Target Tiap Tahun, Zero Accident

Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) Budi Setiyadi
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

VIVA –  Setiap kali menjelang lebaran  pengawasan lalu lintas transportasi darat menjadi pekerjaan rumah paling berat buat Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Jenderal Hubungan Darat. Tahun 2019, berdasarkan hasil survei tentang Potensi Pemudik Angkutan Lebaran 2019 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Jalan dan Perkeretapian, jumlah pemudik diperkirakan mencapai 18.290.398. Sebanyak 14.901.468 diantaranya adalah pemudik asal Jabodetabek. 

Pemudik menggunakan ragam transportasi dengan perkiraan paling tinggi adalah menggunakan bus, yaitu 30 persen, mobil pribadi 28,9 persen, kereta api 16,7 persen, pesawat 9,5 persen, dan motor 6,3 persen. Berdasarkan survei tersebut Direktorat Jenderal Hubungan Darat Kementerian Perhubungan  memiliki peran signifikan untuk mengatur kelancaran dan keselamatan nyawa belasan juta pemudik tersebut.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat saat ini Budi Setyadi mengaku sudah menyiapkan berbagai strategi untuk menekan angka kecelakaan di jalur darat selama terjadinya proses arus mudik. Ia mengatakan sudah bekerja sama dengan berbagai instansi terkait, terutama kepolisian. Budi mengklaim angka kecelakaan pemudik mengalami penurunan dari tahun ke tahun, dan itu menjadi indikasi instansi yang ia pimpin terus bekerja demi keselamatan dan keamanan pemudik.

Pria yang dilantik sebagai Direktur Jenderal  Perhubungan Darat pada 3 November 2017 itu mengatakan sudah menyiapkan segala proses pengamanan mulai dari infrastruktur, manajemen, sarana dan prasarana hingga entitas menyangkut mudik. Kepada VIVA yang mewawancarainya pada 16 Mei 2019, Budi menceritakan apa saja yang dilakukannya sebagai Direktur Jenderal Perhubungan Darat untuk memperlancar arus mudik, termasuk merencanakan pemberlakuan contraflow dan one way di jalur tol Cikampek. 

Apa saja yang dilakukan Budi dan jajarannya, simak wawancara khusus VIVA berikut ini:

Bagaimana kesiapan menghadapi arus mudik lebaran tahun ini?

Dirjen Hubungan Darat sebagai bagian dari Kementerian Perhubungan berposisi sebagai leader atau leading sector untuk kementerian atau lembaga terkait, yang memang ditunjuk oleh Bapak Presiden menjadi Koordinator untuk angkutan lebaran. Dan kemudian dari situ lah, Pak Menteri paling sering melakukan pengecekan secara langsung. Memang paling banyak dinamika, paling banyak manajemen menyangkut masalah penanganan mudik, ada di sektor perhubungan darat. 

Artinya Ditjen Hubdar perlu bekerja sama dengan lembaga lain?

Tentu kita sudah koordinasi dan komunikasi dengan kementerian/lembaga yang terkait. Kepolisian yang utama, Pak Menteri selalu bilang, nanti di lapangan kepolisian yang memegang otoritas besar, seperti apa nanti pengaturan itu akan dilakukan. Walaupun peraturan yang sifatnya dirancang dengan perencanaan sudah akan kita lakukan sebelumnya. 

Perencanaan sudah kita persiapkan, semua Kementerian/lembaga yang biasa bekerja sama akan mendukung kita dalam rangka angkutan lebaran itu sudah komunikasi langsung dengan kita, melalui rapat-rapat koordinasi bersama. Seperti kemarin terakhir kita rapat di Jawa Barat dengan melibatkan Pak Gubernur, dan perangkat daerah lainnya, bersama-sama kepolisian.

Ditjen Hubdar sudah siap? 

