Mia Khalifa: Saat Jadi Bintang Porno, Saya Diasingkan Keluarga

Mia Khalifa, eks bintang film porno yang kini jadi presenter olahraga.
Sumber :
  • Instagram

VIVA – Setelah berhenti dari industri film porno, aktris Mia Khalifa akhirnya buka suara tentang pengalamannya. Salah satuya, perihal tanggapan keluarga terhadap keputusannya terjun ke industri film porno.

Dikutip laman ladbible, Mia Khalifa mengungkapkan bahwa keluarganya sempat tidak mengakuinya kala ia menjadi bintang film porno. Berbicara di HARDtalk BBC, Mia berbicara tentang perjalanannya terjun membintangi film porno. Mia Khalifa menjelaskan bagaimana film ini sebagian besar berasal dari pemberontakan dan ingin melakukan sesuatu di luar batas dan keluar dari karakternya.

Baca Juga: Ustaz Abdul Somad Sebut Artis Korea Sanjay Dutt dan Amitabh Bachchan

Ia sendiri bahkan kaget bahwa dia pernah berada di sana. Mia juga mengungkapkan awalnya, keluarga tidak tahu ia terjun ke industri tersebut.

"Dan mereka menolak saya ketika mereka tahu. Saya merasa benar-benar terasing bukan hanya di dunia, tetapi keluarga saya dan orang-orang di sekitar saya."

Bahkan ketika ia akhirnya berhenti. Ia kerap merasa sendiri kala itu. Hingga akhirnya ia menyadari ada beberapa kesalahan yang memang tidak dapat dimaafkan.

"Tapi waktu menyembuhkan semua luka, dan segalanya menjadi lebih baik sekarang."

Seperti diketahui dibawa oleh orang tuanya ke Amerika Serikat dari Lebanon, Mia Khalifa disekolahkan di Amerika dan melanjutkan untuk belajar Sejarah di University of Texas. Pada usia 22 tahun, ia menjadi pemain yang paling dicari di Pornhub.

Dengan fondasi yang tampaknya stabil dalam kehidupan, Mia Khalifa mengatakan bukan hanya keinginan untuk memberontak yang membawanya ke film porno, tetapi juga kurangnya harga diri.

"Saya rasa harga diri yang rendah tidak mendiskriminasikan siapa pun. Tidak masalah jika kamu berasal dari keluarga besar atau jika kamu berasal dari latar belakang yang tidak terlalu hebat."

"Saya berjuang sepanjang masa kecil saya dengan berat dan saya tidak pernah merasa menarik atau layak perhatian laki-laki, dan tiba-tiba tahun pertama saya di perguruan tinggi, saya mulai kehilangan semua bobot ini dari membuat perubahan kecil dan pada saat saya lulus saya siap untuk membuat perbedaan yang lebih besar," katanya.