Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Alat dan SDM Pemantau Gempa Sudah Bagus

Senin, 5 Agustus 2019 | 06:49 WIB
Foto :
Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.

VIVA – Tak ada yang menduga peningkatan aktivitas Gunung Tangkuban Perahu di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat, 26 Juli 2019. Tak ada angin, tak ada hujan, gunung tersebut mengeluarkan letusan di saat kawasan wisata tersebut masih buka dan warga yang berdagang di sana juga masih ramai.

Warga dan wisatawan lalu berhamburan, teriakan takbir dan istighfar terdengar dari video-video amatir yang beredar. Beruntung letusannya freatik, bukan magmatik. Meski menyemburkan asap dan material hingga 200 meter, dampaknya tak seberbahaya letusan magmatik.

Baca Juga

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ternyata sudah memberikan kabar kepada pemerintah daerah setempat. Sebulan terakhir aktivitas di sekitar kawasan Gunung Tangkuban Perahu terpantau meningkat.

Pihaknya juga sudah memberikan kabar kepada pemerintah daerah dan warga agar meningkatkan kewaspadaan. 

Tak hanya Gunung Tangkuban Perahu yang mengagetkan. Tapi bencana alam seperti gempa bumi juga menimbulkan kekhawatiran.

Sebagai negara yang berada di wilayah Ring of Fire, atau cincin api yang berada di atas lempeng dan sesar, gempa bumi seperti menjadi bagiannya. Dalam setahun terakhir, tercatat gempa Lombok dan gempa Palu yang mengguncang dengan kencang serta menimbulkan ratusan korban jiwa. Bahkan di Palu, likuifaksi menenggelamkan warga yang tinggal di wilayah Petobo.

Kini, guncangan gempa terasa makin sering. Sepekan terakhir, gempa terus mengguncang. Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Kasbani berkenan menerima Vivanews untuk wawancara seputar gunung berapi, gempa, dan tsunami.

Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Auckland University dalam bidang geologi ini menjawab dengan lugas pertanyaan-pertanyaan Vivanews. Menurutnya, publik dan pemerintah negeri ini perlu mewaspadai gempa dan gunung berapi.

Meski tak terprediksi kapan akan terjadi, warga dan pemerintah daerah perlu memperhatikan gejalanya agar mampu mengantisipasi. 

Seperti apa penjelasan soal gempa bumi, gunung berapi, dan potensi bencana di Indonesia? Simak wawancara Vivanews dengan Kasbani yang dilakukan di Bandung, Jawa Barat.

Bagaimana update terkini Tangkuban Perahu pasca-erupsi beberapa hari lalu?
Jumat pekan lalu memang terjadi erupsi pada pukul 15.48 WIB. Kemarin itu adalah erupsi pertama setelah terjadi erupsi pada 2013 lalu. Meski sempat mengeluarkan semburan abu dan gas dengan ketinggian hingga 200 meter, tapi itu tidak besar erupsinya. Meski sempat mengganggu untuk berada di sekitar kawah.

Seperti apa kondisinya saat ini?
Kondisi sekarang itu memang masih fluktuatif, tetapi ada kecenderungan menurun. Dari data-data kami, baik itu data instrumen maupun data visual, memang ada kegempaan. Masih ada juga gas yang keluar dari dalam, kemudian dari visualnya memang ada gas yang keluar bersamaan asap yang tingginya bervariatif. Ada yang 50 meter, 150 meter dari dasar kawah, artinya masih ada kecenderungan atau potensi erupsi. Tapi menurun. Sampai saat ini, gempa-gempa tremor itu masih terjadi. Di data kami menunjukkan adanya gempa-gempa tremor, salah satu tandanya ada hembusan asap tadi, tapi tidak menutup kemungkinan terjadi letupan erupsi seperti yang terjadi pada Jumat kemarin. 

Bagaimana pemantauannya?
Sebenarnya gunung ini kan kita monitor dengan baik. Kita menempatkan beberapa peralatan di sana. Tadi saya sampaikan ada peralatan seismik di sana untuk mengetahui detak jantung di sana. Di GTP itu ada empat seismik dan kami juga ada pos pemantauan di sana. Ada petugas kita, ada yang khusus mengamati aktivitas GTP di sana. Kami harapkan masyarakat agar tetap tenang mengikuti informasi yang berasal dari PVMBG atau Badan Geologi, jangan dari yang lain. Kemarin setelah erupsi di Jumat itu, juga sempat beredar hoaks. Makanya kami juga menginformasikan update terbaru kondisi kawah seperti apa, karena kita memantau terus itu melalui visualnya. 

