BPS: E-Commerce Belum Jadi Mesin Ekonomi RI

Gudang penyimpanan barang e-commerce. Foto ilustrasi
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id – Badan Pusat Statistik tak meyakini, sektor perdagangan berbasis digital atau e-commerce mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini. Alasannya, otoritas statistik sejauh ini belum memiliki data yang konkret atas volume perdagangan melalui transaksi digital.

Urgensi Sensus Pertanian di Era Kebijakan Berbasis Data

"Saya kira untuk saat ini belum memungkinkan untuk e-commerce. Kecuali kita punya sumber daya," kata Kepala BPS Suhariyanto, di Jakarta, Senin 7 Agustus 2017.

Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto memandang, sejauh ini belum ada data dari lembaga mana pun, yang secara konsisten menunjukkan seberapa besar geliat e-commerce di Indonesia. Sementara itu, survei yang dilakukan otoritas statistik pun belum mencakup. 

Memotret Sensus Pertanian 2023, Menjaga Ketanganan Pangan di Masa Depan

Meskipun pada kuartal kedua tahun ini terjadi pergeseran konsumsi, terutama di kalangan menengah ke atas, BPS meyakini persentase yang mengarah ke perdagangan digital masih relatif minim. Sebab, belum ada data pasti yang menunjukkan hal tersebut.

"Secara nominal besar, tapi persentase kecil. Pertumbuhan juga tidak setinggi yang kita bayangkan. Kita lihat transaksi debit tumbuh, tapi tidak melonjak. Ada shifting tentu. Tapi, tidak ada satu pun data yang pasti," katanya.

Pentingnya Sensus Pertanian 2023

BPS mengaku akan menggandeng para pemangku kepentingan terkait, untuk menelusuri sepak terjang sektor e-commerce. Apalagi di tengah semakin berkembangnya kemajuan teknologi tersebut, sektor tersebut mampu terus bertahan.

"BPS tidak bisa sendirian. Ke depan perlu ada kerja sama untuk ini," katanya.

Jokowi

5 Ancaman Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2024

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Indonesia untuk keseluruhan tahun 2023 sebesar 5,05% year-on-year (yoy).

img_title
VIVA.co.id
9 Februari 2024