Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Senin, 29 Juli 2019 | 07:41 WIB

Jika Benar Jangan Pernah Takut!

Team VIVA »
Endah Lismartini
Rifki Arsilan
Foto :
  • VIVA/Muhamad Solihin
DPR SAHKAN AMNESTI UNTUK BAIQ NURIL

VIVA –  Baiq Nuril Maknun tak mampu menahan tangisan. Sesaat setelah Sidang Paripurna DPRI RI secara aklamasi menyetujui permohonan amnesti yang diajukan oleh tim kuasa hukumnya, kedua telapak tangan Baiq Nuril menutup wajahnya. Bahunya nampak berguncang-guncang. Ia tak mampu menahan tangis bahagia. Harapannya untuk bebas dari tuntutan pidana penjara denda semakin menemui titik terang.

Nuril adalah korban pelecehan seksual dari mantan Kepala Sekolah SMA Negeri 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, semasa Nuril bekerja sebagai guru honorer di sekolah tersebut.  M, Kepala Sekolah Nuril kerap mengajaknya berbincang hal hal berbau pornografi yang menurut Nuril tak pantas disampaikan oleh seorang kepala sekolah kepadanya. Pelecehan seksual itu terjadi berulang kali. 

Baca Juga

Merasa tak tahan mendengar ocehan sang kepala sekolah yang terus disampaikan berulang-ulang, ia memutuskan merekam suara M, ketika M sedang melakukan aksinya. Saat itu M menelpon Nuril. Dari sekitar 20 menit percakapan, hanya lima menit M bicara masalah pekerjaan. Sisanya, M bercerita tentang pengalaman seksualnya dengan perempuan yang bukan istrinya. Perbincangan itu juga dibarengi ucapan M yang melecehkan Nuril secara seksual. Merekam percakapan tersebut dilakukan Nuril pada 2012. 

Perempuan berhijab itu menceritakan, rekaman hanya ia perdengarkan kepada rekannya, Imam Mudawin. Rekan pria ini yang memindahkan rekaman ke ponsel dan akhirnya membagikan rekaman tersebut. Setelah sekian tahun, tiba-tiba rekaman tersebut beredar luas. M akhirnya mendengar rekaman tersebut. Merasa tak terima ia mengadukan Nuril ke polisi. Sejak itu, Nuril yang harusnya menjadi korban pelecehan malah menjadi terpidana. 

Seperti apa perjalanan Nuril berhasil mendapat restu dari DPR RI, apa yang ia rasakan, dan pesan apa yang ingin ia sampaikan pada perempuan lain di Indonesia? Berikut petikan wawancara VIVAnews dengan Baiq Nuril, usai putusan Sidang Paripurna dibacakan pada Kamis, 26 Juli 2019. Berikut wawancaranya:

DPR RI secara aklamasi menyetujui permohonan amnesti Anda. Tanggapan Anda? 
Iya, Alhamdulillah yaa. Saya sangat bersyukur sekali, ternyata anggota DPR RI sangat mendukung saya dalam menghadapi ujian ini. Tadi juga Pak Bambang Soesatyo ketua DPR RI sudah menyampaikan kalau suratnya akan dikirim ke Presiden Joko Widodo. Saya tadi sempat berpikir, kalau bisa biar saya yang mengantar surat hasil sidang paripurna ini ke Pak Presiden Jokowi, itu pun kalau bisa. Karena saya tak sabar mendengar keputusan amnesti itu. Tapi mudah-mudahan keputusan itu bisa dikeluarkan oleh Pak Jokowi secepatnya.

Apa yang akan Anda lakukan setelah ini?
Tentu kita menunggu. Kalau setelah ini mau melakukan apa, saya belum memutuskan. Masih 50:50 persen. Di satu sisi saya kangen sama anak-anak, tapi selain itu saya juga ingin keputusan amnesti itu segera diputuskan oleh presiden. 

Tinggal berharap keputusan dari presiden ya?
Iya, kita menunggu keputusan dari Pak Presiden.

Anda yakin Presiden Jokowi akan memberikan amnesti?
Yakin, sangat yakin. Karena beliau dari sebelumnya, sampai saat ini perhatiannya sangat luar biasa sekali. Dan saya sangat tidak menyangka dia memperhatikan saya, meskipun saya hanya rakyat kecil. Ada pernyataannya yang pernah disampaikan, kalaupun semua proses hukum sudah ditempuh, sudah sampai titik akhir, saya akan memberikan wewenang saya. Itu yang bikin saya yakin.

Apa saja yang sudah Anda lakukan selama ini, sehingga Anda berhasil lepas dari jeratan UU ITE ini?
Apa ya? selama ini saya cuma ikhlas saja.

