Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Hilang Jabatan Gegara Listrik Padam

Sabtu, 10 Agustus 2019 | 07:58 WIB
Foto :
  • The Korea Herald
Menteri Ekonomi Pengetahuan Korsel Choi Joong-kyung mundur dari jabatannya setelah krisis pemadaman listrik di Korsel pada 15 September 2011.

VIVA – Taiwan, 15 Agustus 2017. Tiba-tiba saja listrik padam, tidak saja di Ibu Kota Taipei, namun juga setengah wilayah negeri pulau itu, termasuk 6,68 juta rumah tangga. 

Sontak saja penduduk gempar, aktivitas lumpuh. Apalagi itu kejadian Selasa sore, pukul 16.52 waktu setempat, saat banyak pekerja bersiap pulang kantor, bahkan masih ada sebagian dari mereka yang berkutat dengan pekerjaan. Para pekerja kantor pemerintah dan perusahaan listrik milik negara, CPC Corporation, sudah pasti terpaksa lembur gegara listrik byar pet.   

Baca Juga

Gelap malam saat itu mulai muncul. Sambil mencari tahu penyebabnya, mulai pukul 6 sore listrik pun dijatah. Untung pihak berwenang masih punya cadangan listrik, namun harus irit sampai pemadaman berakhir dan lampu semua rumah di Taiwan nyala kembali pukul 21.30 waktu setempat, seperti yang diungkapkan stasiun berita CNA English News. 

Suasana di Dihua Street, Taipei, Taiwan 

Apakah masalah saat itu langsung selesai? Tentu saja tidak. Masyarakat Taiwan menuntut penjelasan serta pertanggungjawaban pihak-pihak berwenang. Belakangan penyebabnya terungkap, ternyata ada faktor kelalaian saat tim pekerja CPC tidak langsung mengganti mode automatis ke manual saat pekerjaan penggantian perangkat di Pembangkit Listrik Tatan di Kota Taoyuan. Enam generator utama pun langsung mati, berhenti memasok 4 GW listrik ke konsumen dan pemulihannya pun butuh waktu, demikian kabar dari Bloomberg dan Amcham.    

Masyarakat sebagai konsumen pun marah, media massa tak henti menekan dengan bombardir pertanyaan. Hanya dalam hitungan jam, Presiden Taiwan saat itu, Tsai Ing-wen pun minta maaf kepada rakyat. 

Tak hanya itu, sejumlah pejabat langsung hilang jabatan. Financial Express mengabarkan, sehari setelah krisis, 16 Agustus 2017, Menteri Urusan Ekonomi Lee Chih-kung mengundurkan diri dari jabatannya setelah menyatakan orang yang bertanggung jawab atas pemadaman itu akan dihukum. Tiga hari kemudian Pimpinan CPC Corporation yang bertanggungjawab dalam memasok listrik secara nasional, Chen Chin-te, juga mengundurkan diri. Pengunduran diri Chen diterima Perdana Menteri Lin Chuan.  

Pejabat mundur lantaran listrik padam juga pernah terjadi di Korea Selatan enam tahun sebelumnya. Tepatnya saat 15 September 2011 mati lampu mendadak secara massal melanda lebih dari 2,1 juta rumah tangga dan banyak lagi bangunan di Korsel selama satu jam. 

Media setempat juga mengabarkan sekitar 2.900 orang terjebak di banyak lift, lampu lintas di banyak kota mati total dan produksi di banyak pabrik terganggu. Masyarakat pun marah. Pemerintah saat itu beralasan pemadaman terpaksa terjadi lantaran persediaan listrik saat itu sudah sangat rendah dan bisa membahayakan. 

Hongdae, Korea Selatan

Kemarahan pun ditujukan kepada Menteri Ekonomi Pengetahuan Korsel saat itu, Choi Joong-kyung, karena dianggap tidak becus. Setelah berhari-hari ditekan, Choi pun akhirnya mundur dari jabatannya pada 27 September 2011, seperti diungkapkan media kyunghang.com.  

Dua peristiwa itu menunjukkan bahwa pemadaman listrik merupakan krisis yang tidak hanya baru-baru ini terjadi di Jakarta dan beberapa kota di Pulau Jawa. Banyak negara pun mengalami, mulai dari negara-negara berkembang hingga negara maju seperti Korsel dan Taiwan. Tentu dengan penyebab dan akibat yang berbeda. 

Byar Pet di AS

Negara adidaya Amerika Serikat pun mengalami krisis pemadaman listrik, seperti yang terjadi Juli lalu. Denyut Kota Big Apple tiba-tiba terhenti dan lumpuh. Papan iklan Times Square padam dan menggelap. Gedung Rockfeller Center juga gelap gulita, banyak warga terperangkap di dalam lift, lampu lalu lintas mati, komuter telantar.

Pertunjukan Jennifer Lopez di Madison Square Garden dibatalkan, pengunjung pertunjukan musik yang kadung hadir dievakuasi petugas. Hiburan berganti kegelapan, kekecewaan dan kegusaran. Di mana-mana gelap, di bawah tanah dan di gedung dan hotel.

