Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Insight

Informasi

Tarik-menarik Kewenangan Hambat Pertumbuhan Batam

Senin, 15 April 2019 | 06:14 WIB
Foto :
  • VIVA/Muhamad Solihin
Kepala Otoritas Batam, Edy Putra Irawady

Itu sampai sekarang?

Iya sampai sekarang berdasarkan Permenkeu 120 Tahun 2017. Tapi, bagi kementerian lain atau lembaga yang ingin memberlakukan pengaturan di kawasan Batam itu harus memberitahukan kepada Menteri Keuangan. Dan itu dengan alasan keamanan, kesehatan, keselamatan, lingkungan itu harus dipenuhi. Kalau itu sudah terpenuhi baru diizinkan oleh Kementerian Keuangan. Karena itu kan wilayah bebas fiskal, wilayah Kementerian Keuangan. Tetapi di dalam praktiknya, tadi saya sudah katakan baik yang dari Kementerian LHK, Kementerian Perindustrian, itu juga ingin masuk di sana. Misalnya ingin mendirikan reklamasi itu kan harus ada izin Kementerian LHK, dan lain sebagainya. Sehingga Batam itu sulit bergerak sekarang ini.

Baca Juga

Artinya kementerian lain membuat kebijakan yang menghambat pertumbuhan ekonomi di sana?

Iya. Kalau kita lihat di seluruh dunia, kawasan FTZ itu lahir dari ketentuan kepabeanan. Itu memang wilayah yang tidak dikenakan fiskal. Karena memang kepentingannya untuk mengambil yang lebih besar. Jadi Batam ini kayak umpan lah. Dikasih ikan kembung, harapannya dapat ikan tuna. Biaya masuk dibebaskan, tetapi income-nya nanti kita dapatkan lebih dari itu. Dan itu akan memberikan kontribusi ke nasional. Itu konsepnya dari awal. Tapi dalam perjalanannya baik itu peraturan lokal, maupun peraturan pusat, mengurangi makna FTZ. Itu yang terjadi.

Sehingga kalau Anda dengar, banyak sekali perusahaan yang masuk keluar, masuk keluar lagi di sana, ya karena itu tadi. Kepastian bisnisnya yang tidak ada. Itu yang terjadi sampai hari ini. Artinya, kalau dulu mereka bebas keluar masuk di Batam, ada segi positifnya, segi positifnya dengan kebebasan itu, mereka menjadikan Batam sebagai tempat kegiatan yang orang lain nggak mau kerjain lagi, misalnya recycle produk. Itu memang peradaban dalam sektor ekonomi. Peradaban itu semakin tinggi suatu negara mereka akan meninggalkan manufaktur yang berat. Mereka akan pegang jasa saja, itu berlaku di seluruh dunia. Makanya, sebenarnya Batam itu secara peradaban dia menarik, karena letaknya itu di antara dua samudera dan dua benua. 

Artinya Batam secara geografis memang strategis?

Orang berniaga pasti lewat Batam. Jadi bagi negara lain, Batam ini secara geopolitik atau geostrategi ini menarik, ketimbang Vietnam misalnya karena posisinya dia masuk ke dalam, beda dengan Batam. Nah, ini yang membuat secara peradaban Batam ini yang dilihat dunia. Kemudian secara perjanjian ekonomi juga tetap menarik.

Kenapa?

Uni Eropa perjanjian perdagangannya tidak banyak, pasar kita besar loh. Dia mau masuk ke kita lewat mana? Amerika, Timur Tengah, Rusia mereka tidak punya perjanjian perdagangan seperti kita. Nah, gimana mereka menggerayangi pasar yang sangat besar dengan biaya yang sangat tinggi ini kan? Satu-satunya cara kan lewat Batam. Investasi di Batam, artinya akan menjadi konten buatan Batam. Jadi dia bisa masuk ke kita. Jadi Batam ini benar-benar luar biasa, dari segi geografi, segi peradaban maupun kerja sama ekonomi, Batam pasti dicari. Apalagi Batam ada FTZ. 

Kepala BP Batam, Edy Putra Irawady 

Apakah ada ketentuan investasi di Batam?

