Halo
Pembaca

Berita

Bola

Ramadan

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Senin, 11 Maret 2019 | 07:15 WIB

Jaga Media Sosial Kita Supaya Tak Diterpa Hoax

Team VIVA »
Endah Lismartini
Bayu Nugraha
Mustakim
Foto :
  • VIVA/M Ali Wafa
Karo Multimedia Mabes Polri Brigjen Pol. Drs. Budi Setiawan, M.M.

VIVA – Arus hoax yang kian deras membanjiri masyarakat di dunia maya turut membuat resah Kepolisian Republik Indonesia. Demi membendung hoax agar tidak terus-menerus meracuni masyarakat, lembaga penegak hukum ini membuat tim khusus.

Di Badan Reserse Kriminal, ada tim yang khusus menindak siapa saja yang membuat resah masyarakat dengan berbagai disinformasi atau hoax yang mereka buat maupun sebarkan. Namun, bagi Polri, menindak saja bukan satu-satunya cara yang efektif memerangi hoax. Perlu juga tim khusus yang berfungsi sebagai pencegah agar warga tidak ikut-ikutan membuat maupun menyebarkan kabar bohong di media sosial.

Baca Juga

Peran pencegahan ini lah yang dijalankan oleh Biro Multimedia di Divisi Humas Markas Besar Polri. Baru dua tahun dibentuk, biro ini menjalankan tugas yang juga tak kalah strategis. Tugas mereka yang berada dalam biro ini adalah membendung arus deras hoax di medsos.

Biro Multimedia memantau informasi yang ramai diperbincangkan di WhatsApp, Instagram, Twitter dan Facebook. Mereka pun mengklarifikasi kabar-kabar viral yang ternyata mengandung hoax dengan cara-cara kreatif, termasuk membuat meme maupun video, sekaligus menyebarkan berita-berita baik dan fakta yang sebenarnya.

Terpopuler

Saat ini Biro Multimedia  ini dipimpin oleh Brigadir Jenderal Budi Setiawan. Brigjen Budi memang figur yang tepat memimpin tim ini. Selama memimpin sejumlah wilayah penugasan, antara lain sebagai Kapolres Bandung Barat dan Kapolres Sumedang, Budi dikenal piawai dalam menerapkan pendekatan persuasif dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dan warga setempat untuk mencegah dan mendeteksi kejahatan di wilayah mereka. 

“Menangkal hoax ini pun harus melibatkan segenap elemen masyarakat. Itu sebabnya saya gandeng tokoh-tokoh masyarakat, ulama, cendekiawan, mahasiswa hingga media massa, karena hoax ini bisa memecahbelah masyarakat sehingga jangan dibiarkan,” ujar Budi saat berbincang-bincang dengan tim VIVA di kantornya beberapa waktu lalu.

Seperti apa sebenarnya tugas Biro Multimedia Divisi Humas Polri? Bagaimana mereka menjalankan tugasnya? Adakah proses edukasi yang dilakukan? Berikut perbincangan VIVA dengan Brigjen Budi Setiawan:

Sejak kapan Biro Multimedia ini dibentuk? Dan apa latar belakang pembentukan Biro Multimedia?
Kita sama-sama tahu perkembangan informasi dan teknologi yang berjalan pesat. Mungkin dulu media sosial itu sekadar buat reunian, lalu percakapan antar-teman, diskusi, kangen-kangenan.

Dan itu kebanyakan tentang perorangan, yang bisa dibatasi dan tidak menimbulkan dampak-dampak. Namun kita ketahui pada saat Pemilu DKI lalu sangat-sangat panas. Oleh karena itu polisi segera mengantisipasi dengan cepat.

Pimpinan saat itu mengantisipasi dinamika yang ada di media sosial ini. Oleh karena itu dibentuk suatu tambahan biro supaya khusus untuk mengantisipasi hal itu. Maka tahun 2017, tepatnya 22 Februari, dibentuklah Biro Multimedia. Nah sekarang umurnya sudah dua tahun.

Ada berapa tambahan biro yang dibentuk? Apa saja harapan pembentukan biro ini?

