Butuh Ketemu Tiga Hari Tiga Malam untuk Tetapkan HET – VIVA

viva.co.id

Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva

viva.co.id

Senin, 11 Juni 2018 | 09:42 WIB

Butuh Ketemu Tiga Hari Tiga Malam untuk Tetapkan HET

img_title
Photo :
  • VIVA/Purna Karyanto

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

VIVA – Biasanya, Ramadan dan Idul Fitri selalu dipenuhi cerita melambungnya sejumlah harga kebutuhan pokok. Selama puluhan tahun drama lonjakan harga nyaris menjadi kisah klasik yang mulai diterima publik sebagai sesuatu yang wajar. Tapi tahun 2017 publik dibuat kaget.

Tapi pada Ramadan 2017 tak ada kenaikan harga bahan pokok yang mencekik leher. Kestabilan harga pangan yang terjadi pada 2017 adalah buah kerja keras Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Namun ia bilang, banyak kementerian lain yang terkait dalam mewujudkan harga yang tetap stabil, bukan hanya kementeriannya.

Tahun ini, meski sempat di awal Ramadan harga-harga terdengar mulai meroket, Enggartiasto segera menetapkan solusi. Harga kembali stabil dan stok kembali melimpah. Mampu menstabilkan harga saat Ramadan dan Idul Fitri jelas menjadi  catatan perjalanan yang jelas sangat baik, padahal ia baru memimpin kementerian ini pada Juli 2016. Mantan Ketua Real Estate Indonesia ini diangkat menggantikan Menteri Perdagangan sebelumnya, Thomas Lembong.

Politisi Partai Nasdem ini berjanji akan berjuang mati-matian agar tak ada lonjakan harga yang membuat ibu-ibu menjerit. Ia mengaku turun langsung ke lapangan dan mengumpulkan masukan, juga berhari-hari melakukan pertemuan dengan para pemangku kepentingan, termasuk pedagang untuk menetapkan Harga Eceran Tertinggi atau HET.

Apa saja yang dilakukan Enggar? Bagaimana ia mampu membuat laporan dari daerah menjadi lebih cepat diterima? Apa terobosan yang ia lakukan di kementeriannya? Cerita tersebut ia sampaikan saat diwawancara oleh VIVA dalam sebuah kesempatan khusus. Wawanara dilakukan di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat. Di sela aktivitasnya yang padat, Enggar mengizinkan dan menerima VIVA untuk berbincang dengannya pada Jumat, 8 Juni 2018. Berikut petikannya:

Menjelang akhir Ramadan dan Idul Fitri, Kemendag berhasil menstabilkan harga pangan. Sebenarnya apa yang dilakukan Kemendag hingga fluktuasi harga tak tajam?

Sampai dengan hari ini pasti harga stabil dan kalau kita lihat juga dari pengumuman BPS maupun dari PHPI dari Bank Indonesia, lebih baik dari tahun lalu, dari BPS. Kita yakin asal tidak ada framing berita. Pemberitaan yang menggiring untuk naik, Insya Allah ini tidak akan naik. Walaupun kita tetap waspada karena ada libur panjang. Ini yang barangkali kita harus lebih hati-hati lagi.

Tapi, menghadapi itu, sampai dengan hari ini staf kami ada 205 orang berada di pasar di berbagai daerah, di kota, kabupaten dan mereka berada di lapangan berkeliling ke pasar setiap hari bersama dengan Satgas Pangan dan bersama juga dengan Dinas Perdagangan setempat dan didukung oleh Bulog yang memantau ketersediaan barang dan harga. Kalau terjadi kekurangan stok maka segera akan komunikasi dengan kantor pusat.

Bagaimana koordinasinya?

Kami telah membagi koordinasi eselon I kita, tanggung jawab, jadi ada korwil-korwilnya. Eselon I bertanggung jawab atas beberapa daerah, dan dengan demikian memudahkan komunikasi dari staf yang ada di lapangan, jika stok menipis, untuk kemudian kita mengambil keputusan untuk mendrop barangnya.

Nah, Bulog sendiri sudah menyiapkan cadangan beras, sehingga pergerakan itu cepat. Jadi tidak usah ada kekhawatiran. Insya Allah  ini bisa terkendali harganya.

Sepertinya upaya yang Anda lakukan sekarang berhasil memangkas jalur-jalur birokrasi?
Ya, tapi untuk kita yang utama adalah, ketersediaan, barang itu harus tersedia. Ini bicara hukum suplai dan demand. Jadi kita tidak boleh ada kekurangan dan kemudian kita juga tidak mau dipermainkan. Jadi harganya kita pastikan tetap terkendali.