Dari sisi perencanaan saya pikir sudah cukup siap, dari sisi administrasi managemen juga sudah siap, kemudian dari sisi kelembagaan juga seperti yang saya katakan tadi semuanya sudah siap. Contohnya, Pertamina itu nanti tugasnya di mana dan bagaimana, kemudian Kementerian Kesehatan seperti apa, Pemerintah Daerah juga seperti apa, termasuk juga dengan asosiasi-asosiasi angkutan darat, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan prasarana?

Kemudian dari sisi prasarana seperti kesiapan bandara, terminal, pelabuhan, stasiun kereta api itu memang menjadi tanggung jawab Kementerian Perhubungan, karena kita pastikan itu pasti akan ada peningkatan operasional, itu pasti. Berikutnya, selain menyangkut masalah kesiapan prasarana fisik, juga ada penguatan secara managemen, juga penguatan SDM juga pasti ada.

Persiapan seperti apa yang dilakukan?

Persiapan terkait sarana modanya. Seperti bus, kereta api, laut, pesawat, semuanya kita lakukan rampceck meyakinkan masyarakat. Kita sudah bertemu dengan semua operator bus wisata maupun bus reguler, untuk memastikan rampceck itu dilakukan jangan hanya dilakukan oleh pihak pemerintah saja, tapi juga dilakukan oleh operator. Intinya, semuanya harus bergandengan tangan, siapkan lah moda transportasi itu. Baik pesawat, kereta api, busnya, bagaimana semua itu bisa layak jalan.

Infrastruktur siap mendukung?

Untuk infrastruktur ini memang semuanya menjadi kewenangan atau tanggung jawab Kementerian PUPR, tapi tentunya dalam hal ini kita juga berkoordinasi dengan Kementerian PUPR terkait persiapan mudik lebaran 2019 ini. Kemarin, kita juga bersama-sama meninjau jalur nasional ke Lampung. Itu perbaikan pasti dilakukan. Hanya memang ada beberapa infrastruktur yang jalan tol keluar ke jalan kabupaten, jalan provinsi, ini yang kemarin pada saat kita tinjau ke Lampung yang membutuhkan upaya sendiri, dan sekarang sudah dilakukan. Saya jalan ke Jawa Tengah, Kementerian PUPR juga terus melakukan itu (perbaikan-perbaikan). 

Bagaimana dari sisi kelembagaannya?

Kemudian dari sisi kelembagaan, saya kira akan sama seperti tahun lalu, tugas akan dibagi habis oleh semua Kementerian/Lembaga terkait, karena Pak Presiden beberapa kali membahas ini di dalam rapat terbatas bersama Pak Menteri, dan Pak Presiden selalu mengatakan, ini adalah kerja bareng dari semua institusi.

Apa target dari Ditjen Hubdar dalam prosesi mudik ini?

Dari sisi semangat, kita mempunyai semangat bersama untuk melaksanakan arus mudik ini dengan motto yaitu "mudik selamat, guyub, rukun." Ini kita harapkan menjadi cerminan baik oleh pemerintah maupun masyarakat untuk melaksanakan mudik guyub, dengan mengedepankan keselamatan sampai tujuan. Sehingga bisa bertemu, bersilaturahmi dengan keluarga di kota tujuan.

Artinya, dari segi sarana, prasarana, infrastruktur, entitasnya juga kita sudah siapkan, kemudian masing-masing kementerian atau lembaga juga pasti akan membantu, mendukung sesuai tupoksinya masing-masing. 

Bagaimana strategi agar perencanaan berjalan sesuai target?

Kalau masalah pendekatan bisa sifatnya umum, bisa sifatnya spesifik ya. Yang spesifik saya katakan di jalan tol misalnya. Di jalan tol kita sudah berjenjang strategi yang kita lakukan, mulai dari penghentian sementara pekerjaan, ada empat proyek besar di jalan tol Jakarta-Cikampek, Tol elevated, kemudian KCIC atau kereta cepat, kemudian LRT, itu kan kita berhentikan sementara sejak H-10 hingga H+10. Kemudian, ada pembatasan angkut kendaraan barang sumbu tiga.