Ada tiga. Kalau di Bareskrim ada Direktorat Siber, di Baintelkam ada Direktorat Kamsus dan di Humas, sebagai sosialisasi penerangan itu, Dibentuklah Biro Multimedia. Sehingga biro multimedia diharapkan jadi suatu masukan atas apa yang sedang berkembang.

Di medsos kita jadi cepat tahu dan itu sebagai bahan dilaporkan ke pimpinan sebagai kebijaksanaan pimpinan lebih lanjut.

Apa tugas pokok dan fungsi biro ini?

Jadi Tupoksinya ada tiga. Pertama, bagian pemantauan dan analisa. Pemantauan itu yang sering didengar itu namanya patroli siber. Jadi kita dengan anggota yang cukup dan di-back up Polda, Polres dan Polsek, kita melakukan patroli siber. Kenapa disebut patroli, karena bahasa polisi lebih gampang.

Kalau patroli kerjaannya polisi. Kita melakukan patroli siber di waktu-waktu rawan, saat acara-acara seperti Pilkada atau saat ini Pilpres dan Pileg atau kegiatan lain. Kita memantau itu, baik di medsos FB, WA, Twitter, Instagram.

Dari pantauan itu, jika mencurigakan atau terindikasi berita-berita kebohongan, ujaran kebencian, black campaign, kita ambil dan analisa terhadap berita itu. 

Bagaimana prosesnya?

VIVA – Arus hoax yang kian deras membanjiri masyarakat di dunia maya turut membuat resah Kepolisian Republik Indonesia. Demi membendung hoax agar tidak terus-menerus meracuni masyarakat, lembaga penegak hukum ini membuat tim khusus.

Di Badan Reserse Kriminal, ada tim yang khusus menindak siapa saja yang membuat resah masyarakat dengan berbagai disinformasi atau hoax yang mereka buat maupun sebarkan. Namun, bagi Polri, menindak saja bukan satu-satunya cara yang efektif memerangi hoax. Perlu juga tim khusus yang berfungsi sebagai pencegah agar warga tidak ikut-ikutan membuat maupun menyebarkan kabar bohong di media sosial.

Peran pencegahan ini lah yang dijalankan oleh Biro Multimedia di Divisi Humas Markas Besar Polri. Baru dua tahun dibentuk, biro ini menjalankan tugas yang juga tak kalah strategis. Tugas mereka yang berada dalam biro ini adalah membendung arus deras hoax di medsos.

Biro Multimedia memantau informasi yang ramai diperbincangkan di WhatsApp, Instagram, Twitter dan Facebook. Mereka pun mengklarifikasi kabar-kabar viral yang ternyata mengandung hoax dengan cara-cara kreatif, termasuk membuat meme maupun video, sekaligus menyebarkan berita-berita baik dan fakta yang sebenarnya.

Saat ini Biro Multimedia  ini dipimpin oleh Brigadir Jenderal Budi Setiawan. Brigjen Budi memang figur yang tepat memimpin tim ini. Selama memimpin sejumlah wilayah penugasan, antara lain sebagai Kapolres Bandung Barat dan Kapolres Sumedang, Budi dikenal piawai dalam menerapkan pendekatan persuasif dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dan warga setempat untuk mencegah dan mendeteksi kejahatan di wilayah mereka. 

“Menangkal hoax ini pun harus melibatkan segenap elemen masyarakat. Itu sebabnya saya gandeng tokoh-tokoh masyarakat, ulama, cendekiawan, mahasiswa hingga media massa, karena hoax ini bisa memecahbelah masyarakat sehingga jangan dibiarkan,” ujar Budi saat berbincang-bincang dengan tim VIVA di kantornya beberapa waktu lalu.

Seperti apa sebenarnya tugas Biro Multimedia Divisi Humas Polri? Bagaimana mereka menjalankan tugasnya? Adakah proses edukasi yang dilakukan? Berikut perbincangan VIVA dengan Brigjen Budi Setiawan:

Sejak kapan Biro Multimedia ini dibentuk? Dan apa latar belakang pembentukan Biro Multimedia?
Kita sama-sama tahu perkembangan informasi dan teknologi yang berjalan pesat. Mungkin dulu media sosial itu sekadar buat reunian, lalu percakapan antar-teman, diskusi, kangen-kangenan.

