Alasan Motor Sport 250cc Makin Ditinggal Masyarakat

Ilustrasi. Modifikasi CBR250RR yang dipajang saat peluncuran, Senin, 25 Juli 2016.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Yasin Fadilah

VIVA – Pasar motor sport di segmen 250cc belakangan terus menyusut. Penjualannya menunjukkan pasar tersebut sepi peminat ketimbang jenis lain. Hal ini pun diakui sejumlah pabrikan sepeda motor di Tanah Air.

Melihat fenomena tersebut, pengamat otomotif sekaligus dosen dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu menegaskan terdapat sedikitnya dua faktor utama.

Hal pertama ialah kenyamanan pengendara. Motor sport, dijelaskan Yannes, membuat postur tubuh pengendara membungkuk dengan posisi berat tubuh disangga kedua lengan dan posisi kaki yang menekuk saat motor stasioner --misalnya saat berhenti di lampu merah. Hal ini tentu berbeda dengan yang ditawarkan skutik premium yang saat ini mulai diminati.

"Situasi ini menjadikan penggunaan motor sport 250cc sangat meletihkan untuk operasional harian di jalan kota yang semakin lama semakin macet. Lagi pula di mana lagi kita bisa merasakan kedahsyatan sensasi genjotan akselerasinya dari posisi diam ke cepat di jalanan kota yang semakin macet," kata Yannes kepada VIVA, Jumat 7 Desember 2018.

Selain itu, pajak juga menjadi alasan pasar sport 250 semakin sepi peminat. Untuk pajak tahunan (non progresif), jika motor di bawah 250cc pajaknya di kisaran Rp400 ribuan ke bawah, maka motor sport 250cc yang Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) nya kecil berada di kisaran Rp600 ribuan ke atas. 

"Belum lagi biaya spareparts dan servisnya motor sport 250cc yang hampir dua kali lipat motor 150cc ke bawah. Sebagai catatan, besaran pajak motor di tiap-tiap provinsi relatif berbeda ya," ujar Yannes. (yns)