Proses yang Anda lewati sangat panjang. Bagaimana bisa tetap ikhlas?
Iya, saya hanya bisa ikhlas. Karena saya hanya manusia biasa. Kalau dilihat sekarang, mungkin orang lain bisa melihat saya tegar, saya bisa menghadapi ini semua, tapi saya hanya manusia biasa. Ada kalanya di saat saya sedang sendiri ingin menyerah dengan keadaan, ada saatnya saya ingin mundur. Tapi saya melihat ke anak-anak, saya melihat lagi orang-orang yang begitu luar biasa yang ada di belakang saya yang memberikan support-nya yang luar biasa, itu yang membuat saya tetap semangat dan menjadi lebih kuat lagi dari mereka.

Apa yang membuat Anda akhirnya tetap semangat dan terus berjuang dengan total selama ini?
Karena kebenaran. Karena memang saya berdiri di atas kebenaran. Kebenaran itu harus ditegakkan, kebenaran itu harus diperjuangkan.

VIVA –  Baiq Nuril Maknun tak mampu menahan tangisan. Sesaat setelah Sidang Paripurna DPRI RI secara aklamasi menyetujui permohonan amnesti yang diajukan oleh tim kuasa hukumnya, kedua telapak tangan Baiq Nuril menutup wajahnya. Bahunya nampak berguncang-guncang. Ia tak mampu menahan tangis bahagia. Harapannya untuk bebas dari tuntutan pidana penjara denda semakin menemui titik terang.

Nuril adalah korban pelecehan seksual dari mantan Kepala Sekolah SMA Negeri 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, semasa Nuril bekerja sebagai guru honorer di sekolah tersebut.  M, Kepala Sekolah Nuril kerap mengajaknya berbincang hal hal berbau pornografi yang menurut Nuril tak pantas disampaikan oleh seorang kepala sekolah kepadanya. Pelecehan seksual itu terjadi berulang kali. 

Merasa tak tahan mendengar ocehan sang kepala sekolah yang terus disampaikan berulang-ulang, ia memutuskan merekam suara M, ketika M sedang melakukan aksinya. Saat itu M menelpon Nuril. Dari sekitar 20 menit percakapan, hanya lima menit M bicara masalah pekerjaan. Sisanya, M bercerita tentang pengalaman seksualnya dengan perempuan yang bukan istrinya. Perbincangan itu juga dibarengi ucapan M yang melecehkan Nuril secara seksual. Merekam percakapan tersebut dilakukan Nuril pada 2012. 

Perempuan berhijab itu menceritakan, rekaman hanya ia perdengarkan kepada rekannya, Imam Mudawin. Rekan pria ini yang memindahkan rekaman ke ponsel dan akhirnya membagikan rekaman tersebut. Setelah sekian tahun, tiba-tiba rekaman tersebut beredar luas. M akhirnya mendengar rekaman tersebut. Merasa tak terima ia mengadukan Nuril ke polisi. Sejak itu, Nuril yang harusnya menjadi korban pelecehan malah menjadi terpidana. 

Seperti apa perjalanan Nuril berhasil mendapat restu dari DPR RI, apa yang ia rasakan, dan pesan apa yang ingin ia sampaikan pada perempuan lain di Indonesia? Berikut petikan wawancara VIVAnews dengan Baiq Nuril, usai putusan Sidang Paripurna dibacakan pada Kamis, 26 Juli 2019. Berikut wawancaranya:

DPR RI secara aklamasi menyetujui permohonan amnesti Anda. Tanggapan Anda? 
Iya, Alhamdulillah yaa. Saya sangat bersyukur sekali, ternyata anggota DPR RI sangat mendukung saya dalam menghadapi ujian ini. Tadi juga Pak Bambang Soesatyo ketua DPR RI sudah menyampaikan kalau suratnya akan dikirim ke Presiden Joko Widodo. Saya tadi sempat berpikir, kalau bisa biar saya yang mengantar surat hasil sidang paripurna ini ke Pak Presiden Jokowi, itu pun kalau bisa. Karena saya tak sabar mendengar keputusan amnesti itu. Tapi mudah-mudahan keputusan itu bisa dikeluarkan oleh Pak Jokowi secepatnya.

Apa yang akan Anda lakukan setelah ini?
Tentu kita menunggu. Kalau setelah ini mau melakukan apa, saya belum memutuskan. Masih 50:50 persen. Di satu sisi saya kangen sama anak-anak, tapi selain itu saya juga ingin keputusan amnesti itu segera diputuskan oleh presiden. 

Tinggal berharap keputusan dari presiden ya?
Iya, kita menunggu keputusan dari Pak Presiden.