Apakah sebelumnya sempat diprediksi, erupsi ini akan terjadi?
Sebenarnya begini, memang sudah ada peningkatan aktivitas sejak bulan Juni 2019 lalu. Peningkatan itu ditunjukkan dengan adanya  gempa-gempa hembusan. Gempa-gempa hembusan itu, yang biasanya tidak seberapa kemudian meningkat sampai sekitar 400an pada sehari sebelum erupsi. Juga ada peningkatan bentuk agak menggelembung sedikit ya pada permukaan kawah kemarin itu. Dan informasi itu kita evaluasi juga.

Apakah hasil evaluasi dan pemantauan disampaikan?
Evaluasi terakhir pada tanggal 24 Juli. Dan hasil analisa dan evaluasi kita itu kami kirimkan kepada semua stakeholder terkait. Pertama BNPB sebagai koordinator kebencanaan di Indonesia, kemudian juga pemerintah daerah setempat, baik provinsi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Subang, dan juga tembusan instansi terkait lainnya. Kami sampaikan bahwa ada potensi terjadinya erupsi freatik, cuma kapannya kan tidak tahu. Makannya surat itu kami kirimkan agar kemudian untuk dilakukan antisipasi apabila erupsi itu terjadi. 

Memang erupsi ini jangkauannya tidak sebesar erupsi magmatik. Kalau erupsi magmatik kan dia bisa besar, dan indikasinya kelihatan sekali. Tapi kalau erupsi freatik ini tidak terlalu kelihatan, tapi ada gitu kan. Makanya kami sampaikan ada potensi erupsi freatik yang bisa terjadi tiba-tiba seperti kemarin itu, namun sudah kami informasikan kepada stakeholder terkait yaitu tiga hari sebelumnya.

Selain Tangkuban Perahu, bagaimana kondisi gunung Merapi yang ada di Indonesia lainnya?
Seperti kita ketahui, Indonesia ini memiliki gunung yang paling banyak di dunia. Ada 127 gunung yang aktif. 69 di antaranya kami sebut sebagai gunung api tipe A, yaitu tipe yang paling aktif di antara yang lainnya. Nah, ke-69 gunung ini semuanya kita pantau secara intensif. Semuanya kita pantau, kita punya pos minimal satu pos di setiap gunung itu. Total kita punya 74 pos untuk memantau 69 gunung tipe A itu. 

Apa saja dan siapa saja yang ada di pos-pos itu?
Di setiap pos itu kita ada pengamat atau peneliti. Ada juga alat-alat kita yang kita gunakan untuk memantau aktivitas di 69 gunung berapi itu. Tergantung bagaimana kondisi gunungnya tentu. Ada yang sangat lengkap, ada juga yang biasa-biasa saja.

Jadi dari 69 gunung ini, memang rata-rata dalam satu tahun itu ada sekitar 20-an yang di atas normal. Gunung-gunung yang di atas normal ini adalah gunung-gunung yang berada di level 2, level 3, sampai level 4, tapi saat ini gunung yang di level 4 enggak ada. Level 2 itu artinya waspada, level 3 itu artinya siaga. Untuk level 3 itu ada sekitar 20 gunung, termasuk di antaranya Sinabung dan Gunung Agung. Untuk yang di level 2, ada Krakatau, Kerinci di Jambi, kemudian kalau di Jawa itu ada Gunung Bromo, Gunung Merapi, kemudian Gunung Semeru. 

Mana lagi yang berstatus waspada?
Di Lombok ada Gunung Rinjani, ke bagian Timur lagi ada Gunung Sangiang Api. Kalau di Maluku ada Gunung Karangetang itu juga level 3. Kemudian di Sulawesi Utara ada Gunung Soputan itu juga level 3. Gunung yang berada di level 2 itu cukup banyak, sekitar 18 gunung. Dan gunung-gunung yang berada di level 2 dan level 3, potensi erupsi itu ada, dan bahkan ada yang sudah erupsi, cuma skala ancamannya saja yang beda-beda. 

Bagaimana membedakannya?
Kalau ancamannya masih berada di sekitar puncak tidak terlalu jauh, ada yang sekitar 1-2 kilometer, artinya tidak mengganggu permukiman, hanya mengganggu atau berdampak pada jika ada yang mendaki. Kalau level 3 itu sudah lebih jauh lagi dampaknya atau potensi ancamannya. Jadi gunung-gunung kita memang seperti itu.

Jadi tidak usah khawatir, potensi erupsi itu selalu ada, bahkan beberapa sudah ada yang erupsi. Dan yang paling penting ancamannya sudah kita mitigasi, sudah kita prediksikan. Kalau terjadi sesuatu atau erupsi, jarak aman masing-masing gunung berbeda-beda. Misalnya Gunung Merapi. Sekarang berada di level 2, sekarang itu erupsi, terus dia pembentukan kubah lava, kemudian longsor menjadi gempuran lava pijar, kemudian awan panas. Tapi kan jaraknya sudah kita antisipasi. 

Topik Terkait
Saksikan Juga