Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Senin, 22 April 2019 | 06:00 WIB

Tantangan Investasi Tol Tak Hanya Cari Duit dari Traffic

Team VIVA »
Raden Jihad Akbar
Foto :
  • Raden Jihad Akbar/VIVA.co.id
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Danang Parikesit.

VIVA – Pembangunan infrastruktur, khususnya jalan tol menjadi salah satu yang menonjol di Pemerintahan Joko Widodo selama empat tahun terakhir. Konektifitas jalan bebas hambatan terus didorong dengan harapan bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi. 

Tujuan lain yang tak kalah penting adalah memberikan alternatif kepada masyarakat untuk dapat menggunakan jalan nasional selain non tol. Misalnya untuk keperluan tradisi mudik Lebaran di negara yang mayoritas muslim ini. 

Baca Juga

Di tahun-tahun akhir masa jabatan Jokowi, sejumlah ruas tol yang telah tersambung secara maraton diresmikan satu persatu. Paling menonjol adalah Trans Jawa sepanjang kurang lebih seribu kilometer, yang telah tersambung dari Merak hingga Surabaya dan sebagian lagi hingga Banyuwangi sedang dibangun. 

Selain di Jawa, mega proyek jalan tol juga ada di Sumatera. Jika terpilih kembali menjadi presiden, Jokowi berjanji, tol Trans Sumatera sepanjang lebih dari dua ribu kilometer dari Bakauheni hingga Aceh akan tersambung. 

Tak hanya infrastruktur fisik, proses bisnis dan tata kelola jalan tol pun dibenahi. Mulai dari perawatan hingga sistem pembayarannya terus dikembangkan ke arah digital. Seperti pembayaran yang tadinya tunai menjadi non tunai (cashless) menggunakan kartu. Dan ke depannya diwacanakan dari menggunakan kartu menjadi menjadi tanpa kartu atau cardless

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol, Danang Parikesit buka-bukaan kepada VIVA mengenai pengembangan jalan tol dan rencana-rencana ke depan yang akan dilakukan. Berikut ini kutipan wawancaranya. 

Bagaimana persiapan infrastruktur jalan tol menghadapi Lebaran 2019?

Lebaran itu memang strategi untuk traffic arrangement-nya bersama Korlantas Polri dengan Kementerian Perhubungan. Sehingga pilihan misalnya contraflow, itu penting kita pertimbangkan. 

Kemudian, imbauan bagi masyarakat mudik secara bertahap, itu juga sesuatu yang bisa kita lakukan. Begitu juga arus baliknya. Prinsipnya, kombinasi dai peningkatan kapasitas jaringan jalan ditambah skenario lalu lintas diharapkan bisa jauh meningkatkan kelancaran lebaran pada tahun ini. 

Kenapa ruas tol Jakarta-Cikampek Elevated atau tol layang tidak jadi difungsikan saat mudik Lebaran? 

Tadinya kita berharap kan Jakarta-Cikampek Elevated bisa digunakan untuk contraflow juga. Jadi satu arah digunakan, kalau mudik untuk ke arah timur, kemudian pas balik ke arah barat. Jadi tadinya direncanakan pas mudik difungsikan satu arah.

Tapi yang penting pola perjalanannya kita atur sedemikian rupa, pulangnya tidak terakumulasi dengan contraflow, saya kira lebih efektif dibandingkan kita memfungsikan satu jalur elevated. Yang kondisi saat ini kemajuannya belum bisa dijamin pada saat Lebaran bisa fungsional. Karena kita kan lebih mengutamakan safety.

Persiapan rest area untuk jalur tol yang dilewati mudik seperti apa? 

Kita harapkan fungsional. Nanti bulan puasa kita akan melakukan pendalaman ke semua jalan tol kita bahkan mungkin kita mulai persiapkan tidak hanya yang Trans Jawa tapi juga Trans Sumatera. Paling tidak Palembang ke Bekauheni, meski tak semua operasional tapi fungsional semua bisa kita jalani. 

