Iklim Investasi RI Membaik di Era Reformasi – VIVA

viva.co.id

Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva

viva.co.id

Senin, 2 April 2018 | 06:02 WIB

Iklim Investasi RI Membaik di Era Reformasi

img_title
Photo :
  • VIVA/Muhamad Solihin

Chris Wren, CEO British Chamber of Commerce di Indonesia dalam wawancara dengan VIVA.

VIVA – Sebagai dua negara bersahabat, Indonesia dan Inggris terus mengembangkan kerja sama di berbagai bidang, termasuk bisnis dan perdagangan. Ini terbukti dari meningkatkan volume perdagangan antara Inggris dan Indonesia dalam beberapa tahun belakangan.

Kendati naik, peningkatannya terasa belum signifikan. Banyak pihak percaya seharusnya hubungan bisnis dan perdagangan Inggris dan Indonesia bisa digenjot lebih banyak dari saat ini. Beberapa kendala yang dihadapi adalah masih kurang eratnya hubungan antar-pebisnis dari kedua pihak dan belum sinkronnya aturan dari pemerintah negara masing-masing dalam memuluskan perdagangan bilateral dan investasi.

Titik-titik lemah inilah yang coba diatasi para pengusaha dari kedua negara, yang rutin berinteraksi dalam sebuah asosiasi bernama Kamar Dagang Inggris atau The British Chamber of Commerce. Mulai aktif di Indonesia pada 1999, atau setahun setelah “Orde Reformasi” dimulai, The British Chamber of Commerce in Indonesia kini beranggotakan sedikitnya 230 perwakilan korporat dan 800 individu dari berbagai komunitas.

Sebagai Kepala Eksekutif Korporat atau CEO The British Chamber of Commerce di Indonesia, Chris Wren paham betul mengenai dinamika hubungan dagang Indonesia dan Inggris, yang dia nilai banyak potensi besar namun masih belum optimal digarap. Sebagai eksekutif yang bolak-balik ke Indonesia selama 20 tahun lebih, Wren tidak hanya sebagai salah satu sumber terpercaya bagi para investor Inggris, namun dia juga sering dimintai pendapat oleh kalangan pebisnis, diplomat, dan jurnalis mancanegara soal cara berusaha maupun bagaimana perkembangan usaha di Indonesia.

Itu sebabnya dalam perbincangan dengan VIVA di Jakarta beberapa waktu lalu, Wren dengan fasih menjelaskan cukup panjang lebar mengenai perkembangan hubungan dagang dan bisnis antara Inggris dan Indonesia. Dia juga memaparkan apa saja potensi yang belum banyak digarap oleh pengusaha kedua negara dan bagaimana menghadapi tantangan yang masih harus dihadapi kedua pihak -  seperti “Tahun Politik” di Indonesia dan juga efek Brexit bagi Inggris dan RI.     

Pria asal Liverpool ini pun mengungkapkan makanan khas dan tempat favorit yang dikunjungi selama berada di Indonesia. Termasuk bagaimana dia menghadapi macet di Jakarta dan kota-kota lain. Berikut kutipannya.

Apa peran British Chamber of Commerce dalam meningkatkan perdagangan dan investasi Inggris di Indonesia?

Ketika awal dibentuk, British Chamber of Commerce adalah pusat atau inti organisasi keanggotaan, di mana kita saling memberi dukungan kepada partisipan yang berinvestasi di Indonesia dan berbisnis di Indonesia. Baru-baru ini, kita memiliki satu unit yang didedikasikan untuk mendukung usaha kecil dan menengah, yang ingin terhubung dengan pebisnis Indonesia. Jadi ada berbagai sektor seperti ekspor, impor, joint venture, teknologi dan transfer pengetahuan. Jadi British Chamber  o Commerce seperti fasilitator, kami memfasilitasi perdagangan dan investasi antara UK dan Indonesia.

Apa sektor yang paling menarik bagi para pebisnis Inggris untuk berinvestasi di Indonesia?

Ini menarik, karena ini sebenarnya sulit dijawab. Alasan sederhananya, jika dilihat dari seluruh perusahaan menunjukkan ketertarikannya berbisnis di Indonesia itu sektornya bervariasi. Kita seharusnya tidak terkejut dengan hal ini, karena Indonesia adalah negara dengan penduduk yang besar dan beragam.

Secara geografis luas Indonesia itu jaraknya seperti dari London ke Turki, jadi itu sangat besar. Ada beberapa sektor menarik seperti pendidikan, kemudian ada minyak dan gas, kemudian teknologi yang dibangun untuk mendukung clean energy, renewable energy, lalu financial services. Jadi banyak sektornya, tentunya retail juga tidak ketinggalan.