Bagaimana angkutan ekspor impor?

Untuk angkutan ekspor/impor kita bebaskan. Diperbolehkan, tapi dengan catatan mereka harus mendaftarkan atau melaporkan agar nanti ada tanda khusus. Karena jangan sampai nanti semua kendaraan angkut berat beralasan ini barang ekspor impor kan, banyak itu nanti kan. Nah (pembatasan kendaraan angkut sumbu tiga) dibatasi dari tanggal 30,31 Mei, tanggal 1, dan 2 Juni itu untuk mudiknya. Untuk arus baliknya tanggal 8,9,10 Juni.

Selain pembatasan kendaraan berat, apalagi yang dilakukan?

Selain itu, kemudian untuk tol eleveted yang sekarang sudah terpasang gerdernya itu kita kembalikan fungsinya yang tadinya tiga lajur dikembalikan jadi empat lajur, itu dilakukan oleh pihak PT Jasa Marga.  Kemudian memindahkan pintu tol Cikarang utama ke arah Bandung maupun ke arah Cikampek. Tadinya pintu tol Cikarang utama baik yang ke arah Bandung dan Cikampek kan digabung, itu salah satu penyebab menumpuknya kendaraan, nah sekarang kita buat sendiri-sendiri, arah Bandung sendiri, arah Cikampek sendiri. Jadi sekarang sudah kita pisah.

Kemudian, masalah contraflow, itu pasti akan dilakukan. Tapi itu sangat dinamis tergantung kebutuhan.

Bagaimana dengan one way?

Nah, one way ini yang kita lihat ada perbedaan antara 2017, 2018 dan 2019. Waktu 2017 kan juga ada one way, tapi kan jaraknya pendek, artinya masih melihat kondisi di lapangan, kalau memang di lapangan polri rasa diperlukan one way, maka Polri memberlakukan. Tahun 2018 juga ada one way, secara jarak agak panjang dibandingkan tahun 2017. Dari sisi pelaksanaan juga masih melihat dengan kebutuhan di lapangan. 

Nah untuk yang 2019, one way sudah direncanakan dari awal-awal, dari sekarang ini. One way dilakukan sejak tanggal 30, 31 mei, dan tanggal 1, 2 Juni. Mulai dari KM 29 di Cikarang utama, sampai di KM 262 di Brebes Barat. Jadi nanti mobil yang dari arah timur itu keluar di Brebes Barat.

Secara teknis pelaksanaan one way itu hanya akan diberlakukan pada jam-jam tertentu saja, atau bagaimana?

Kalau hasil kesepakatan rapat kita dengan Kakorlantas, one way diberlakukan di tanggal-tanggal 30, 31 Mei dan 1,2 Juni. Jadi kita diskusikan bersama, kalau masyarakat sudah tahu sejak awal bahwa ada tanggal-tanggal tertentu yang kita berlakukan one way, maka kemungkinan besar akan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keluar semua dari Jakarta pada tanggal-tanggal itu. Nah, kita sudah memperkirakan kalau dari Jakarta sampai sekitar KM 28 itu mungkin akan ada kemacetan karena di situ empat lajur ya. Nah setelah itu masuk KM 29, one way berlaku. Keluar semua itu, itu sudah ada delapan lajur kan jadinya kan. Kalau potensi itu digunakan dari tanggal 30,31 Mei, maka di tanggal 1 dan 2 Juni itu volume kendaraan kemungkinan besar semakin turun. 

Tapi itu semua untuk pengambilan kebijakan pemberlakuan itu tetap kebijakan Korlantas. Artinya kalau Korlantas memandang sudah cukup, dikembalikan lagi itu. Jadi itu dilakukan tergantung situasional di lapangan. Tetapi kepada masyarakat tetap kita sampaikan jauh-jauh hari bahwa one way akan kita berlakukan sejak tanggal 30,31 1, dan 2. 

