, Anil K Gupta mengatakan, tak ada alasan untuk memercayai bahwa negara bagiannya menjadi salah satu biang listrik padam naisional. Gupta malah meminta pemerintah bersabar dan menunggu penyelidikan lebih lanjut apakah sebenarnya penyebab listrik padam nasional tersebut. 

Kekecauan India akibat listrik padam total membuat rakyat berteriak dan gusar resah. Penjaga toko di Delhi, Anu Chopra memahami kondisi krisis kacau ini dan tak seharusnya terjadi selama dua hari berturut-turut. Insiden listrik padam total ini menurutnya, menunjukkan wajah manajemen listrik India yang tidak profesional.

"Itu hanya menunjukkan infrastruktur kita berantakan total. Tidak ada transparansi dan tidak ada akuntabilitas sama sekali," ujar Chopra. 

Dampak listrik padam ini sangat dirasakan oleh industri perbankan, Karyawan Bank of India di Delhi, Smriti Mehra mengatakan, mereka sampai menolak-nolak nasabah. Sebab semua aktivitas perbankan lumpuh. 

"Tak ada internet, tak ada yang berfungsi. Ini adalah gangguan total dari semua yang ada di kantor kami," ujarnya.

Dalam keterangan kepada media, Ketua Power Grid Corporation mengatakan, penyebab listrik padam total belum jelas. Namun dia menduga karena 'interkoneksi jaringan'. Sang ketua itu mengatakan, perlu dilihat kenapa tiba-tiba ada peringkatan beban daya listrik. 

"Kami akan memastikan situasi seperti ini tak terulang," kata dia. 

Pejabat pada otoritas listrik pusat India mengatakan, insiden listrik padam total yang meruntuhkan tiga jaringan listrik itu belum pernah terjadi sebelumnya. Kala itu, pejabat kelistrikan pusat tersebut memperkirakan butuh setidaknya waktu sehari untuk memulihkan tiga jaringan listrik yang lumpuh. 

Menurut para pejabat kelistrikan nasional, sebagai respons situasi krisis, pemerintah mengandalkan pembangkit listrik tenaga air alias PLTA, dibanding dengan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Pertimbangannya pembangkit listrik termal akan memakan waktu yang lama dibanding PLTA, untuk pemulihan kondisi.  

Lanjutan Krisis Politik

Negeri di Amerika Latin ini benar-benar merasakan 'bencana' pada awal Maret tahun ini. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, Venezuela merasakan ujian betul kondisi negeri. Krisis politik telah pecah sejak awal 2019 di Venezuela, yang mana melibatkan antara kubu pemerintah pimpinan Presiden Nicolas Maduro melawan kubu opisisi yang dikomandani Juan Guaido. 

Saat krisis politik belum reda dan masih meninggi, situasi makin kacau saat listrik padam total pada 7 Maret 2019 sore waktu setempat. 

Sampai dua pekan setelahnya, listrik masih byar pet. Laporan The Guardian menuliskan, dampak listrik padam nasional ini terjadi di 23 negara bagian termasuk negara bagian Roraima yang berbatasan dengan Brasil. 

Listrik padam nasional ini merupakan yang terparah dalam sejarah Venezuela. Laporan Reuters menunjukkan, pada 12 Maret, listrik sebagaian negara bagian telah aktif kembali tapi ibu kota Caracas sebagian masih gelap gulita. Malahan wilayah Venezuela barat yang berbatasan dengan Kolombia masih gelap gulita. 

Sampai akhir Maret, antara 14 sampai 16 negara bagian dari total 23 negara bagian venezuela masih tanpa pasokan listrik. Ironisnya saat kondisi pasokan listrik belum pulih sepenuhnya, pada 29 Maret terjadi lagi listrik padam total pada malam hari pula. 

Kondisi listrik byat pet dalam sebulan membuat gelojak sosial. BBC melaporkan, aksi penjarahan dan frustasi mayoritas warga muncul. Rumah sakit, transportasi umum, air dan layanan umum lainnya terdampak langsung akibat pemadaman listrik tersebut. 

