Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Insight

Informasi

Tantangan Investasi Tol Tak Hanya Cari Duit dari Traffic

Senin, 22 April 2019 | 06:00 WIB
Foto :
  • Raden Jihad Akbar/VIVA.co.id
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Danang Parikesit.

Progres pembangunan Trans Sumatera bagaimana? 

Dari 2.900 km yang yang 200 km sudah dibangun dan dioperasikan. Yang 2.700 km itu yang ditugaskan ke Hutama Karya, jadi seluruh jaringan tol di Sumatera itu yang kita namakan Trans Sumatera. 

Baca Juga

Di Palembang sudah ada Palembang-Indralaya, kemudian Bakauheni-Terbanggi Besar. Nah Terbanggi Besar ke Indralaya yang kita belum bisa operasional penuh tapi bisa kita bisa fungsionalkan pada saat Lebaran nanti. Sehingga, pada saat mudik dan arus balik harapan kita  antara Palembang ke Bakauheni sudah bisa dimanfaatkan pemudik. 

Apa tantangan utama bangun tol di Sumatera? 

Ada dua hal, secara engginering dan keuangan. Secara enggenering tol di Sumatera tanah lunak dan tanah gambut. Dan di ruas-ruas sirip dari selatan ke utara dan ada juga dari timur ke barat seperti Bengkulu ke Sumatera Selatan, dari Sumatera Barat ke Riau, itu banyak tanah gambut dan rawa. 

Itu tantangan besar bagi pembangunan kontraktor kita. Beberapa teknik dan teknologi baru sudah digunakan untuk mengantisipasi lahan gambut dan penurunan tanah. Kalau barat ke timur, persoalan utama tentu saja bukit barisan. 

Kemarin sudah dilaporkan oleh Hutama Karya untuk Bengkulu saja itu akan menempuh bukit barisan yang cukup panjang sekitar 4 km. Kemudian di Sumatera Barat juga kita akan tembus bukit barisan, terowongan-terowongan panjang. 

Ini merupakan milestone atau capaian-capaian baru  yang saya kira menjadi penting. Apalagi ini yang melaksanakan semua kan Hutama Karya BUMN kita. Menurut saya ini Karya bangsa yang musti kita apresiasi. Itu dari sisi enggenering.

Total terowongan di tol Trans Sumatera ada berapa?

Bengkulu itu ada 4 km. Apakah itu melurus atau terpotong-potong kita lihat, Nah di Padang ada 2 yang panjangnya masih kita ukur. Itu jelas termasuk-terowongan-terowongan terpanjang yang nantinya akan dibangun oleh anak bangsa. 

Soal pembiayaan proyek Trans Sumatera bagaimana? 

Kita tahu kalau dibandingkan Trans Jawa kan traffic-nya itu jauh. Jadi secara keuangan return of investment atau pengembalian investasi tol Trans Sumatera kalau hanya mengandalkan pendapatan tiket dan tarif itu pasti tidak akan bisa memenuhi investasi. 

Oleh karena itu, tantangan utama tol Trans Sumatera itu terutama badan usaha yang memegang konsesi, adalah mengabungkan pendapatan tol dan non tol. Misalnya kita dorong pembangunan kawasan-kawasan industri dan kawasan pariwisata. Yang dia mengisi traffic jalanan dan pada saat yang sama dia menumbuhkan ekonomi daerah. 

Kawasan-kawasan pariwisata yang dikembangkan pemda juga bisa dihubungkan dengan tol itu. Dan juga penting sekali menghubungkan sistem jaringan jalan tol ini dengan bandara dan pelabuhan yang ada di Sumatera. 

Jadi memang pendekatannya berbeda, kalau di Jawa mengakomodasi traffic yang besar, yaitu berpotensi kemacetan di kota. Kalau tol Trans Sumatra itu justru bisa semakin mendorong perekonomian sehingga bisa mengimbangi pertumbuhan di Jawa khususnya Jabodetabek.

Harapannya apa untuk tol ini?

Itu bisa menjadi mesin ekonomi baru. Apalagi kalau kita sukses yang menggabungkan investasi tol  dengan kawasan industri, pariwisata, kawasan bisnis, ini menjadi mungkin yang pertama di Indonesia yang komprehensif. Karena tidak hanya berbicara infrastruktur tapi juga sektor rill, industri, perkebunan, pertambangan, perdagangan dan sektor-sektor lainnya yang tumbuh karena jalan tol.

Dan menurut saya sangat menarik ya, pemerintah kita menerbitkan perpres tol Trans Sumatera dan itu atfirmatif dari pemerintah dengan biaya APBN se minimal mungkin. Sehingga badan usaha lah yang ditugaskan, tapi juga difasilitasi oleh kebijakan pertanahan, kawasan industri dan sebagainya. 

Lima tahun ke depan akan jadi sesuatu saat yang menarik untuk Sumatera. 2024 harus tersambung dari Aceh sampai Bakauheni. 

Ruasnya panjang-panjang di Trans Sumatera, pembebasan lahannya bagaimana?  

Kalau di Jawa itu kita bicara tol 30 km itu satu ruas sendiri. Di sana itu 100 km, 90 km, 140 km, jadi memang beda penanganannya. Tapi, tingkat pengadaan lahan di Sumatera meskipun ada, tidak terlalu sulit seperti di Jawa. Kalau pun ada yang sulit di beberapa daerah seperti hak wilayah adat, itu tantangan bagi kita. 

Di Sumatera kan kepemilikan lahan tidak banyak orang. Satu orang bisa kuasai sekian puluh hektare, jadi tidak serumit di Jawa. Tapi ada yang diusahakan seperti untuk perkebunan itu tantangannya. 

Soal MLFF pak pembahasannya sudah sampai mana? 

Sekarang masih ada teknologi yang berbeda-beda, sejauh ini ada tiga yang kita kenali. Tapi kan teknologi untuk recognize kendaraan dan trafik lalu lintas kan perkembangannya sangat cepat berubahnya. Yang paling mutahir adalah satelite navigation, itu kan berkembang cepat kemudian. 

Kita akan usahakan dari cash menjadi cashless dan sekarang dari card menjadi cardless, harapan kita tak terfokus pada teknologi tertentu. Yang penting kan performance-nya, seperti gagal bayar dari bank ke usaha, atau dari pengguna ke banknya, itu kan terjadi meski kecil, tapi kita minimilisasi. 

Misalkan teknologi itu kita bebaskan, tapi yang penting gagal bayarnya tak sampai 0,1 persen, harus memenuhi kriteria tersebut. Jadi mungkin kita tidak memilih teknologi, tapi performa dari sistem yang akan di deploy

Jadi tidak akan terpatok pada satu sistem dan memungkinkan dikombinasikan?

Silahkan saja, bagi user kan enggak penting teknologinya apa yang penting saya lewat pintu terbuka atau bahkan mungkin tanpa pintu. Ini tantangan kita. 

Sampai akhir tahun ini kita sedang melakukan evaluasi. Ada beberapa BUJT yang sudah melakukan trial dan kita dorong seluruhnya melakukan uji coba silahkan saja, nanti kita kumpulkan

Uji coba sudah dilakukan di mana pak?

Kelompok grup Astra sudah melakukan, Jasa Marga juga. Trial ini kan kita persilahan BUJT dan akan kita evaluasi akhir tahun ini dan saat ini juga ada studi kelayakan sedang dilakukan. 

Jadi kepastiannya kapan pak bisa diterapkan? 

Topik Terkait
Saksikan Juga