Anda yakin Presiden Jokowi akan memberikan amnesti?
Yakin, sangat yakin. Karena beliau dari sebelumnya, sampai saat ini perhatiannya sangat luar biasa sekali. Dan saya sangat tidak menyangka dia memperhatikan saya, meskipun saya hanya rakyat kecil. Ada pernyataannya yang pernah disampaikan, kalaupun semua proses hukum sudah ditempuh, sudah sampai titik akhir, saya akan memberikan wewenang saya. Itu yang bikin saya yakin.

Apa saja yang sudah Anda lakukan selama ini, sehingga Anda berhasil lepas dari jeratan UU ITE ini?
Apa ya? selama ini saya cuma ikhlas saja.

Proses yang Anda lewati sangat panjang. Bagaimana bisa tetap ikhlas?
Iya, saya hanya bisa ikhlas. Karena saya hanya manusia biasa. Kalau dilihat sekarang, mungkin orang lain bisa melihat saya tegar, saya bisa menghadapi ini semua, tapi saya hanya manusia biasa. Ada kalanya di saat saya sedang sendiri ingin menyerah dengan keadaan, ada saatnya saya ingin mundur. Tapi saya melihat ke anak-anak, saya melihat lagi orang-orang yang begitu luar biasa yang ada di belakang saya yang memberikan support-nya yang luar biasa, itu yang membuat saya tetap semangat dan menjadi lebih kuat lagi dari mereka.

Apa yang membuat Anda akhirnya tetap semangat dan terus berjuang dengan total selama ini?
Karena kebenaran. Karena memang saya berdiri di atas kebenaran. Kebenaran itu harus ditegakkan, kebenaran itu harus diperjuangkan.

Selama proses ini, dukungan untuk Anda mengalir deras bahkan dari luar negeri. Bagaimana rasanya menerima banyak dukungan dan perhatian?
Saya tidak menyangka, begitu banyak sekali yang mendukung saya. Itu berarti mereka yang melihat atau menemukan orang lain mendapatkan perlakuan seperti saya, mereka tidak akan pernah diam. Itu berarti kalau pun terjadi lagi pada perempuan-perempuan, jangan takut untuk bersuara, karena begitu banyak orang yang akan mendukung.

"Meski bukan Nuril yang menyebarkan, tapi M mengadukan Nuril ke polisi dengan menggunakan Pasal 27 Ayat (1) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Setelah laporan M diproses, Pengadilan Negeri Mataram membebaskan Nuril. Namun Jaksa Penuntut Umum mengajukan banding hingga kasasi. Di Mahkamah Agung, harapan Nuril sempat terhenti. MA memutuskan Nuril bersalah dan menolak PK yang diajukan."

Siapa saja yang konsisten mendukung Anda?
Sampai saat ini tentu saja dari pihak kuasa hukum yang begitu banyak dan luar biasa. Dengan suka rela mereka mendukung saya. Kemudian Ibu Rieke Diah Pitaloka sampai saat ini. Saya ucapkan terima kasih, mungkin karena kami sama perempuan jadinya beliau lebih mengerti. Sampai saat ini beliau yang tetap gigih memberikan saya semangat. Dan juga ada dari teman-teman LBH APIK, LPA Kota Mataram, ICJR, dari Amnesti Internasional, dari Safenet, dari PAKU ITE, saya tidak bisa lagi menyebut satu persatu, masih banyak lagi mungkin. Saya minta maaf kalau saya tidak bisa menyebutkan satu persatu.

Anda bukan orang yang pertama kali menjadi korban UU ITE, sebelumnya ada kasus Prita, ada kasus-kasus lain juga yang dijerat dengan UU ITE. Bagaimana Anda menanggapi ini?
Mungkin undang-undangnya yang menurut saya bermasalah. Menurut saya UU ini sepertinya harus direvisi lagi, karena salah satu cara untuk mempertahankan diri mungkin dengan cara merekam percakapan seperti yang saya lakukan. Mungkin mereka (para korban) merasa hanya dengan cara begitu menyuarakan secara langsung. Mungkin saat itu mereka berpikir lebih baik mereka merekam, atau sekedar curhat melalui tulisan di sosial media, dan ini yang menjadi persoalan. 

Seharusnya mereka (aparat penegak hukum) melihat, kenapa saya dan teman-teman lain yang mungkin menyampaikan keluhannya di media sosial. Seharusnya mereka (para penegak hukum) juga bisa melihat, kenapa mereka (para korban) sampai melakukan itu (perekaman maupun menulis curhatan di media sosial). Jangan melihat hasil rekamannya saja harusnya. Tapi diselidiki dulu, kenapa mereka bisa begitu. Tidak mungkin mereka (para korban) dengan seenaknya menulis di media sosial misalnya kalau memang tidak ada kepuasan. 

