Perempuan Indonesia Harus Berani Berkompetisi – VIVA

viva.co.id

Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva

viva.co.id

Senin, 2 Juli 2018 | 06:02 WIB

Perempuan Indonesia Harus Berani Berkompetisi

img_title
Photo :
  • VIVA.co.id / Fajar Sodiq

Linda Darrow dengan dukungan keluarga rutin berlatih sebagai petarung mixed martial arts

VIVA – Profesi sebagai atlet beladiri yang non full-bodycontact sudah umum bagi wanita di Indonesia. Namun, profesi atlet beladiri full-bodycontact masih belum digemari.

Ya, tak banyak wanita di Indonesia yang menggeluti pekerjaan sebagai petarung full-body contact, seperti di gelanggang mixed martial arts atau MMA. Jika kita menengok wanita yang berprofesi sebagai atlet karate, taekwondo, atau beladiri prestasi lainnya, sudah banyak.

Cuma segelintir wanita Indonesia yang mau dan berani mencoba kerasnya baku hantam secara langsung, apalagi hanya dalam balutan glove tipis ala MMA di tangan.

Linda Darrow salah satunya. Anda yang pecinta MMA di Indonesia tentu kenal sosoknya.

Sejauh ini, Linda masih berstatus juara di ajang One Pride Pro Never Quit. Hingga sekarang, Linda masih memegang sabuk kelas straw wanita.

Rekor pertarungannya terbilang menakjubkan. Enam pertarungan dilewatinya tanpa pernah kalah.

Dua lawannya pun berasal dari luar Indonesia, yakni Amira Badr (Mesir) dan Rochel Catalan (Filipina).

Tak cuma rekor, statistik kemenangan Linda juga mencengangkan. Mayoritas, kemenangan dicetaknya pada ronde pertama.

Duel terlamanya adalah saat melawan sang rival, Inandya Citra, dalam final turnamen kelas straw wanita. Kala itu, Linda harus melakoni duel melawan Citra selama lima ronde.

Linda Darrow Kalahkan Inandya Citra

Atas deretan prestasi inilah Linda akhirnya dipromosikan oleh One Pride untuk ikut dalam program seleksi beasiswa di Ultimate Fighting Championship.

Lewat proses seleksi yang ketat, Linda mampu meraih beasiswa tersebut. Artinya, Linda sudah selangkah lebih maju untuk menuju pentas UFC, yang memang jadi turnamen MMA idaman bagi seluruh petarung profesional dunia.

Tak cuma itu. Baru-baru ini, Linda terpilih sebagai salah satu nominator dalam Asia MMA Awards 2018.

Linda pun terpilih untuk bersaing dalam beberapa kategori, yakni Female Fighter of The Year dan Rookie of The Year. Untuk kategori Female of The Year, Linda harus bersaing dengan petarung cantik asal Singapura, Angela Lee.

Tak mudah sebenarnya bagi Linda untuk menjadi seperti sekarang. Di awal, banyak cibiran yang sempat menghampirinya. Menyebutnya sebagai lesbian atau lainnya. Namun, kondisi berubah ketika Linda meraih berbagai prestasi. Banyak orang kini memujanya sebagai seorang inspirator.

VIVA berkesempatan mewawancarai Linda secara khusus saat dia berkunjung ke kantor kami. Berikut adalah petikan wawancara kami dengan wanita berjuluk The Arrow tersebut.

Profesi petarung bagi wanita masih belum umum di Indonesia. Di awal, sempat ada pandangan negatif dari orang atau tidak?

Orang luar itu menganggap ada yang aneh dengan saya. Banyak yang bilang, saya ini lesbian, memiliki kepribadian lain. Sebenarnya sangat mengganggu.

Tapi, saya berusaha untuk tak menjadikannya sebagai pengganggu performa di atas oktagon. Saya pun punya keluarga yang mendukung dan memahami kondisi saya ini.

Faktanya, Anda ini seorang ibu rumah tangga dan punya anak bukan?

Muat Lainnya...