Kebijakan one way berlaku di mana saja?

Di KM 29 sampai KM 262 exit tol Brebes Barat.

Kalau arus balik nanti bagaimana?

Kembalinya itu nanti dari arah Palimanan KM 189 sampai KM 29 juga. 

Berarti di arus balik nanti tidak dari Brebes Barat mulai one way?

Iya, untuk baliknya nanti tidak dari Brebes Barat, tapi dari KM 189 Palimanan sampai KM 29 exit tol Cikarang Utama.

Kapan diberlakukan one way untuk arus balik?

Untuk arus balik dari tanggal 8,9, 10 Juni. Itu kita sampaikan kepada masyarakat bahwa oneway arus balik akan berlaku pada tanggal 8,9,10 Juni. Tetapi tetap itu akan berlaku situasional, artinya jika kita melihat misalnya tanggal 9 arus kendaraan sudah berkurang tidak perlu lagi diberlakukan one way, maka kita akan kembalikan seperti biasa lagi. Artinya tergantung situasi di lapangan nanti.

Pelaksanaan one way sempat menjadi polemik bagi operator bus antar kota, khusunya AKAP. Bagaimana Anda menyiasati itu?

Iya, saya juga tadi sudah komunikasi dengan Ketua Organda. Kita selalu komunikasi dengan semua pihak operator. Memang ada keluhan jika one way diberlakukan dapat berisiko pada arus balik operasional khusus bis antar kota itu. Kemarin sempat ada usulan dari teman-teman operator, kalau bisa dibuka satu jalur dari arah timur, khusus untuk bus. Tapi itu nanti bagaimana situasi di lapangan.

Untuk meminimalisir jumlah kecelakaan apa lagi yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan? Karena rampcek ini terkesan hanya dilakukan setahun sekali, kalau jelang lebaran baru dilakukan. Bagaimana anda melihat ini?

Sebenarnya begini, kalau terminal ini sudah efektif semua bus masuk ke terminal, adalah kewajiban kita untuk melakukan rampcek terhadap semua bus yang mau berangkat. Kalau jumlah busnya terlampau banyak, mungkin bisa kita lakukan dengan cara sample. Tapi seharusnya itu rutin dilakukan, jadi begitu bus mau keluar terminal, dia harus melewati rampcek. Kan rampcek itu tidak begitu rigit banget sebenarnya. Hanya melihat bagaimana remnya, bagaimana lampunya, dan sebagainya. Dan itu harus tetap dilakukan.

Tapi kalau untuk momen lebaran, untuk libur Natal dan tahun baru, itu pasti dilakukan. Karena saat itu permintaan tinggi.

Bagaimana untuk rampcek di bus-bus pariwisata?

Sama sebenarnya. Semua harus dilakukan rampcek.

Anda tadi mengatakan, selain bus pariwisata, seharusnya semua bus yang masuk ke terminal dilakukan rampcek. Tapi kita tahu saat ini masih banyak terminal-terminal dadakan. Bagaimana kontrol Kemenhub terkait dengan ini?

Iya, jangankan di saat lebaran untuk terminal dadakan, memang kita akui ada sedikit kelemahan. Namanya sebuah sistem. Tapi yang pasti kita akan lakukan perbaikan terus menerus, terutama dari sisi peraturan. Tidak hanya untuk terminal bayangan, yang bus pariwisata itu kan juga tidak masuk terminal. 

Jadi bagaimana pengawasannya?

Saya katakan rampcek itu prinsipnya bagi operator. Segala sesuatu yang terkait dengan aspek keselamatan itu harus kita utamakan. Kalau kita sepakat dengan itu semuanya, jangan sampai rampcek itu hanya menjadi beban pemerintah saja, operator juga harus melaksanakan, tapi setelah melaksanakan nanti ada jaminan bahwa sudah melakukan rampcek, nanti approval nya dari kita. Kalau menunggu dari pemerintah saja tidak akan mungkin itu dilakukan, karena banyak banget mobil yang harus dilakukan rampcek kan. Kita (pemerintah) tidak akan bisa optimal melakukan itu sendirian, yang bisa dilakukan oleh operator, ya sudah operator lakukan saja. 