Gelap gulita itu berlangsung selama 4 jam pada akhir pekan kedua Juli 2019. New York, Kota Big Apple mencekam, listrik padam besar-besaran. 40 ribu orang di Manhattan, salah satu pusat keramaian di New York harus menjalani 4 jam yang gelap. 

New York, AS

Laporan kontributor tvOne di Amerika Serikat menyebutkan, listrik padam total di New York melumpuhkan sebagian jalur darat di Kota berjuluk The City That Never Sleeps. 40 ribu orang di Manhattan terdampak. Penyelidikan awal menyebutkan listrik padam akibat pemutusan karena adanya transformator yang meldak di Upper West Side. 

Sebagai kota yang tak pernah tidur, 4 jam tanpa listrik adalah bencana. Semua lumpuh dan mencekam. Bagi warga New York, listrik padam total adalah hal langka, terakhir kali insiden semacam ini terjadi 42 tahun lalu, pada 1977. Listrik padam ini merepotkan warga pastinya, 72 ribu pelanggan terdampak pada listrik yang putus tersebut. Untungnya tak ada korban jiwa dalam insiden ini dan situasi sudah normal dengan cepat dalam sehari sudah normal sepenuhnya.

Bermula dari Topan

Listrik padam terparah, menurut data Rhodium Group, yang terparah dalam sejarah terjadi di Filipina pada 11 November 2013. 

Biang listrik padam total di Filipina adalah bencana alam topan super Haiyan. Fenomena angin pusar super ini melumat dan memorakprandakan wilayah Filipina. Topan Haiyan menewaskan setidaknya 7 ribu penduduk. Badai paling mematikan di Filipina ini tercatat mempunyai kecepatan angin 305 kilometer per jam saat ganas-ganasnya. 

Dampak topan super itu juga merusak pasokan listrik. Bencana alam ini mengakibatkan 6,1 miliar jam pasokan listrik putus. Listrik di tiga provinsi besar yaitu Samar, Leyte dan Bohol nyaris putus total. Data menunjukkan, sekitar 6,7 juta warga terdampak dengan listrik padam dampak badai super tersebut.

Putusnya aliran listrik benar-benar makin melengkapi derita Filipina. Evakuasi korban dan puing menjadi terkendala. Di mana-mana lumpuh, sampai-sampai pesawat untuk evakuasi juga nyaris lumpuh. 

Salah satu sudut jalanan di Filipina

Laporan laman Los Angeles Times menunjukkan, lumpuhnya pasokan listrik membuat pesawat evakuasi hanya bisa beroperasi pada siang hari. Tentunya kondisi ini membuat evakuasi berjalan lambat. Matinya listrik ini tak disadari oleh warga. 

Pada 12 November subuh hari, ribuan orang menerobos pagar dan bergegas menuju sebuah pesawat di Bandara Tacloban, Pulau Leyte. Para ibu sampai memegang buah hati mereka di atas kepala sampil mengiba, berharap mereka menjadi prioritas mendapatkan tempat duduk dalam penerbangan evakuasi meninggalkan zona badai. 

Bandara ini merupakan salah satunya lapangan terbang utama di Pulau Leyte yang terdampak parah badai super. Akses menuju bandara ini tersumbat puing dan sisa orang meninggal yang membusuk. Praktis untuk mencapai bandara ini perlu waktu setidaknya tiga jam. 

Kengerian ini membuat polisi dan militer menertibkan warga, memaksa ribuan warga meninggalkan pesawat di bandara tersebut. 

Warga tak bisa berbuat apa-apa. Mereka masih bersiaga di sekitar bandara. Begitu ada pesawat kargo yang mendarat, massa korban badai langsung mencoba menuju pesawat mencari aman. 

Selain akses evakuasi, jaringan telekomunikasi di Tacloban lumpuh. Telepon tak berfungsi dan radio lokal mati. Ada kabar, menurut laporan Los Angles Times, saat badai melanda wilayah Tacloban, penyiar radio masih mengudara menggunakan generator. Namun nasibnya nahas, sang penyiar diduga tenggelam. Salah seorang warga menyebutkan Kota tacloban menjadi kota mati sedangkan koresponden BBC melaporkan Kota Tacloban menjadi 'zona perang'. 

Insiden listrik padam terparah dalam sejarah juga terjadi di Puerto Rico. Biangnya adalah Badai Maria yang melanda wilayah Karibia Amerika pada 16 September 2017. 

Badai tersebut membuat infrastruktur porak poranda. 80 persen jaringan listrik Puerto Rico rusak dan lumpuh. Rusaknya infrastruktur menyulitkan untuk menghidupkan lagi aliran listrik ke rumah warga.

Laporan perusahaan riset ekonomi Rhodium Group menunjukkan, akibat badai super tersebut, lebih dari 3,4 miliar pasokan listrik hilang. Firma riset itu melabeli listrik padam di Puerto Rico merupakan kedua yang terparah di dunia. 

Topik Terkait
Saksikan Juga