Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Insight

Informasi

Tantangan Investasi Tol Tak Hanya Cari Duit dari Traffic

Senin, 22 April 2019 | 06:00 WIB
Foto :
  • Raden Jihad Akbar/VIVA.co.id
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Danang Parikesit.

Kira-kira akhir tahun ini harapan kita sudah bisa merumuskan ukuran-ukuran kinerja apa yang bisa menjadi syarat sistem ini beroperasi, dan yang kedua memutuskan model bisnisnya. Apakah akan ditempelkan atau kita hanya akan membuat konsorsium badan usaha. Implementasi rencananya baru tahun depan.

Kalau fintech apakah bisa kerja sama untuk MLFF?

Baca Juga

Ke depannya kan akan banyak ya. Di periode ini kan kita dorong transformasi digital. Tak hanya transaksi, misalnya kita pasang alat pemantauan di jembatan-jembatan kita sehingga pengawasan tidak hanya bisa lihat di sana, tapi juga bisa dipantau. 

Apalagi kalau sudah ada artificial intelligence kan kita sudah bisa prediksi kemacetan ke depan. Sehingga kita bisa beri informasi lebih. Tadi kita juga bicara konsolidasi penerimaan, kita bisa meratakan tarif bagi konsumen. Harapan kita 4-5 tahun ke depan kita sudah bisa lebih bergerak ke arah digitalisasi yang lebih progresif.

Jadi MLFF ini masa depan transaksi tol di Indonesia? 

Harapan kita itu jadi aspek penting ya dari transformasi digital.

Berarti sekarang tarif tol belum bisa ada perubahan signifikan? 

Kalau pendapatan itu bisa dikonsolidasi, kita bisa melakukan banyak hal selain tarif ya. Kita bisa juga mendorong perilaku pengguna jalan. Misalnya tarif tol dalam kota kan lebih murah dibanding luar kota, padahal kemacetan dalam kota lebih parah. Ini yang saya bilang kemampuan sistem itu untuk bisa melakukan sistem lalu lintas yang lebih bagus. 

Jadi kalau pas hari-hari minggu arah ke Bandung kan banyak, mungkin tarifnya bisa lebih berubah, kalau weekdays itu misalkan ada diskon. Itu dinamic priceing, selain bisa mengembalikan investasi badan usaha juga bisa traffic management lebih bagus. 

Lalu misalnya truk, kalau dia gak mau mahal kan bisa jalan weekdays. Konsumen juga dikasih pilihan. Karena berdasarkan UU, jalan tol ini kan  jalan alternatif ya, jadi orang bisa milih mau yang berbayar atau tidak. Konsep pilihan itu penting ya dalam hal edukasi jalan tol ke depan. 

Koordinasi BPJT dengan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) bagaimana terkait pengadaan lahan. Mengingat banyak juga yang belum dibayarkan? 

Kita kan belajar juga antara kecepatan anggaran kita melalui LMAN, di sisi lain pengadaan lahan. Kedua ini harus disinkronkan. Kalau pengadaan tanahnya cepat tapi pengadaan anggarannya lambat artinya kita kan butuh dana talangan. 

Dana talangan itu dari lembaga keuangan. Dia membiayai sampai dana dari LMAN ini datang, ini kan proses yang semakin lama semakin baik karena kita punya pengalaman. 

Kita dorong penganggaran lebih sinkron dan proses vierifikasi. Karena untuk bisa dibayar dana talangan itu kan harus proses verifikasi ke BPKP, dan BPKP juga kita usahakan untuk menyisipkan kesibukan tambahan untuk verifikasi. 

Intinya semua menyesuaikan diri baik dari BPJT, BPKP, LMAN sesuai dengan proyek strategis nasional, BPN yang ada di depan pengadaan lahan. Jadi semua ini kan lintas kementerian, kita harus selalu sinkron. 

Jadi lahan untuk proyek tol sudah tidak jadi isu ya pak?

Masalah selalu masih ada karena itu berkaitan dengan implementasi pengadaan lahan di lapangan. Tapi, secara umum masyarakat juga sudah teredukasi mengenai lahan ini.  Kita masih punya PR misalnya penggarap. Misalnya orang yang tidak memiliki lahan tersebut tapi menempati lahan itu bukan pemilik aslinya. Itu butuh komunikasi yang intens, kita terima kasih ke BPN 

Trans Kalimantan bagaimana bagaimana perencanaannya?

Sekarang baru Balikpapan-Samarinda ya. Harapan kita arahnya ke sana. Tapi kita lihat lagi minat investasinya. Bagaimana kemampuan investor juga yang bisa menggabungkan investasi tol dengan pengembangan kawasan.

Kedua, tergantung pada kondisi perekonomian daerah. Ya kita tahu seperti di Kalimantan Timur kan sempat ada pengurangan ekonomi ya, harga minyak dunia turun, batu bara turun, sawit juga. Ini memengaruhi kondisi di daerah, jadi kita wait and see ya.

Secara jaringan, kawan-kawan di Bina Marga sudah bentuk masterplan jalan nasional. Di situ kan telah dibagi mana yang bisa jadi tol mana gak. Jadi prospeknya ada saja. 

Yang sudah ada di pipeline apa pak? 

Ada beberapa inisiatif lain yang telah disampaikan badan usaha tapi sampai sekarang kami belum menerima proposal mereka.

Terkait rute Pontianak-Singkawang bagaimana?

Iya ada, tapi sampai sekarang kami belum menerima surat resminya meski ada pembicaraan ke sana. Itu masih inisiatif badan usaha, kita persilakan ya. 

Karena jalan tol ini kan one stop service untuk investasi. Kalau mereka punya ide yang bagus dan komitmen melayani masyarakat dan ekonomi yang ditumbuhkan ya silahkan saja. 

Bagaimana pengembangan jalan tol di daerah timur lainnya?

Ya kan ada beberapa pemikiran seperti Manado-Tomohon, atau melanjutkan tol di Sulawesi Selatan hingga Parepare. Ya itu saya kira sangat dimungkinkan dan sangat kita hargai inisiatif badan usaha kalau mereka mau push ke sana. 

Di Bali ada juga pemikiran untuk mengembangkan jalan tol tak hanya Bali Mandara. Tapi juga mengembangkan lintas pulau, seperti JORR itu. Apalagi, kalau kita perhatikan di Bali Utara ada pemikiran bandara baru. 

Jadi sangat terbuka investasi baru di bidang jalan tol. Secara pengalaman sistem jalan tol ini kan juga sudah lama ya, dan orang semakin pandai dan pintar, mulai mampu mengkalkulasi segala macam. 

Jadi berapa panjang tol yang bisa diresmikan sampai akhir tahun ini?

Sampai akhir tahun ini mungkin akan tambah 200-250 km lagi se Indonesia. Sebagian masih terpusat di Jawa, nah ada juga yang fungsional, seperti di Sumatera.  (mus)

Topik Terkait
Saksikan Juga