Dan itu kebanyakan tentang perorangan, yang bisa dibatasi dan tidak menimbulkan dampak-dampak. Namun kita ketahui pada saat Pemilu DKI lalu sangat-sangat panas. Oleh karena itu polisi segera mengantisipasi dengan cepat.

Pimpinan saat itu mengantisipasi dinamika yang ada di media sosial ini. Oleh karena itu dibentuk suatu tambahan biro supaya khusus untuk mengantisipasi hal itu. Maka tahun 2017, tepatnya 22 Februari, dibentuklah Biro Multimedia. Nah sekarang umurnya sudah dua tahun.

Ada berapa tambahan biro yang dibentuk? Apa saja harapan pembentukan biro ini?

Ada tiga. Kalau di Bareskrim ada Direktorat Siber, di Baintelkam ada Direktorat Kamsus dan di Humas, sebagai sosialisasi penerangan itu, Dibentuklah Biro Multimedia. Sehingga biro multimedia diharapkan jadi suatu masukan atas apa yang sedang berkembang.

Di medsos kita jadi cepat tahu dan itu sebagai bahan dilaporkan ke pimpinan sebagai kebijaksanaan pimpinan lebih lanjut.

Apa tugas pokok dan fungsi biro ini?

Jadi Tupoksinya ada tiga. Pertama, bagian pemantauan dan analisa. Pemantauan itu yang sering didengar itu namanya patroli siber. Jadi kita dengan anggota yang cukup dan di-back up Polda, Polres dan Polsek, kita melakukan patroli siber. Kenapa disebut patroli, karena bahasa polisi lebih gampang.

Kalau patroli kerjaannya polisi. Kita melakukan patroli siber di waktu-waktu rawan, saat acara-acara seperti Pilkada atau saat ini Pilpres dan Pileg atau kegiatan lain. Kita memantau itu, baik di medsos FB, WA, Twitter, Instagram.

Dari pantauan itu, jika mencurigakan atau terindikasi berita-berita kebohongan, ujaran kebencian, black campaign, kita ambil dan analisa terhadap berita itu. 

Bagaimana prosesnya?

Itu kalau, apabila ini perlu diperingatkan, kita ambil. Setelah itu kita analisis ini berita dari mana yang di-hoax-kan? Kalau perorangan kita cek. Kalau institusi kita sampaikan koordinasi, ini berita benar apa enggak?

Kalau jawab, 'Wah enggak benar, Pak' dan bagaimana berita sebenarnya. Di situ kita memilah dan dikonter, ini lho yang bener.

Yang enggak benar kita stempel hoax, tapi kita jelaskan ini lho yang benar. Sudah dicek oleh otoritas dan masyarakat jelas.

Namun apabila ada berita hoax yang sudah kita konter tapi mengakibatkan konflik, termasuk berita isu tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos beberapa waktu lalu, itu kita teruskan ke penyidik.

Kalau di Mabes ke Bareskrim, kalau di Polda ke bagian sibernya untuk ditindak lanjuti penindakan hukumnya. Kita hanya menjelaskan ke masyarakat.

Apakah sebatas mengklarifikasi berita hoax atau ada tugas lain?
Ada bagian kreatif dari hasil patroli dan analisa. Membuat video menyejukkan atau prestasi. Buat meme-meme atau konten yang tujuannya cooling system atau menyejukkan.

Lalu ada bagian diseminasi, menyebarkan yang positif dan baik buat masyarakat. Baik kegiatan Polisi, pemerintah atau masyarakat. Di situ kita kasih penjelasan dan peringatan.

Kami harapkan media massa juga berperan. Karena medsos ini, baik cetak, online, itu adalah kepedulian kita bersama.