Salah satu yang kita kembangkan adalah memfungsikan rest area yang sudah ada lahannya tapi belum ada infrastruktur pendukung. Di Sumatera kita juga bisa buat temporary sementara untuk mudik dan balik. Tempat istirahat, toilet, kamar mandi dan tempat ibadah yang itu diharapkan bisa membantu arus mudik. 

Untuk tol Trans Jawa ruas mana saja yang belum bisa dilewati?

Yang jelas Probolinggo-Banyuwangi belum dibangun ya. Kemudian, Pandaan-Malang seksi lima.

Ada penemuan situs di ruas Malang-Pandaan apakah bisa difungsikan saat Lebaran?

Itu yang terdapat situs cagar budaya sudah disepakati bersama mengenai wilayah kawasan cagar budaya tersebut. Saya sudah dapat laporan sudah disepakati kawasan itu tidak luas dan hanya satu spot tertentu. 

Solusinya?

Di seksi lima itu kita lakukan pergeseran 10 meteran ke timur. Itu diharapkan tidak mengganggu situs cagar budaya tersebut. Implikasi dari pergeseran itu memang pertama, kita harus menyesuaikan desain strukturnya. 

Kedua, waktunya tidak seperti kita harapkan, Jadi untuk Malang-Pandaan mungkin seksi 1,2,3,4  bisa difungsikan, hanya seksi lima yang mungkin belum bisa fungsikan. Seksi 1,2,3,4 itu juga saya rasa sudah cukup memadai untuk meningkatkan kelancaran di Jawa Timur. 

Tarif tol Trans Jawa Kenapa mahal?

Sampai hari kini kita masih menunggu info badan usaha yang akan mengevaluasi diskon tarif Trans Jawa. Harapannya kalau market merespons bagus diskon ini akan meningkatkan volume di Trans Jawa, sehingga terjadi keseimbangan baru antara pengguna jalan tol dan nasional yang bukan nol. Memang ini menurut saya keseimbangan itu penting.

Penentuan tarifnya bagaimana? 

Ya kita lihat kan ini nilai investasinya tidak sama. Tapi ke depan, sambil kita lihat, mudah-mudahan ada tarif konvergensi ke depannya. Sehingga masyarakat tau persis dan paham bagaimana tarif itu terbentuk. 

Ini kan masih on average ya, rata-rata berada di Rp1.000 per km. Meskipun untuk ruas-ruas baru seperti di Pasuruan-Probolinggo itu sudah lebih dari Rp1.500 per km. sementara di sisi lain kita punya Jagorawi biayanya sangat rendah hanya cover biaya operasi. 

Jadi ini cuma karena masa konsesinya beda-beda, biaya investasinya beda-beda, dan karena pengembalian investasi merupakan salah satu pertimbangan mengenai tarif jadi itu memang beda-beda. Kita juga sangat pahami ya, karena kondisi geografinya kadang tidak mudah untuk menyamakan tarif standar. 

Kalau nanti suatu saat kita sudah pakai Multi line Free Flow (MLFF), tol tanpa kartu, tarifnya bisa kita konsolidasi, kemudian tarifnya kita samaratakan, itu bisa. Tapi mungkin itu belum untuk jangka pendek karena MLFF masih kita evaluasi. 

Adakah kemungkinan tarif Trans Jawa bisa turun?

Kalau kondisi sekarang susah. Tapi, kalau kita sudah pakai MLFF, kita konsolidasi semua revenue-nya, ada kliring, nah itu kemudian baru kita bisa redistribusi kembali kepada badan usaha. Kita bisa melakukan banyak hal. 

Misalnya kalau revenue kita konsolidasikan, ke masyarakat kita bisa semua sama, tapi ke badan usaha sesuai dengan besarnya investasinya. Kalau itu dikumpulin dan diredistribusi lagi itu bisa. Arah kita juga sudah ke sana.  Sehingga masyarakat bisa mudah memahami tarif tol itu sekian dan itu merupakan harga konsolidasi dari semua tarif yang dikenakan ke Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) untuk mengembalikan investasi mereka. 

Topik Terkait
Saksikan Juga
Rizieq di Reuni 212, Tarif Tol Naik & Mata Novel Baswedan
BERITA - 9 bulan lalu