Bagaimana dengan bisnis kecil dan menengah, industri kreatif atau startup? Apakah British Chamber of Commerce juga memfasilitasi?

Ada banyak fokus baik itu dari Kedutaan Besar Inggris dan British Council, yang membantu kolaborasi antara UK dan Indonesia, seperti misalnya industri kreatif yang didorong oleh ketertarikan UKM. Baru-baru ini juga ada penandatanganan antara Liverpool dan Surabaya, di mana industri kreatif jadi salah satu fokus utama.

Bagi kami, sebenarnya UKM juga menjadi fokus utama. Karena perusahaan besar tidak terlalu butuh support atau bimbingan.

Beda dengan UKM yang membutuhkan masukan mengenai bagaimana berbisnis di Indonesia, kemudian terkait peraturan pemerintah, hukum dan lainnya. Jadi mereka butuh bimbingan dan saran dari British Chamber of Commerce.

British Chamber of Commerce

Apa peran British Chamber of Commerce untuk meningkatkan pemahaman pebisnis Inggris untuk lebih banyak memahami Indonesia?

Kami sudah melakukan roadshow di banyak kota di Inggris. Kami fokus memberikan informasi kepada masyarakat untuk lebih banyak mengetahui Indonesia dengan kesempatannya yang ada.

Kami telah bertemu banyak orang selama roadshow dan banyak waktu, kami membantu membuka peluang dan kesempatan untuk bermitra dengan Indonesia.

Bulan Juni 2018 nanti kami akan mengikuti International Business Festival di Liverpool, kami akan ajak pebisnis dari Jawa Timur dan Jawa Barat selama kunjungan yang terfokus pada sektor manufaktur, makanan dan minuman, dan maritim.

Apakah ada saran bagi startup dan pebisnis Indonesia untuk menjalin hubungan dengan pebisnis Inggris atau dari negara asing lainnya?

Pertama, orang Inggris itu tidak jauh berbeda dengan orang Indonesia. Mereka memiliki motivasi yang sama untuk berbisnis dan menghasilkan keuntungan, menambahkan nilai tertentu dan menjadi rekanan untuk berkembang dengan negara lain. Jadi tidak menjadi suatu yang asing untuk berbisnis dengan orang Inggris.

Kemudian mulai membiasakan dengan aspek budaya yang berbeda, untuk melakukan bisnis dengan negara barat, Inggris, dan penting untuk memiliki strategi bagaimana membangun jaringan yang kuat, jadi British Chamber od Commerce ini sangat membantu.

Anda di Indonesia sudah cukup lama, bagaimana melihat Indonesia di Era Reformasi, yang kini sudah berjalan 20 tahun?

20 tahun itu waktu yang panjang. Waktu berbincang dengan Presiden BJ Habibie, Indonesia tentu menginginkan demokrasi, tapi juga belum terlalu siap untuk terlibat dengan demokrasi setelah Orde Baru.

Tapi Indonesia sendiri telah mengalami kemajuan yang signifikan. Presiden telah mendukung banyak kontribusi bagi bangsa, kemudian generasi milenial juga memiliki aspirasi.

Salah satu juga yang saya amati, media dan kebebasan pers juga sangat berperan memberi informasi kepada masyarakat. Media harus check and balance tidak saja politik, tapi juga bisnis. Apalagi Indonesia sekarang termasuk negara anggota G20. Indonesia harus berkontribusi dan memberi pengaruh dalam pembangunan global yang juga berdampak pada domestik.

Bagaimana iklim investasi di Indonesia? Apakah semakin baik?

Tentu lebih baik, meski ada beberapa hal yang tidak mudah seperti peraturan yang kompleks, peraturan yang kerap berubah serta belum jelasnya aturan kepemilikan asing terhadap suatu bisnis. Masih adanya juga kesulitan bagi pekerja asing untuk bekerja secara permanen.

Tapi Indonesia telah mengalami kemajuan signifikan. Kemudahan bisnis sudah meningkat menurut Indeks Dunia. Indonesia dan Inggris juga memiliki kekuatan hubungan seperti dengan Badan Kerjasama Penanaman Modal (BKPM), kami bekerja sangat dekat, untuk membuat Indonesia lebih banyak mengetahui bagaimana melihat peluang bisnis dengan Inggris.

Apa peluang dan tantangan bagi pebisnis Inggris di Indonesia?

Muat Lainnya...