Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Alat dan SDM Pemantau Gempa Sudah Bagus

Senin, 5 Agustus 2019 | 06:49 WIB
Foto :
Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.

Dari modeling yang kami sudah buat itu, jaraknya maksimal 3 km untuk Merapi. Itu batas maksimal kami. Di tiga kilometer itu masyarakat sudah tidak boleh memasuki kawasan. Tapi kondisi sekarang, daerah terdampak erupsi Merapi hanya sampai dua kilometer. Di luar itu masyarakat masih bisa beraktivitas seperti biasa. Turis-turis juga kalau mau datang silakan, tidak ada masalah. Tapi yang penting jangan sampai melewati batas yang sudah kita tentukan.

Di Bali juga sama demikian. Radius amannya itu empat kilometer dari puncak Gunung Agung. Di luar itu nggak apa-apa, silakan saja. Artinya kita tetap waspada, tetapi tidak boleh juga berlebihan. Karena kita sudah memberikan rekomendasi kepada pihak terkait terkait dengan batas-batas terdampak itu seberapa jauh, berdasarkan evaluasi data-data yang kita peroleh dari pemantauan gunung-gunung.

Baca Juga

Apakah publik bisa ikut memantau? Bagaimana caranya?
Publik bisa mengunduh aplikasi Magma Indonesia. Di situ selalu di-update. Sebab, dari hasil evaluasi laporan yang masuk setiap enam jam sekali dan disampaikan kita tawarkan secara tertulis melalui WAG. Jadi sebenarnya semuanya juga bisa memantau kondisi-kondisi gunung-gunung tersebut.

Bagaimana mewaspadainya?
Sebenarnya ini biasa saja. Artinya gini, dari dulu juga sebenarnya gunung-gunung ini memiliki aktivitasnya masing-masing ya, kalau memang gunung itu merasa bahwa sudah waktunya untuk mengeluarkan hajatnya, ya sudah. Karena sebenarnya gunung api ini memang masih hidup. Dan dia pasti berhajat kan, hanya saja berhajatnya itu waktunya bermacam-macam, ada yang lama, ada yang sekarang terjadi seperti GTP itu kan. Artinya pada saat gunung-gunung ini berhajat, ya kita mau tidak mau menyingkir dulu, nanti setelah dia selesai berhajat ya kita kembali lagi enggak masalah. Lha wong dia lebih tua dari kita kok, kan tamunya kita kan, bukan dia yang lebih dulu kan gitu

"Setiap gunung memiliki aktivitasnya masing-masing. Jika sudah waktunya mengeluarkan hajatnya, ya dikeluarkan. Hanya saja waktu yang mereka butuhkan untuk melepas hajatnya bermacam-macam."

Tingkat keaktifan gunung berapi yang luar biasa ini membuat kita masuk dalam sebutan Ring of Fire?
Iya betul. Memang kita kan terletak atau berada di kawasan Ring of Fire, yaitu kita memang berada di tektonik aktif pertemuan tiga lempeng, sehingga implikasinya selain daerah yang sangat subur dengan sumber daya alam melimpah, seperti minyak, gas, dan sebagainya. Tetapi di sisi yang lain juga ada ancamannya. 

Kita memang memiliki jalur gunung api yang terpanjang, sekitar 7.000 km. Jumlah yang sangat banyak dibandingkan negara lain. Dan di sini juga ada jalur gempa karena adanya pertemuan sejumlah lempeng itu tadi. Itu menunjukkan bahwa kita juga daerah yang berpotensi gempa. Dalam satu hari pasti terjadi gempa, tapi ada yang bisa kita rasakan, ada juga yang tidak kita rasakan. Kalau dalam satu hari gempa yang kita rasakan itu berkisar satu sampai tiga kali, artinya dalam satu tahun bisa mencapai 400-an kali gempa yang kita rasakan. 