Artinya Anda berharap operator juga ikut serta dalam mengutamakan keselamatan dengan cara melakukan rampcek mandiri secara berkala?

Iya.

Menurut aturan, berapa lama harus dilakukan rampcek?

Sebetulnya rampcek ini dilakukan, untuk mobil ini kan ada yang namanya uji berkala, yang rutin dilakukan setiap enam bulan sekali yang dilakukan lebih detil menggunakan alat tertentu. Kalau rampcek biasa itu tidak menggunakan alat, bisa dilakukan di lapangan dan di mana saja dengan mengecek remnya. Misalnya seperti kalau Pak Menteri datang ke terminal masuk ke kolong ban mobil untuk melihat suspensinya, bannya, lampunya, dan lain sebagainya.

Selain melakukan rampcek untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan, apalagi yang dilakukan?

Kecelakaan itu sebetulnya sangat relatif. Sebetulnya pemerintah sudah cukup banyak melakukan edukasi, pasang rambu, marka jalan, kemudian juga ada uji berkala tadi itu. Kemudian peran besar berikutnya terkait dengan masalah keselamatan, kita kembalikan kepada kesadaran masyarakat. Artinya masyarakat sebagai pemilik kendaraan, sebagai operator, sebagai pengusaha bus, atau masyarakat sebagai pengemudi. 

Kesadaran individu untuk menjaga keselamatan lebih kuat pengaruhnya untuk mencegah kecelakaan?

Nah ini yang menurut saya paling menentukan. Karena kalau kita membuat marka atau rambu jalan tidak susah sebenarnya, yang penting ada uang, kita bikin. Tapi seberapa jauh masyarakat bisa melihat bahwa rambu atau marka itu sebagai sarana untuk sadar apa yang ada di sekitar lokasi itu. Jadi menurut saya 50:50 lah ya. Artinya pemerintah sudah berbuat dengan berbagai macam ketentuan, kewenangan, kebutuhan, yang dianggap penting. Kalau itu mungkin masih belum optimal, berikutnya kita sangat mengharapkan kesadaran dari masyarakat untuk bersama-sama menciptakan keselamatan itu sendiri.

Misalnya, kalau anda menyopir sudah enam jam, ya anda harus istirahat. Kalau lelah ya istirahat. Jangan sampai karena ingin mudik  ke kampung halaman, euforia itu yang muncul, padahal badan sudah letih, sudah kelelahan, tapi tetap dipaksakan. Jadi jangan sampai dipaksakan.

Pendirian Posko Mudik, itu untuk mendukung apa?

Tahun lalu saya sudah melakukan dan mendirikan posko mudik di sepanjang jalan arus mudik, tahun ini saya lebih masifkan lagi. Tahun ini lima jembatan timbang saya jadikan posko mudik, kita siapkan di situ berbagai macam fasilitas untuk tempat istirahat. Jadi pengemudi yang kelelahan bisa beristirahat di situ.

Lima jembatan timbang di mana saja?

Itu di Majenang satu, kemudian di Brebes satu, kemudian di Jati Barang, kemudian di Gentong, satu lagi di Tasik juga ada.

Itu difungsikan sebagai posko sekaligus tempat beristirahat?

Iya, sebagai rest area. Dan nanti itu kita fungsikan juga ada fasilitas pijitnya, pos kesehatannya, ada bengkel di sana, dan sebagainya. 

Selain itu, kita bekerja sama dengan Polri. Polri juga membangun posko Simpatik namanya. Contohnya jembatan timbang Losarang, dibuat Pos Simpatik sama kepolisian. Jadi memang sudah ada arahan dari kita, semua jembatan timbang di saat lebaran berhenti. Dan kemudian difungsikan sebagai rest area.