Jadi siapa pun yang ingin investasi di Batam, dia harus sewa dengan negara ini, dan sewanya harus minimal 30 tahun. Dengan membayar sewa 30 tahun itu artinya mereka yang bisa masuk itu adalah mereka yang benar-benar ingin usaha di Batam. Jangan sampai sewa lahan saja tapi setelah disewa tidak digunakan untuk apa-apa. 

Apakah ada sanksi bagi penyewa lahan yang membandel?

Kalau dulu itu hampir tidak ada, meskipun di dalam perjanjian sewa itu ada ketentuannya, kalau dia mau alihkan lahan harus persetujuan dari Otorita Batam. Tapi belakangan ini semuanya kita ubah, kita perketat. Kita harus mendapatkan sertifikat dulu, habis sertifikat baru kita bisa alokasikan, ada juga sistem sewa dengan bayar angsuran, nah ini perkembangannya. Kalau dulu itu sampai diwariskan. Padahal dalam UU itu tanah itu sebagai salah satu fasilitas negara. Fasilitas yang diberikan kepada investasi itu yang jelas tanah, perizinan, keimigrasian, tenaga kerja, dan terakhir insentif fiskal. Itu yang kita berikan untuk menggoda investor masuk ke kita.

Itu yang kemarin sempat memicu konflik di sana?

Banyak, itu salah satu saja. Artinya itu yang tadi saya bilang itu semua memengaruhi pada percepatan investasi, industri dan impor itu jadi terganggu. Ini permasalahan ekonomi yang terjadi di Batam sekarang. Oleh karena itu, kita transformasi sekarang ke KMK. Karena supaya kita tidak lagi terlalu banyak mengatur barang konsumsi. 

Jadi sekarang memang terjadi pergeseran?

Iya jauh. Pertama FTZ-nya sendiri terganggu untuk kegiatan investasi dan ekspor. Kedua, karena pertumbuhan penduduk di sana sekarang tinggi sampai 1,2 juta lah kira-kira. Oleh karena itu Batam itu tetap butuh barang konsumsi. Jadi Batam itu tidak hanya urusin investasi dan impor, tapi juga bagaimana memenuhi kebutuhan konsumsi. Akibatnya kawan-kawan di sini melihat sia-sia dong fasilitas fiskal ini. Ekspor kita tinggi 10 persen per tahun. Tapi persoalan kedua, Apakah semua ekspor itu devisanya masuk ke Batam? Karena kerjaan kita hanya me-recycle. 

Lalu apa yang Anda lakukan untuk membenahi semua ini?

Saya itu sebenarnya melakukan pembenahan tata kelola. Kami lagi melihat apa yang banyak dilakukan itu kurang akuntabel, kurang transparan. Kalau sekarang prinsip birokrasinya kan harus good governance. Tugas saya, pertama untuk mengharmoniskan pelayanan antarpemerintah daerah, BP Batam, dan pemerintah pusat. Kita punya sistem khusus untuk mengharmoniskan itu semua. Kedua, kami kompak, saya, pemda, bea cukai, dan sebagainya itu membuat klinik usaha. Jadi kalau orang-orang mau konsultasi, ada masalah, ada gangguan dan lain-lain dia cuma datang ke klinik. 

Selain itu?

Ketiga, yang saya lakukan adalah setiap perusahaan yang punya nilai tambah besar, kan tadi saya bilang, saya lihat tiap tahun rata-rata tidak sampai Rp1 triliun investasi yang masuk. Nah sekarang, dua bulan ini sudah Rp671 miliar sudah masuk. Karena itu tadi dia punya sistemnya, dia punya pelayanan, dan saya punya Garda. Garda itu untuk perusahaan yang memiliki nilai investasi yang besar, pasukan saya datang untuk membantu dia. Kita tanya, ada masalah nggak? Investasinya udah jalan apa belum? Jadi mereka merasa menyatu dengan kita. Karena pengusaha itu yang paling penting ada kenyamanan dan kepastian itu saja. Kalau mereka merasa mahal dan tidak ada kepastian, mereka tidak akan invest. (art) 

Topik Terkait
Saksikan Juga