Anda sebenarnya adalah korban dari pelecehan seksual, tapi Anda tetap dipidanakan. Bagaimana Anda melihat proses hukum yang menjerat anda?
Saya tidak terlalu paham dengan masalah hukum. Saya juga tidak habis pikir kenapa saya yang menjadi tersangka, apalagi sampai PK saya ditolak oleh MA kemarin. Mungkin karena mereka (majelis hakim) tidak melihat proses bagaimana saksi-saksinya, ahli yang diperiksa di persidangan yang pertama, kemungkinan mereka tidak melihat secara detail. Mudah-mudahan kedepannya proses hukum itu dapat dilihat betul-betul secara menyeluruh.

Apa pembelajaran yang sangat penting yang Anda peroleh dari kasus yang Anda alami?
Kita sebagai perempuan itu jangan takut, jangan pernah takut. Karena saat ini, detik ini, saya tidak ingin ada lagi perempuan-perempuan lain yang menjadi seperti saya. Saya tak ingin ada Nuril Nuril lain yang mengalami seperti saya. Karena biar bagaimana pun ini sangat menyedihkan, sangat melelahkan, sangat menguras tenaga, menguras pikiran, anak-anak mereka. Saya tidak ingin perempuan-perempuan lain seperti saya. Dan mereka harus berani, mereka harus berani bersuara, mereka harus berani melawan. Seandainya pun terjadi lagi seperti yang saya alami pada perempuan lain, dan mereka takut melawan, saya orang pertama yang akan membantunya itu. 

"Baiq Nuril berharap kasusnya bisa menjadi semangat untuk korban pelecehan yang lain. Ia meminta perempuan yang menjadi korban pelecehan tak perlu takut mengadu. Ia juga mengajak para korban pelecehan berani melawan. Selama dua minggu berada di Jakarta, Nuril ditemani Rieke Diah Pitaloka, aktivis partai PDI Perjuangan. Nuril mengaku ingin segera pulang ke Mataram, ia kangen anak-anaknya dan kangen masakan ibunya."

Artinya, Anda juga siap membantu perempuan atau orang lain yang menjadi korban UU ITE?
Iya, insya Allah saya siap. 

Harapan Anda, kapan Amnesti ini dikeluarkan oleh Presiden?
Saya enggak tau yaa, kalau bisa hari ini. Makanya tadi saya bilang, kalau bisa saya yang kirim surat hasil paripurna DPR RI ini langsung kepada Presiden Jokowi, saya ingin tunggu di sana secepatnya.

Apakah Anda ingin sekali menyaksikan secara langsung pemberian Amnesti oleh Presiden Jokowi?
Ingin sekali, ingin menyaksikan, dan kalau bisa saya bertemu dengan bapak Presiden. Saya ingin mengucapkan rasa terima kasih saya secara langsung kepada bapak Presiden.

Kalau nanti Anda mendapatkan Amnesti, apa yang akan Anda lakukan?
Sampai saat ini belum kepikiran. Mungkin saya akan lebih fokus dulu menghabiskan waktu bersama keluarga, karena selama ini saya hampir dua Minggu di sini. Sudah kangen sama keluarga di kampung, sudah kangen sama masakan-masakan mamah. Mudah-mudahan lah ya.

Apakah Anda punya rencana ingin kembali ke sekolah?
Sampai saat ini belum ada. Tapi mudah-mudahan kalau ada, kalau masih diberikan rejeki, kalau masih bisa kembali ke sana, mudah-mudahan, mudah-mudahan.

Apa saran Anda untuk orang-orang atau para korban UU ITE ke depan?
Kalau memang itu betul, kalau memang Anda memperjuangkan kebenaran, jangan takut. Jangan takut untuk berjuang, karena itu harus diperjuangkan. Kalau memang itu memang kebenaran, harus diperjuangkan.

Punya harapan khusus pada pemerintah dan lembaga peradilan ke depan?
Pastinya saya berharap mudah-mudahan tidak ada lagi yang seperti saya. Karena proses hukum sampai diberikan amnesti itu sangat melelahkan. Dari air mata, tenaga, pikiran, mudah-mudahan tidak ada lagi yang seperti saya, mudah-mudahan.. 

Ada yang ingin Anda sampaikan pada publik?
Kepada Bapak Presiden mungkin ya. Saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya kepada saya. Saya cuma rakyat kecil yang tidak mengenal hukum, tidak mengerti apa-apa tentang hukum. Dan juga kepada seluruh rakyat Indonesia yang terus memberikan dukungan kepada saya, lembaga-lembaga yang tadi saya juga sudah sebutkan, terima kasih atas dukungannya dari awal sampai sekarang ini.

Saya cuma bisa berterimakasih yang sebesar-besarnya, mudah-mudahan Tuhan membalas semua kebaikan mereka. Hanya itu yang bisa saya sampaikan. (umi)

Topik Terkait
Saksikan Juga
Jokowi Terbitkan Keppres Amnesti Baiq Nuril
TVONE NEWS - 27 hari lalu