Rupiah Masih Jauh dari Fundamental, BI Tak Berhenti Intervensi Pasar – VIVA
Click to open
Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Jumat, 14 September 2018 | 20:18 WIB
  • Rupiah Masih Jauh dari Fundamental, BI Tak Berhenti Intervensi Pasar

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Arrijal Rachman
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta
Photo :
  • ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta

VIVA – Bank Indonesia menilai nilai tukar rupiah terhadap dolar yang saat ini masih mengalami pelemahan di kisaran Rp14.800, meski beberapa hari terakhir mengalami penguatan di kisaran Rp14.700,. Angka itu masih jauh dari nilai fundamentalnya.

Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, Jumat 14 September 2018, di mana perdagangan rata-rata antarbank dolar AS dibanderol Rp14.835. Atau, melemah dari perdagangan Kamis, 13 September 2018 yang sempat menguat di level Rp14.795 per Dolar AS.

Atas dasar itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo mengatakan, BI akan terus melakukan berbagai kebijakan stabilisasi, baik melalui kebijakan suku bunga acuan BI-7 day reverse repo rate, maupun intervensi ganda di pasar uang maupun pasar surat berharga negara.

"Kita kombinasi itu semua. Kombinasi artinya kita mainkan suku bunga, dual intervention dan depresisasi secara gradual dari level fundamental yang ada. Jadi kalau masih intervensi kita masih lihat nilai tukar belum stabil dan jauh dari fundamentalnya," ungkap Dody di kompleks BI, Jakarta, Jumat 14 September 2018.

Dia juga menegaskan, atas dasar itu, maka arah kebijakan BI masih belum berubah, yakni ketat atau hawkis berdasarkan data-data perekonomian maupun moneter secara lengkap. Artinya, potensi kenaikan suku bunga acuan masih akan terus ada.

Lihat Juga

"Kita data dependent, lihat semua perkembangan dan seandainya ada kenaikan atau perubahan suku bunga itu dilakukan secara terukur. Kami tergantung data dependant," tegas dia.

Selain itu, menurut Dody, meski gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar masih terus terjadi hingga saat ini, aliran modal ke Indonesia sudah mulai masuk. Meski begitu, dia belum mau menjabarkan secara nominal berapa nilai aliran modal yang telah masuk ke Indonesia.

"Kita juga lihat dalam beberapa hari di minggu yang lalu, ada inflow di beberapa instrumen SBI dan SBN. Jadi artinya positif, meskipun belum lihat bahwa tekanannya berkurang. Inflow sudah mulai masuk beberap hari lalu. Meskipun satu minggu, netnya masih net outflow. Tapi dalam beberapa hari sudah ada di saham dan juga di SBN," ungkapnya.