Selama ini Ramadan dan Idul Fitri adalah waktu dimana fluktuasi harga naiknya gila-gilaan? Tapi Anda berhasil mengatasinya?

Iya, kecuali 2017.  Kita sudah melalui perjalanan 2017. Syukur Alhamdulillah, kami sudah  bisa mengendalikan ini, karena itu (lonjakan harga) adalah sesuatu yang tidak biasa. Tidak benar, tetapi menjadi biasa karena itu rutin berjalan. Seperti yang disampaikan bahwa ini kan Ramadan ini naik. Nah, kita bisa buktikan bahwa itu 2017 tidak naik. Tidak ada gejolak harga.  Sekarang pun sampai dengan hari ini, syukur Alhamdulillah tidak terjadi kenaikan harga. Tetapi kami belum selesai, kami akan ikuti terus. Karena sebenarnya tidak ada alasan untuk naik.

Kalau ada kenaikan sedikit  kita masih bisa ditolerir, tetapi itu kenaikan seperti tahun-tahun lalu, lonjakan tinggi. Itu tidak ada alasan. Dan itulah perintah  Presiden dari awal, menjaga kestabilan harga. Coba, apa alasannya menaikkan harga tinggi? Ini kan hanya permainan sesaat saja dan kita kan tidak bisa mentolerir itu, dan akhirnya kemudian membebani rakyat. Nah ini tugas kami untuk mengendalikan sehingga dengan demikian inflasi pun kita bisa dikendalikan.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Jadi sepertinya kenaikan harga ini memang ada permainan. Siapa yang bermain dalam urusan ini?

Ya, namanya orang dagang, orang punya usaha, kalau melihat permintaannya tinggi, lalu dinaikkan. Tahun lalu kita ajak bicara seluruh stakeholder. Cukup panjang kita lakukan itu.  Dan ternyata sebenarnya dengan dialog kita bisa meyakinkan mereka. Kita berbicara dengan para pengusaha, tetapi diiringi dengan ketersediaan barang, ini kita bisa jalan

Sebenarnya dialog dengan keterbukaan itulah yang bisa jalankan. Saya belajar dari pak Jokowi, pada waktu beliau memindahkan pasar loak-nya di Solo. Waktu itu beliau melakukan lebih dari 100 kali pertemuan dengan para pedagang. Mereka diajak bicara, diyakinkan dengan sangat telaten. Akhirnya berhasil, dan kemudian pindah pasar itu sampai ada arak-arakan dan tidak ada gejolak.

Memindahkan pasar bukan suatu pekerjaan yang mudah, hampir rata-rata gagal, dan timbul reaksi. Tapi ini (Jokowi) tidak ada reaksi dan tidak ada kegagalan. Disambut dengan satu prosesi bahkan. Jadi kita itu melihat atau belajar dari beliau. Beliau juga menceritakan dan menyampaikan itu.  Jadi buat saya, kalau ada hal yang kita bisa tangkap dan kita bisa pelajari, maka kita lakukan.

Artinya ada satu sistem yang dipangkas oleh Kemendag untuk membuat harga stabil?
Sebenarnya kita menggunakan jaringan yang sama, kita hanya siap kalau seandainya kurang maka kita langsung turun. Nah, jaringan distribusi yang ada itu kita ajak bicara. Terutama pasti yang saya ajak bicara adalah produsen, D1, D2, begitu juga dengan ritel modern, memang ada yang terpangkas, tapi kita lakukan dari awal.

Sejak awal kita pangkas, bukan mendadak. Kita tidak bisa melakukan pemangkasan begitu saja di dalam mekanisme pasar, tidak bisa langsung. Karena jaringan itu sudah tercipta. Si pedagang yang di D4 atau D5 dia ada ketergantungan dari berikutnya. Coba kita datang ke pasar ditanya, ‘ini bawang dari mana?’ misalnya. Dia akan menyebut sumbernya. Apakah ini dari Brebes atau dari Nganjuk dia bilang ‘saya terima dari situ’. Kemudian tiba-tiba dipangkas, dia akan kaget, karena dia sudah ketergantungan, karena dia masih ada hutang, ada kewajiban, dan sebagainya. Dan biasanya orang berdagang kan punya kenyamanan sendiri pada supliernya. Saya biasa menerima dari si A, untuk langsung dipotong dia, bukan suatu pekerjaan yang mudah. Apakah dijamin keberlangsungan suplai itu sendiri.

Muat Lainnya...