Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Sabtu, 21 September 2019 | 11:12 WIB

Keberadaan antara Logika dan Rasa

Team VIVA »
Syahdan Nurdin
andimztaufik
Foto :
  • vstory
Topik kali ini mengenai sosial sama dengan postingan #VStory saya sebelumnya

VIVA – Abdul Qadir Al Jailani pernah berkata, “Aku lebih menghargai orang yang beradab, daripada orang yang berilmu. Kalau hanya berilmu, iblis pun lebih tinggi ilmunya daripada manusia”.

Kutipan itu lebih membuat timbul pertanyaan baru yakni apa itu “beradab”? dan kenapa kita harus beradab? Dalam KBBI beradab adalah beradab /ber·a·dab /v 1 mempunyai adab; mempunyai budi bahasa yang baik; berlaku sopan: perbuatannya seperti kelakuan orang yang tidak ~; 2 telah maju tingkat kehidupan lahir batinnya: bangsa-bangsa yang telah ~;

Baca Juga

Pernyataan dari Abdul Qadir Al Jailani sangat perlu dan menjadi sebuah keharusan bagi setiap manusia sebagai bahan introspeksi diri, apakah kita sebagai manusia ini sudah beradab atau hanya sekadar berilmu dan setara dengan iblis.

Esensi manusia yang dapat ditangkap dari kutipan Abdul Qadir Al Jailani adalah bahwa manusia dan sebaik-baiknya manusia tidak pernah melupakan sisi humanisnya. Sia-sia rasanya jikalau kita hanya mengandalkan ilmu dan tergila-gila akan mencari gelar dan hanya bertujuan eksistensialis jikalau kita tak beradab serta melupakan humanism

Terpopuler

Kata beradab dan humanism tidak terlalu jauh dalam hal esensial maknanya. Kedua kata tersebut ada dengan keberadaan “rasa” yang sejatinya memang hanya dapat tampak melalui panca-indera semata.

Namun, kata rasa yang dimaksud memiliki makna yang berbeda yakni rasa yang berasal dari hati kecil atau dalam mungkin yang bisa menggambarkan melalui kata “fuad” yang di mana hal ini menjadi landasan untuk menciptakan suatu keberadaan.

Setinggi-tingginya ilmu hanya menjadi umpama daun yang tidak dapat dipakai untuk membeli suatu barang. Nihil! Pandai beretorika, punya gelar tinggi serta mendapatkan apresiasi keilmuan yang banyak namun melupakan “adab dan humanis” maka hanyalah menjadi pohon tanpa buah. Tidak dapat dinikmati oleh insan-insan yang lainnya.

Saat ini manusia secara mayoritas mengalami disorientasi mengenai keberadaan mereka sendiri sebagai manusia. Salah seorang manusia yang dapat dikatakan bisa menjadi contoh gambaran mengenai betapa pentingnya fuad dalam berjuang adalah Mahatma Gandhi.

Ia memanglah seorang yang pandai, cerdas, dan kehebatan dalam berlogika sangat baik dan luar biasa. Namun, ia seperti yang dikenal dunia yaitu seorang yang sederhana tidak mengikuti perkembangan zaman tetapi tetap pada jalur beradab dan humanis.

Seorang Gandhi yang bukan ilmuwan hebat atau pemimpin negara tetapi bisa sangat dihormati oleh dunia. Hal tersebut didapatkannya karena beliau lebih meninggikan porsi humanis dan adab ketimbang segala yang berbau logis dan keilmuan. Ia sampai rela berpuasa demi memperlihatkan penderitaan kepada orang lain saat suatu konflik terjadi.

Pada saat itu di India dan Pakistan sedang mengalami konflik sara (pertentangan antara golongan agama).

Sisi humanis yang tinggi berdasarkan adab yang diperlihatkan oleh M.K. Gandhi adalah sesuatu pembuktian bahwa manusia semestinya bergerak dengan meninggikan sisi emosional dan rasa (fuad). Sesuatu yang “salah” pun sejatinya ada untuk mengadakan “benar” dan kemudian penerimaan salah tersebut melalui kata toleransi.

Di mana setiap konflik antara mana benar dan salah itu jangan hanya dapat diserap melalui tahapan logika tetapi berawal dari fuad serta memperhatikan sisi humanism dan keberadaban.

Kita manusia bukan iblis!

Tidak hanya Gandhi yang memperlihatkan pentingnya betapa pentingnya ‘merasa’, ‘beradab’ dan ‘berfuad’ dulu baru berlogika, Tan Malaka pun memperlihatkan melalui kutipan “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali".

Pada intinya keharmonisan dan kesinergisan dalam bermanusia bermula pada fuad. Kita bukan binatang buas yang mencari mangsa dan tidak memperlihatkan sisi kasihan terhadap mangsanya, apalagi Iblis yang menentang perintah-perintah dari Sang Maha Kuasa. (Andi Zulfikar)

Topik Terkait
Saksikan Juga
Polisi Gagalkan Penyelundupan Pistol Asal Taiwan di Surabaya
TVONE NEWS - 9 jam lalu