Peduli perkembangan medsos. Jangan sampai Tahun Politik ini terpapar kebohongan. Jadi kita ikut menjaga dan mengendalikan. Jangan sampai masyarakat jenuh dan ragu perkembangan medsos.

Apakah Biro Multimedia juga melakukan edukasi. Jika demikian, bagaimana model atau teknis dari edukasi tersebut?

Kami lakukan dari awal. Kami punya program seperti, mungkin bukan hanya multimedia tapi divisi humas melakukan goes to campus, melakukan focus group discussion. Kita sosialisasi edukasi termasuk ke internal kita.

Ada 13 Polda kita sosialisasikan secara internal. Lalu dengan para netizen, ulama, tokoh masyarakat, mahasiswa, ibu-ibu kita jelaskan. Kita menyosialisasikan tidak sendiri.

Kita undang pakar komunikasi, pakar media sosial. Kita mengambil cendekiawan dari dosen sehingga masyarakat juga dapat memahami dan mengerti serta diharapkan cerdas bermedia sosial.

Bagaimana Anda melihat perkembangan media sosial saat ini?
Sekarang media sosial dipakai untuk segala macam. Jadi kalau dulu medsos penipuan mama minta pulsa, atau berita jualan obat, dan menjatuhkan produk lain, ujung-ujungnya naikin produk dia.

Tapi sekarang sudah kepada ideologi, politik. Makanya kita mengajak semuanya untuk menjaga dan mengontrol perkembangan medsos ini. 

Banyak yang mengatakan masyarakat kita belum siap dengan perkembangan media sosial dan dunia internet yang maju pesat. Apa benar? Bagaimana tanggapan Anda?

Saya tidak sepakat. Contoh pada saat munculnya mesin uap pasti pada zamannya harus kita lakukan. Begitu juga zaman elektrik waktu bawa pager sudah paling hebat. Lalu muncul handphone bisa ngomong percakapan, SMS, itu sudah hebat.

Sekarang zaman 4.0 itu tidak bisa ditinggalkan. Harus kita hadapi dan belajar. Enggak bisa ditakuti. Harus kita hadapi tapi harus kita jaga. Kalau enggak ikuti nanti kita terkucil. Kalau bisa kita yang pegang, jangan takut.

Khususnya generasi milenial. Ada yang takut karena enggak mau belajar. Perkembangan harus kita ikuti, tapi jangan lupakan. Tiap jam main handphone tetap bekerja dan keluarga. Dulu antar surat berhari-hari, tapi sekarang cepat. Bisa live seolah-olah dekat.

Saat ini fake news dan hoax bertebaran di internet dan sosial media. Tanggapan Anda?
Segala sesuatu ada dampak positif dan negatif. Positifnya, sangat bagus sekarang kita ingin tahu apapun bisa. Ada negatifnya, kalau salah menggunakan. Ada berita bagus kita ubah-ubah. Ada gambar bagus kita edit.

Ada peristiwa seolah-olah dibilang penculikan anak, akhirnya orang awam percaya. Media sosial sama saja menggenggam dunia. Contoh saya pegang ini (handphone) apapun bisa. Pengen bakso saja, bisa datang.

Menurut Anda kenapa marak fake news dan hoax di internet dan media sosial?

Kita mengendalikan, dan semua elemen harus menjaganya. Jadi sebenarnya, penyebabnya mungkin juga adanya kemudahan dan kepraktisan menggunakan medsos.

Kita dulu nyebarin berita pakai SMS, itu kena [tarif]  200 hingga 300 perak. Tapi dengan medsos berapa banyakpun, pakai kuota. Tapi alhamdulilah WA sudah dibatasi.

Kita juga kadang keenakan. Terima berita, dibaca aja belum, main disebarkan. Padahal yang menerima belum tentu sepaham.

Keluarga saja belum tentu sepaham. Sekarang tahun politik ini praktis, kadang-kadang lupa medsos bukan privat tapi publik. Apa yang kita sebarkan bukan ranah pribadi lagi. Mau awalnya japri karena dalam satu grup belum tentu satu paham.

Ada  contoh kasus buruk akibat perang di medsos?