Pekan pertama listrik padam nasional, petugas medis sudah gusar. Peralatan di ruang ICU harus dimatikan. Dokter menyebutkan, para pasien, terutama pasien anak-anak di ruang ICU 'kini berada di tangan Tuhan'.

Warga lainnya merasakan susah mempertahankan bahan makanan segar. Mereka, menurut laporan BBC, terpaksa menimbun air untuk memasak bahan makanan dengan segera sebelum membusuk.

Venezuela

Pada awal Maret, pemerintah menduga listrik padam nasional akibat serangan siber. Tapi mayoritas warga meyakini, biangnya adalah kekurangan pasokan listrik selama 10 tahun terakhir ini akibat rusaknya struktural di bendungan utama yang menjadi sumber pembangkit tenaga listrik. 

Pada akhir Maret, Presiden Nicolas Maduro menuding listrik padam total akibat 'serangan' ulah kubu oposisi.

Sebaliknya, kubu oposisi mengatakan terjadinya pemadaman listrik akibat minimnya investasi dan praktek korupsi selama dua dekade oleh pemerintahan sosialis.

Pemimpin opisisi pun bereaksi atas tudingan tersebut. Guido mengkritik kenapa pemerintah malah mencari kambing hitam. 

"Ketika masyarakat membutuhkan kepastian di tengah-tengah pemadaman listrik yang tidak menentu, bagaimana mereka bisa terus-menerus mengulangi alasan 'perang listrik' dan sabotase?" tulis Guido dalam cuitan di akun Twitternya. 

Menteri Informasi Jorge Rodríguez seperti diberitakan kantor berita Efe menegaskan, ada sabotase dari kubu anti pemerintah. Listrik padam bukan karena kurangnya pemelihranaan infrastruktur listrik. Malahan Rodriguez menjelaskan listrik padam total di Venezuela adalah karena 'serangan elektromagnetik' dari kubu anti pemerintah, walau tanpa menunjukkan bukti konkretnya.

Sampai sebulan tak bisa mengatasi maslaah listrik padam ini membuat Venezuela kehilangan kepercayaan dari Brasil. 

Sementara itu, Menteri Energi dan Pertambangan Brasil, Bento Albuquerque mengatakan bahwa sejak 7 Maret, Venezuela gagal memenuhi komitmennya untuk memasok listrik ke negara bagian Roraima di Brasil utara.

Dia mengatakan Brasil tengah membangun saluran transmisi untuk menghubungkan Roraima ke seluruh jaringan listrik di Brasil pada paruh kedua tahun ini dan diharapkan selesai pada 2021, sehingga tidak tergantung pada Venezuela.

Dia menambahkan, Brasil juga akan mencari jalan keluar melalui opsi energi terbarukan, seperti angin dan matahari, sebagai alternatif lain agar tidak mengandalkan pasokan daya listrik dari Venezuela.

Presiden Maduro putar otak. Pada 31 Maret 2019, Manutur laporan Voanews, Maduro mengumumkan rencana 30 hari pembagian jatah listrik. 

Maduro mengatakan penjatahan listrik ini akan membantu pemerintah menangani infrastruktur komunikasi dan air di Venezuela. 

Pidaro solusi penjahatan listrik ini disambut dengan sumpah serapah oleh warga Venezuela. Mereka sudah resah dengan pemadaman listrik berulang-ulang. Warga protes dengan membanding dan membenturkan pot, membakar sampah di jalanan dan meneriakkan makian kepada Presiden Maduro. 

Dalam paket efisiensi listrik itu, Maduro mengumumkan sekolah tetap ditutup dan hari kerja dipotong sampai pukul 2 siang, untuk menghemat daya listrik selama sebulan. 


 

Topik Terkait
Saksikan Juga
Warga Gugat PLN Diminta Segera Lakukan Ganti Rugi
TVONE NEWS - 2 bulan lalu