Pemerintah Bangun 1.200 Rumah Sementara bagi Korban Gempa di Sulteng - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Selasa, 16 Oktober 2018 | 10:41 WIB

Pemerintah Bangun 1.200 Rumah Sementara bagi Korban Gempa di Sulteng

Hunian sementara diperlukan sampai proses relokasi selesai.
Lahan kandidat yang akan dibangun hunian sementara bagi korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.
Photo :
  • Kementerian PUPR

Lahan kandidat yang akan dibangun hunian sementara bagi korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

VIVA – Pemerintah mengumumkan rencana untuk membangun 1.200 unit rumah bagi hunian sementara (huntara) bagi korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Hunian itu sebagai transit hingga hunian tetap dan relokasi permukiman selesai.

Hunian itu akan dibangun di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala. Pembangunan ditargetkan selesai dalam dua bulan. Hunian sementara diperlukan sampai proses relokasi selesai. Sebab relokasi permukiman memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang.

"Makin cepat huntara selesai, makin cepat penduduk bisa pindah dari tenda,” kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono dalam keterangan tertulisnya pada Selasa, 16 Oktober 2018.

Seribu dua ratus unit hunian itu dapat menampung 14.400 keluarga. Modelnya knockdown berukuran 12 x 26,4 meter persegi, dibagi menjadi 12 bilik; setiap biliknya dapat dihuni satu keluarga. Itu hunian tahap pertama sambil menunggu perkembangan data pengungsi yang membutuhkan.

Menurut Ketua Satgas Penanggulangan Bencana Sulawesi Tengah Kementerian PUPR, Arie Setiadi Murwanto, pada pekan ini aparatnya menargetkan sudah ada satu unit mockup hunian sementara, sehingga bisa menjadi contoh dalam pembangunan selanjutnya.

Hunian itu akan dibangun dengan sistem cluster pada lima zona dengan mempertimbangkan faktor ketersediaan lahan dan keamanan lokasi dari dampak gempa. Setiap cluster yang terdiri atas 10 unit hunian (120 bilik), akan dibangun satu buah sekolah PAUD dan sebuah SD, tempat sampah, ruang terbuka untuk kegiatan warga serta tempat parkir sepeda motor.

Konstruksi hunian juga tahan gempa dan mengakomodasi cuaca Kota Palu yang panas karena berada di garis Khatulistiwa. Konstruksi akan menggunakan baja ringan dengan dinding berbahan glassfiber reinforced cement (GRC). Setiap unit dilengkapi empat toilet, empat kamar mandi, septic tank, tempat mencuci, dan dapur bersama serta listrik dengan daya 450 watt setiap bilik.

Arie melanjutkan, hunian-hunian ini bisa dimanfaatkan dalam dua tahun sampai hunian tetap yang dibangun pemerintah selesai.

Menurutnya, pembangunan hunian tidak seluruhnya dilakukan oleh Kementerian PUPR, namun juga masih terbuka bagi pihak lain untuk membangunnya di atas lahan-lahan yang disiapkan dengan desain yang sama dengan yang dibangun Kementerian PUPR.

"Kami mengharapkan pembangunan hunian sementara oleh pihak-pihak lain di luar Kementerian PUPR menyatu dengan huntara Kementerian PUPR serta memiliki desain yang sama agar tidak terjadi kecemburuan," ujar Arie.

Beberapa lokasi hunian sementara itu, antara lain di Kelurahan Duyu, Petobo, dan Pengawu, lapangan sepakbola Kelurahan Silae, Tipo, Tipo A, lapangan Kelurahan Buluri, Watusampu, dan Kawatuna. Untuk relokasi permukiman tetap warga, sudah ada tiga lokasi yang menjadi kandidat, di antaranya Kelurahan Duyu, Tondo, dan Pombewe.

Saksikan Juga

Bentrok Mesuji, Tsunami Cilacap & TGPF Novel Baswedan

BERITA - 3 bulan lalu
loading...
Muat Lainnya...