Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Senin, 12 Agustus 2019 | 09:00 WIB

Investasi Besar-besaran di Tengah Hegemoni Mobil Jepang

Team VIVA »
Toto Pribadi
Jeffry Yanto Sudibyo
Foto :
  • VIVA/Purna Karyanto
Alexander Barus, CO-CEO DFSK Motors Indonesia

VIVA – Pasar otomotif di Indonesia sampai saat ini masih dikuasai merek-merek Jepang. Bukan hanya motor, mobil pun mengalami kondisi yang sama. Hal tersebut terlihat dari data yang disajikan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Penjualan 30 merek mobil penumpang dari pabrik ke diler sepanjang 2018 menorehkan angka 1.151.284 unit. Dan Toyota kembali menyandang predikat sebagai brand terlaris, dengan raihan pangsa pasar 30,6 persen, atau terjual 352.161 unit.

Baca Juga

Sedangkan posisi kedua ditempati oleh Daihatsu dengan penjualan 202.738 unit dan market share 17,6 persen. Ketiga ada Honda yang penjualannya di tahun lalu 162.163 unit, diikuti Mitsubishi 142.861 unit, dan Suzuki 118.014 unit.

Artinya lima merek mobil terlaris di Tanah Air berasal dari Negeri Samurai. Namun bukan berarti, tidak ada pendatang baru yang berani mengadu nasib dan berinvestasi besar-besaran di negara kepulauan ini, terutama brand mobil asal China.

DFSK telah menancapkan kuku bisnisnya di Tanah Air sejak 2014 lalu. Merek mobil asal Tiongkok yang berada di bawah naungan PT Sokonindo Automobile tersebut menggelontorkan dana senilai 150 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp2,134 trilun.

Kucuran dana tersebut sebagaian digunakan untuk membangun pabrik di Cikande, Serang. Kapasitas produksinya 50 ribu unit per-tahun, pabrik yang dirikan sejak 2014 dan rampung pada 2017 itu tempat produksi model Super Cab, Glory 580 dan Glory 560.

Pabrik tersebut dapat mengerjakan pencetakan plat baja (stamping), pengelasan (welding), pengecetan (painting), perakitan (assembling), serta proses control kualitas (quality control). Nah di 2018, DFSK baru pertama kali terjun ke pasar, awalnya menjajakan Super Cab dan Glory 580.

Menelisik data Gaikindo tahun lalu, dari daftar merek mobil terlaris nama DFSK berada di posisi 18. Dan selama satu tahun itu penjualannya hanya 1.222 unit, dengan  pangsa pasar 0,1 persen. Memasuki 2019, merek mobil China itu kembali merilis produk barunya, yaitu Glory 560.

Sejak menawarkan tiga produk di pasar, penjualannya terlihat ada peningkatan. Dalam satu semester atau Januari-Juni tahun ini pencapaian wholesalesnya sudah 1.667 unit. Dengan pencapaian tersebut, kini DFSK berada di posisi 13 dari daftar merek mobil terlaris.

Tentu yang menentukan karir DFSK di Tanah Air dalam beberapa waktu depan adalah strategi pemimpin dari perusahaan tersebut. Saat ini PT Sokonindo Automobile mempercayakan Alexander Barus sebagai Co Chief Executive Officer, pria yang mengabdikan dirinya di Kementerian Perindusrian sejak 1986 sampai 2011 itu.

Apa yang membuat Anda percaya diri dapat bersaing di tengah hegemoni merek Jepang?

Dongfeng Sokon merupakan industri mobil di China, bekerja sama antara Sokon Group (Hongkong) dan Donfeng Group. Berawal masuk ke Indonesia, dulu pabrik di Cikander itu pernah produksi motor China, yaitu Sanex. Melalui kajian tim dan principal, pasar otomotif akan berkembang baik di Indonesia. Karena Indonesia pasar terbesar otomotif di Asean, dengan penjualan mendekati 1 juta unit per-tahun.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Blak-blakan Bos DFSK Indonesia Tantang Dominasi Mobil Jepang
OTOMOTIF - 10 bulan lalu