Sepertinya ini adalah sebuah fenomena alam yang biasa saja?
Jadi sebenarnya kejadian-kejadian alam ini memang terjadi mengikuti jalurnya saja. Jalur gempa ini kan memang ada, sehingga kejadian gempa-gempa itu adalah proses alam yang tidak bisa dihindarkan. Dan di antaranya memang ada gempa yang merusak. Tapi jumlah gempa yang merusak jumlahnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan gempa-gempa yang kecil. Dan sebenarnya potensi gempa juga sama dengan potensi terjadinya erupsi gunung berapi, kapan saja bisa terjadi. Cuma, kapan kejadiannya tidak bisa diketahui dengan pasti.

Beberapa bulan terakhir, intensitas gempa meningkat. Sebagian sangat terasa. Apa yang menyebabkan fenomena itu terjadi?
Seperti yang kami sampaikan tadi. Pertama,  karena Indonesia berada di kawasan Ring of Fire. Kedua, kemudian berada di kawasan tektonik aktif, maka salah satu implikasinya adalah terjadinya gempa. Dan gempa ini mengikuti jalurnya tadi. 

Dari Sumatera, Jawa, kemudian Nusa Tenggara, Maluku. Kejadiannya akan mengikuti daerah-daerah itu, dan tidak jauh dari itu. Dan kejadian itu sebenarnya hal yang wajar juga, karena selama ini kan memang sering terjadi gempa, sejak jaman mbah-mbah kita juga sering terjadi gempa. Kalau jaman mbah-mbah kita itu sering dibilang Lindu, dan lain lain.

Artinya kita memang akrab dengan kondisi seperti itu sebenarnya kan. Kalau masalah sumber gempanya itu para ahli ada yang mengatakan terkait dengan patahan-patahan lempengan aktif yang menimbulkan gempa. Kita tahu itu di daerah Sumatera itu ada patahan lempengan dari utara sampai selatan yang nanti ketemu di Selat Sunda, terus ketemu lagi di situ ada patahan Ujung Kulon, itu yang terkait dengan sesar aktif yang sering disebut sumber gempa. 

Apa yang menyebabkan gempa-gempa itu terjadi secara beruntun?
Gempa itu kan pelepasan energi. Kalau gempa beruntun itu sebenarnya secara statistik gempa itu kalau makin banyak atau makin sering, energinya biasanya akan semakin sedikit. Dan kalau beruntun sebenarnya tidak juga, karena gempa itu terjadi mengikuti jalurnya lempengan dia. 

Memang ada jenis-jenis gempa yang dipicu oleh macam-macam ya, ada yang terkait dengan sesar-sesar. Secara patahan sesar aja ada tiga jenis patahan itu umumnya, ada naik, ada turun, ada sesar mendatar. Sesar-sesar mendatar atau sesar naik ini biasanya kalau begitu terjadi gempa akan diikuti oleh gempa-gempa susulan, agak panjang biasanya, seperti yang terjadi di Lombok beberapa waktu lalu itu. Kemudian gempa di Aceh juga agak panjang, karena dia terkait sesar mendatar juga itu, kemudian di Palu kemarin juga sama. Karena sesar itu kan banyak, sehingga ketika gempa terjadi biasanya akan diikuti gempa-gempa susulan sebagai pergerakan dari patahan-patahan itu sendiri.

Kalau sesuai pemetaan PVMBG, patahan-patahan sesar yang cukup rawan itu di mana?
Begini, karena gempa ini juga tidak bisa diprediksi kapan terjadinya gempa, maka untuk mengantisipasinya kami sudah membuat Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi. Kalau terjadi gempa kira-kira dampaknya akan seperti apa di daerah tersebut. Pemetaan itu tentunya berdasarkan pada kondisi struktur geologinya di wilayah sekitar. Ada juga sejarah masa lalunya, jenis batuannya. Karena kalau batuannya keras agak sedikit teredam, tapi kalau batuannya lunak atau tidak terkonsolidasi itu akan menambah atau memperbesar efek guncangan. Jadi itu semua ada di Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB). Dan itu sudah kita siapkan. 