Contoh di Madura itu, beberapa waktu lalu, satu grup [WhatsApp], tapi karena salah paham bacok-bacokan. Kita harus bijaksana bermedsos, karena polisi berharap ujung-ujungnya Kamtibmas terjaga.

Jangan Kamtibmas terganggu akibat perkembangan medsos. Kita melakukan giat di medsos tetap menjadi penyejuk. Ini di demokrasi. Kalau beku juga tidak baik. Makanya kita imbangkan, khususnya di medsos agar stabil.

Ibarat mobil kalau dingin enggak bisa jalan, makanya dipanaskan. Kalau kepanasan bisa meledak. Kita mengontrol perkembangan di medsos stabil dalam pesta demokrasi. Kita tetap netral dan menjaga situasi aman.

Bagaimana Polri menyikapi maraknya fakenews dan hoax di media sosial?
Kami punya tugas pokok, mulai dari pemantauan perkembangan. Ini dinamika medsos, bukan hari tapi jam. Kita kontrol kalau berdampak kita serahkan ke penegakan hukum. Jangan ribut di medsos kalau ada yang enggak bener, bisa dilaporkan.

Tapi saya percaya media massa tidak akan nyebarin hoax, karena akan ditinggal. Kita juga mengecek di media massa soal hoax. Misalnya ada kabar penculikan, saya lihat saja media arus utama [mainstream]. Tapi kalau orang enggak paham bisa percaya. Kalau media mainstream pasti di lokasi, karena media massa yang kredibel enggak mau ketinggalan.

Menurut Anda apa yang harus dilakukan masyarakat, khususnya netizen guna menangkal fakenews dan hoax?
Jadi saya harapkan masyarakat, tokoh, ulama, cendikiawan, pers, harus peduli dan menjaga medsos. Kalau ada berita cerdas, kita telaah, harus mau baca. Kebiasaaan cukup dilihat saja dari screenshot. Logikanya, masuk akal enggak itu? Minimal kita biarkan kalau enggak peduli. Jangan kita share dan ngamuk.

Syukur syukur kita sampaikan kalau itu berita tak bagus. Kita kasih tahu, "Pak, Bu, Bro, Sis itu berita enggak baik, ditarik gih."  Kalau udah bagus. Lupakan. Tapi kalau gencar laporkan ke aparat saja. Jadi kita sama sama peduli dan cerdas.

Menurut Anda apa yang harus dilakukan pemerintah guna menangkal dan memerangi fakenews dan hoax?
Semua instansi punya biro humas, itu harus peduli. Jadi kita peduli dan kontrol, minimal menjaga institusinya.

Diterpa hoax jangan diam. Syukur syukur bisa kontrol instansi yang lain juga. Nanti kontrol lain bisa disampaikan. Juga sampaikan hal positifnya agar masyarakat tahu. Jadi jangan yang tahu orang itu berita hoax.

Masyarakat kalau tahu, kalau ada apa apa bisa langsung ke instansinya. Masyarakat kita ayomi apalagi masyarakat milenial. Kita jangan menjauh tapi mendekat. Humas itu ujung tombak. Bagaimana menyajikannya. Kalau jelek orang menjauh.

Apa harapan Biro Multimedia Mabes Polri kepada masyarakat?
Kalau harapan saya perkembangan teknologi itu harus dihadapi jangan ditakuti. Suka enggak suka, perkembangan akan melejit. Manusia, mesin dan data harus menyatu. Kita tanpa mesin dan data oleng.

Contohnya saya mau ke Bandung, jalan tol macet dan saya enggak tahu data jalan lintas. Kalau tahu buka data lewat Pantura. Saya harapkan masyarakat dan semua pihak harus cerdas dan banyak baca berita untuk menambah wawasan.

Kita menjaga agar media sosial tidak terpapar berita hoax. Kita pengennya, yuk sama sama perkembangan media sosial, yang mendukung kita harus kita jaga. (ren)

Topik Terkait
Saksikan Juga
Ustaz Lancip Terancam 'Tertusuk' Kata-katanya Sendiri
BERITA - 2 hari lalu
Terbaru