Duterte Perintahkan Tembak Alat Kelamin Wanita di Konflik – VIVA
Click to open
Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Selasa, 13 Februari 2018 | 05:00 WIB
  • Duterte Perintahkan Tembak Alat Kelamin Wanita di Konflik

  • Oleh
    • Ezra Natalyn,
    • Dinia Adrianjara
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, dengan para tentara wanita di Marawi.
Photo :
  • Malacanang Presidential Photo/Handout via REUTERS
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, dengan para tentara wanita di Marawi.

VIVA – Presiden Filipina, Rodrigo Duterte pada pekan lalu, mengatakan kepada tentara untuk menembak pemberontak perempuan di bagian alat kelamin mereka. Duterte, yang pernah menjabat sebagai Wali Kota Davao itu mendorong Angkatan Bersenjata Filipina, atau AFP untuk menargetkan perempuan dalam konflik.

"Beritahu kepada mereka, ada perintah baru. Kami tidak akan membunuhmu, kami hanya akan menembak vagina Anda. Jika mereka tak punya vagina, mereka menjadi tidak berguna," kata Duterte sebagaimana dikutip Washington Post, Senin 12 Februari 2018.

Kantor Komunikasi Kepresidenan memasukkan pernyataan Duterte dalam transkrip resmi suatu acara dengan sambutan Duterte. Namun, disebutkan mengganti kata vagina dengan tanda hubung. Seperti diketahui, cara memimpin Duterte sampai saat ini kerap disorot, karena pernyataannya yang keras dan aksi yang cenderung vandalis.

Duterte kerap merendahkan dan mengancam wanita. Namun, saat ditanya, ia bersikeras bahwa hal itu hanya lelucon belaka. Pekan lalu, Juru Bicara Presiden Duterte, Harry Roque, bahkan menuduh para aktivis wanita terlalu bereaksi berlebihan terhadap komentar Presiden tersebut.

Lihat Juga

Pernyataan Duterte itu, kemudian tersebar dan menjadi viral dengan cepat. Akhir pekan ini, kelompok feminis dan hak asasi manusia mengungkapkan kemarahan dan kekecewaan mereka atas pernyataan mantan Wali Kota Davao tersebut.

"Pernyataan jahat Duterte secara terbuka mendorong kekerasan terhadap perempuan dan selanjutnya menegaskan dirinya sebagai figur macho-fasis yang paling berbahaya di pemerintahan saat ini," kata seorang perwakilan untuk Gabriela, sebuah organisasi feminis di negara itu.