Bagaimana mitigasinya?
Ini juga salah satu mitigasi, untuk menyiapkan diri jika terjadi gempa di daerah-daerah tersebut kira-kira potensinya berapa besar sih? Jadi peta KRB itu sudah kita siapkan baik untuk skala regional maupun nasional.

Terakhir BMKG sempat menyatakan bahwa di selatan Jawa itu berpotensi gempa megathrust dan berpotensi tsunami juga. Apa benar demikian?
Iya itu tadi. Kan memang kondisi tektoniknya di Indonesia seperti itu. Ada jalur di sebelah barat Sumatera, di selatan Jawa, di selatan Pulau Nusa Tenggara, di sebelah timur Sulawesi Utara, daerah-daerah itu memang zona produksi. Zona produksi inilah yang dinamakan zona megathrust. Dan situ memang ada potensinya. Dan itu lah negara kita. 

Kita juga sebenarnya sudah memetakan secara regional segmen-segmen megathrust dan potensi berapa besar kalau dia terjadi gempa. Ada sekitar 13 segmen di semua jalur itu. Dan masing-masing mempunyai potensi maksimal. Misalnya terjadi gempa di segmen A, itu dia punya potensi maksimal. Ada yang 8,1 SR, ada yang macam-macam lah skalanya. Dan memang potensi itu ada. Itu untuk kesiapsiagaan kita juga. Tetapi bukan berarti tiap saat akan terjadi gempa segitu. Jadi tergantung kondisinya juga. Nah, untuk menuju potensi gempa sebesar itu (8,1 SR), tentunya dibutuhkan semua komponen yang ada di sana itu bergerak, jadi seperti rangkaian yang bergerak sepotong-potong gitu.

Termasuk yang terjadi di Lombok?
Iya. Semua di selatan Jawa, sebelah barat Sumatera, kemudian di selatan Nusa Tenggara itu kan daerah sesar. Jadi bukan baru sekarang ini saja. Itu sejak dulu, sejak jamannya mbah-mbah kita itu memang sudah ada riwayat seperti itu.

"Masyarakat tak perlu khawatir berlebihan. Pemerintah terus mempersiapakan mitigasi bencana dengan baik. Termasuk melakukan pencatatan dengan alat yang memadai di setiap pos penjagaan dan SDM yang berkualitas".

Apa yang perlu disiapkan pemerintah dan publik?
Yang terpenting itu mitigasinya sebetulnya. Untuk daerah-daerah yang rawan seperti itu, mitigasinya seperti apa. Tentunya dari sisi peningkatan kapasitas bagaimana kita memberikan pemahaman kepada masyarakat agar masyarakat bisa lebih peduli dalam antisipasi bencana. Kemudian yang kedua, bagaimana mitigasi itu bisa dilakukan secara fungsional dan struktural. Struktural itu seperti bagaimana bangunan-bangunan yang ada bisa tahan gempa. Kemudian bagaimana kita mempersiapkan tanggul-tanggul untuk mengantisipasi tsunami. Itu kan juga perlu dipersiapkan.

BNPB sebelumnya sempat menyatakan bahwa ada ribuan desa berpotensi terpapar tsunami. Jika melihat kondisi sesar, artinya itu mungkin terjadi?
Makanya, saat ini kita sudah persiapkan peta Kawasan Rawan Bencana. Peta ini dibuat berdasarkan struktur geologi setempat, kemudian sejarahnya di situ pernah terjadi atau tidak, karena kan kita bisa lihat, bisa dicek kembali daerah-daerah mana saja yang pernah mengalami tsunami, dan seberapa besar. Dan teman-teman kami sudah bisa dan itulah yang digunakan untuk peta Kawasan Rawan Bencana untuk tsunami. Di situ akan terlihat ada kawasan KRB tinggi, menengah, dan rendah. Kemudian yang tinggi ini jangkauannya sampai seberapa.

Topik Terkait
Saksikan Juga