Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Insight

Informasi

Iko Uwais: Daripada Aktor, Saya Lebih Nyaman Disebut Fighter!

Senin, 19 Agustus 2019 | 06:53 WIB
Foto :
  • Netflix
Iko Uwais

Anak-anak (Uwais Team) udah paham. Mereka buat aja, saya enggak pernah latihan, jadi on set, langsung main. Sentuhan udah hapal, udah dapat chemistry-nya.  

Baca Juga

Kalau soal cedera, pernah enggak Bang Iko dan tim mengalaminya?

Jangan sampe, amit-amit (samil mengetuk-ketuk meja dan kursinya). Alhamdulillah sejauh ini ya kalau lebam-lebam segala macem itu wajar, soalnya kita bersentuhan, beradu fisik, bener-bener kita full body contact. 

Enggak ada yang bisa dibilang bohong-bohong. Karena kita lihat posisinya. Kalau misalkan ada angle buat mukul ke muka, pasti otomatis saya akan lihat posisi kamera di mana, saya akan nge-block pukulan itu, dalam arti bisa keliatan di dalam gambar tuh terlihat mukul bener dan hasilnya si kerja sama dengan aktor dan fighter

Tapi kalau cedera yang fatal, sejauh ini sih enggak. Jangan sampe lagi. Soalnya pernah, Mbak, waktu The Raid 1. Waktu itu pas saya lagi casting semua fighter. Saya coba semuanya. Dari 120 orang dan ada 1 orang, yang jadi (karakter) pakai golok matanya keluar. 

Dia enggak punya kontrol. Ada adegan fighting kan, pas dia banting saya, BUM! Dari belakang ke atas, itu kan lepas, saya kontrol sendiri, jatuh. Ama dia dilempar, ditarik lagi. Jadi posisi saya bukannya jatuh tapi hampir berdiri lagi, jadi jatuh kayak gini. Dengkulnya agak sdikit bengkok. 

Abis itu saya terapi kurang lebih 3 minggu, saya enggak bisa jalan sama sekali. Itu mau syuting The Raid 1. Pas udah selesai, bye segala macem, ketemu tukang urut dibetulin tulangnya, udah mau syuting 2 minggu lagi, kena cacar. Ada aja penyakitnya. Itu salah satu penyakit yang menurut saya paling terberat yang pernah saya alami.

Kalau soal fighting kan, Bang Iko udah jagonya nih. Nah bagaimana dari segi dramanya?

Pasti itu drama. Saya adaptasi, Mbak. Apalagi di sini sutradara beda-beda, kan. Ada 6 sutradara. Nah sebelum saya memasuki episode 3 atau 4 ataupun 5 ke 6, itu pas di tengah-tengah syuting saya harus ketemu lagi sama sutradara selanjutnya. Ada meeting dulu, ada brainstorming, segala macem, kemauannya seperti apa. 

Jadi sutradara juga adaptasi ke saya. 'Oh karakter lo kaya gini,' dia akan ngikutin. Cuma kan untuk karakter yang dia mau enggak sama, sama yang sebelumnya. Jadi pas saya udah enak lagi, udah 2 minggu, DAR! berubah lagi, adaptasi lagi, itu lumayan kompleks sih, kesulitan yang saya alami di series ini.

Yang paling dirinduin pas syuting di Indonesia apa aja sih, Bang? Apa bedanya sama di luar negeri?

Kekeluargaanny, Mbak. Kan kita satu sama lain udah kenal dan akrab. Waktu film Berandal itu 8 bulan, Mbak. Ketemu keluarga aja paling jarang, paling sering sama kru gitu kan. Headshot saya 2 bulan di Batam. Dua bulan di Batam, apa-apa semua serba bareng, The Night Comes for Us 7 bulan. Setiap hari sama kru segala macem. Jadi sifat kebersamaannya itu salah satu plus minusnya sama di negara sendiri, di sana (luar negeri) kita enggak temuin. 

Jadi pas lagi libur, misalkan dua hari, sehari libur itu enak banget kan, bisa santai di rumah, bisa ke mana-mana, masih bisa ketemu sama keluarga. Kalau di sana kan walaupun sehari, dua hari, tiga hari libur ngapain kan, enggak ke mana-mana, mending kerja sekalian kan. Kita asing sama negara orang dan cuacanya beda, dari segi makanan agak enggak begitu mudah buat kita gitu kan. Yaa plus minus sih, Mbak.

Tawaran main film atau serial kan banyak, hal apa yang paling mendasar yang dijadikan Bang Iko sebagai standar terima tawaran itu?

Sejauh ini sih saya emang lagi action ya Mbak, jadi sangat jarang ya untuk di Indonesia ataupun di luar masih bisa dihitung tangan ya. Action banyak, cuma  masih bisa dihitung dengan tangan apalagi di Indonesia gitu. Ehm... sekarang lumayan tercium sih, budaya Indonesia ada silatnya, akhirnya di sini saya, ya karena saya atlet silat, walaupun apapun gerakan yang diberikan ke saya, pasti otomatis kuda-kudanya pencak silat. 

Jadi udah menjadi darah daging, mau karate, taekwondo, capoeira itu mah gerakannya, otomatis ending-nya silat. Jadi ada yang berbau sedikit budaya saya, Indonesia. Saya sangat tertarik untuk di luar, untuk di sini apalagi. Jadi temen-temen yang ada di sini, misalkan ada film, drama, sama sekali enggak ngeliat ada bonyok di muka saya, itu pasti sedikit aneh sih. Jadi sejauh ini saya nikmatin dulu buat ke action fighting.

Iko Uwais masih antusias menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kami. Iko tampak berpikir sejenak, ketika salah satu dari kami menanyakan soal pernyataannya dalam sebuah wawancara bahwa aktor kelahiran Jakarta ini masih enggan disebut sebagai seorang aktor. 

"Eeengg... belum jawab aja, saya udah merinding, Mbak," katanya membuat kami tertawa. Iko Uwais tampak lebih serius dari sebelumnya.

Topik Terkait
Saksikan Juga