Jadi total ada berapa Posko Pemantauan mudik lebaran milik Kementerian Perhubungan?

Kalau jumlah posko Kementerian sendiri yang kita bangun itu ada 17 Posko di Jawa. Tapi kita harapkan nanti dikuatkan kembali oleh posko Dishub di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Dan saya minta semuanya sebagai posko penguatan dari kepolisian. Jadi tugasnya selalu berdua kami dengan kepolisian.

Terkait dengan kecelakaan. tren kecelakaan selama mudik sendiri sejauh ini seperti apa?

Kalau tren jumlah kecelakaan, setiap tahun itu menurun terus. Artinya kita selalu berupaya semaksimal mungkin untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan dengan melakukan berbagai upaya untuk mengurangi itu.

Kalau di tahun 2016 ada macet panjang yang menjadi fenomenal, yaitu Brexit. Ada yang meninggal dunia. Nah, kita setiap tahun di luar lebaran kan juga memiliki visi zero accident. Begitu ada RUNK (Rencana Umum Nasional Keselamatan) ada lima pilar yaitu infrastruktur - Kementerian PUPR, kendaraan - oleh Kementerian Perhubungan, untuk orang atau keselamatan pengemudi - oleh Kepolisian. Pos Kes atau masalah kesehatan - oleh Kementerian Kesehatan. Kemudian, managemen keselamatan-oleh Bappenas.  Jadi artinya, semangatnya pemerintah melalui kementerian-kementerian terkait masalah ini adalah zero accident. Dan target kita memang menurunkan angka kecelakaan tiap tahunnya, baik angka kecelakaannya, dan juga jumlah korban-korbannya. Dan setiap lebaran kita evaluasi terus menerus, dan Alhamdulillah selalu ada penurunan. Jadi target sekarang, kita juga menurunkan itu.

Apa harapan Anda pada masyarakat, khususnya para pemudik?

Harapan saya ada kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Meskipun pemerintah yang mengeluarkan regulasi, membuat peraturan sedemikian rupa, tapi kan tanpa adanya peran serta masyarakat kita tidak ada artinya. Kalau masyarakat, yang bisa mengendalikan mereka kan diri sendiri dan lingkungan mereka sendiri. Jadi harapan kita adalah semakin lama perjalanan kita dalam mudik ini, harus diwarnai dengan satu visi yang sama dengan kita, yaitu Mudik selamat, Guyub Rukun. Harapan kita itu bisa masuk ke dalam hatinya masyarakat yang mau mudik. Sehingga dengan demikian saya sangat berharap kepada masyarakat sejak awal perjalanan sudah mulai mengatur perjalanannya. 

Kelola perjalanan mudik Anda dengan baik. Siapa yang akan mengemudi dengan kondisi baik, kendaraannya bagaimana, BBM-nya juga bagaimana harus kondisi full, kemudian juga barang-barang yang akan dibawa upayakan seperlunya saja, kapan akan istirahat, akan menggunakan jalur mana, jam berapa berangkat, dan harus punya opsi juga, kalau jalan yang dituju macet, paling tidak ada opsi jalan lain. Jadi minimal, managemen seperti itu tidak hanya dimiliki oleh kita, tapi juga oleh masyarakat dari awal.

Kemudian juga menyangkut masalah rest area. Keberadaan rest area sepanjang jalan itu pasti sedikit banyak menyumbang kemacetan, itu salah satunya kan. Untuk itu saya harapkan kepada masyarakat untuk tidak memaksakan diri, kalau rest area itu sudah full atau penuh, juga jangan memaksakan masuk di situ, bisa ke rest area berikutnya, atau kalau tidak ya sudah berhenti saja, pasti kalau jalan sedikit pasti akan ketemu dengan exit tol keluar kota. Kemudian kita harapkan jangan memaksakan diri untuk beristirahat di rest area dalam tol, tapi keluar ke kota-kota itu untuk mencari tempat beristirahat. Setelah itu bisa masuk kembali. Karena saya kira paling sekitar satu kilometer setelah exit tol itu sudah ketemu keramaian di situ.

Untuk pelaksanaan ganjil genap saat mudik itu seperti apa sebenarnya?

Ganjil genap itu kemarin kan memang sempat ada wacana memberlakukan itu di jalur penyeberangan. Tapi sebenarnya itu sifatnya imbauan kepada masyarakat. Karena dua tahun terakhir perilaku masyarakat yang menyeberang itu selalu menyeberang pada waktu menjelang pagi hari, antara jam 12 malam sampai jam 6 pagi. Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan di pintu masuk Pelabuhan Merak. Nah, kalau di tahun 2019 nanti seperti itu juga, potensi kepadatan atau antrean itu bisa sampai ke jalan tol. Kemudian, runway-nya bisa terjadi antara tengah hari sampai menjelang sore, nah padahal kita punya waktu siang. Siang itu kapasitas kapal dengan volume kendaraan yang menyeberang itu masih jauh dari kapasitas. Kapal muatnya 10 kendaraan, tapi yang ada cuma lima saja. Nah, makanya saya mengimbau kepada masyarakat, pada saat menjelang puncak arus mudik itu, saya bagi (ganjil genap) tapi sifatnya imbauan.

Artinya tidak ada kewajiban?

Iya tidak ada kewajiban. Saya mengajak agar tidak terjadi penumpukan kendaraan di pintu masuk Pelabuhan Merak. Karena kemacetannya bisa sampai jalan tol.

Itu untuk di penyeberangan. Kalau di luar penyeberangan, apakah ada ruas yang diberlakukan ganjil genap?
Tidak ada, one way saja.

Ada persiapan khusus untuk arus balik?

Iya, ini yang memang menjadi salah satu fokus kita juga. Karena pada saat arus mudiknya ada waktu sekitar enam hari, tapi untuk arus balik waktunya hanya sekitar tiga hari. Artinya perkiraan kita, puncak arus balik itu ada pada akhir pekan terakhir libur yaitu di tanggal 8,9,10 Juni. Makanya dengan mempunyai waktu tiga hari itu, harapan kita bagi masyarakat yang mudiknya awal libur panjang, baliknya juga bisa lebih awal. 

Ada prediksi jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan roda empat akan jauh meningkat, mengingat tol trans Jawa sudah selesai dan efektif digunakan. Apakah ada imbauan khusus dari pemerintah?

Kalau itu pasti. Jadi pemerintah pasti mendorong agar tidak menggunakan kendaraan pribadi, terutama adalah motor. Jadi motor itu kita selalu sampaikan, jangan mudik menggunakan motor. Karena motor itu bukan diperuntukkan untuk perjalanan jarak jauh, sebab motor riskan terhadap kecelakaan. Makanya pemerintah juga punya kebijakan memfasilitasi mudik gratis dengan sepeda motor. Jadi pengiriman motor melalui kereta api ada, kapal laut ada, kapal Roro ada, diangkut dengan truk juga ada 

Saya banyak juga angkut motor gratis dengan truk ke Jawa Tengah. Jadi masyarakat sampai ke lokasi mereka tinggal ambil saja di kota tujuannya.

Kemenhub sendiri memfasilitasi motor gratis berapa banyak tahun ini?

Banyak sekali. Saya enggak hafal angkanya. Kereta api saja 3000-an, kapal Roro 500-an. Belum lagi yang bareng Astra, itu ribuan juga itu.

Apa pesan Anda untuk pemudik?

Intinya kita mengajak kerjasama dengan masyarakat yang baik. Di jalan masyarakat bisa menjadi subjek, dalam arti sangat bisa memanfaatkan jalan mudik dengan baik, dan bisa juga mengajak kepada yang lain agar juga bisa tertib menggunakan kendaraannya pada saat mudik nanti.