Hasil Pemilu India, Partai PM Narendra Modi Menang Mutlak - VIVA
Hasil Pemilu India, Partai PM Narendra Modi Menang Mutlak
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-bbc.jpg?v=5.73
Jumat, 24 Mei 2019 | 05:42 WIB

Hasil Pemilu India, Partai PM Narendra Modi Menang Mutlak

https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/05/24/5ce71bf655111-hasil-pemilu-india-partai-dengan-sosok-kuat-pm-petahana-narendra-modi-menang-mutlak_663_382.jpg
Photo :
  • bbc

Narendra Modi: merupakan peraih suara utama untuk Partai Bharatiya Janata atau BJP - Getty Images

Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Perdana Menteri India Narendra Modi meraih kemenangan mutlak dalam pemilihan umum di India mengungguli pesaing terdekatnya Partai Kongres yang dipimpin oleh Rahul Gandhi.

Aliansi yang dipimpin BJP unggul dengan raihan lebih dari 300 kursi di parlemen, dan ini memastikan bahwa Modi akan kembali mendominasi parlemen dengan jumlah kursi total sebanyak 543.

Aliansi yang dipimpin Partai Kongres hanya mendapat kurang dari 100 suara.

Lebih dari 600 juta orang telah memberikan suara dalam pemilu terbesar dunia yang berlangsung selama enam minggu.

Pada pemilu tahun 2014, BJP mendapat 282 kursi dan bersama partai-partai anggota aliansinya kini mereka unggul dengan jumlah total 336 kursi.

Wartawan BBC di India, Soutik Biswas mengatakan kebijakan Modi antara lain terkait keamanan nasional membuatnya menarik suara banyak.

"Tidak apa kalau pembangunannya sedikit namun Modi membuat negara aman," kata seorang pemilih di Kolkata kepada Biswas.

Anggapan bahwa Modi adalah "sosok kuat" merupakan daya tarik besar dalam pemilu ini, kata Biswas.

Apa arti kemenangan kembali Modi bagi India dan dunia? Berikut beberapa hal penting terkait hal ini.

Tantangan ekonomi India

India diperkirakan akan mengambil alih posisi Inggris sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia.

Dengan komposisi demografinya yang muda, diperkirakan akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi global.

Penanam modal internasional sangat optimistis pada ekonomi India, dan pada tahun lalu saja mengucurkan dana sebesar hampir US$44 miliar.

Keuntungan sudah terlihat dengan banyaknya pembangunan jalan, pembangunan pertanian, gas murah untuk orang miskin, pembangunan fasilitas MCK di pedesaan serta skema asuransi kesehatan, yang semuanya bisa menguntungkan bagi 500 juta keluarga.

Namun secara umum ekonomi India masih bermasalah dengan permintaan yang melambat, penurunan penghasilan dan buruknya angka pengangguran selama empat dekade.


Bocoran data pemerintah menyatakan peningkatan angka pengangguran pada masa pemerintahan BJP - Getty Images

India butuh menciptakan jutaan lapangan kerja tiap bulan untuk tetap mempertahankan laju ekonomi dan membuat orang muda tidak mengalami kekecewaan. Target ini gagal dicapai oleh pemerintahan sebelumnya dan jadi pekerjaan rumah pada periode kali ini.

Selagi India mengatasi masalah ini dan membangkitkan ekonominya, masalahnya adalah: apakah perlombaan untuk menciptakan lapangan kerja ini akan menimbulkan perang dagang dengan negara-negara mitra ekonomi mereka?

Bangkitnya nasionalisme

Hasrat untuk meraih kembali kejayaan yang hilang bergema pada munculnya pemimpin nasionalistik yang kuat di seluruh dunia.

Misalnya pada Donald Trump yang menyerukan, Make America Great Again , atau Putin dengan slogan yang mirip. Demikian pula dengan hasrat Xi Jinping dengan slogan `Kebangkitan akbar rakyat China` atau Benjamin Netanyahu dengan slogan `Agar berbagai bangsa diberi cahaya`.

Modi juga menggunakan tema serupa dalam retorika kampanye pemilunya yang menyerukan kembalinya kejayaan masa lalu. Ia menyerukan nostalgia pada Raja Rama, tokoh epik yang merupakan intisari dari ajaran agama Hindu di India.


Nasionalisme Hindu menjadi wacana utama di India saat ini - Getty Images

Modi menyerukan, `Raja Rama adalah raja yang ideal dan pemerintahannya merupakan sistem yang sempurna.` `Pemerintahan Raja Rama dilahirkan oleh para pendiri bangsa dan pemerintahan BJP bekerja untuk mencapai itu,` kata Amit Shah, Presiden BJP.

Namun pemimpin partai berulang kali menekankan bahwa mereka tidak anti minoritas. "Partai ini ditujukan bagi 1,3 miliar orang India dan tidak melakukan diskriminasi berdasar agama," kata juru bicara BJP Nalin Kohli.

Kini BJP kembali berkuasa dan identitas nasionalis India akan kembali muncul.

November lalu, riset BBC juga memperlihatkan seruan untuk membentuk identitas nasional ini telah menghidupkan berita bohong atau hoaks. Jaringan berita sayap kanan menyebarkan berita bohong dengan sudut pandang nasionalistis melalui jaringan media sosial mereka.

Politik orang kuat dan kekuatan geopolitik

BJP menyombongkan `dada bidang` Modi sebagai perumpamaan bagi karakternya yang macho, seraya menunjukkan serangan India terhadap kelompok militan Pakistan sebagai bukti akan hal itu.

Narasi ini memiliki daya tarik bagi massa yang meningkatkan popularitas Modi. Padahal sebelumnya popularitas Modi sempat turun pada pemilu negara bagian, tetapi sesudah serangan itu, ia naik lagi.

Modi terus mengobarkan nasionalisme yang kuat selama masa kampanye. Pendukung-pendukungnya bicara tentang masa lalunya yang sederhana dan mengkontraskan ini dengan latar belakang pesaingnya, pemimpin Partai Kongres Rahul Gandhi yang berasal dari dinasti politik besar Nehru-Gandhi.

Semua ini "sukses meyakinkan rakyat India bahwa ia seorang yang tulis, pekerja kerasa dan tegas."

Di bawah kepemimpinannya, India telah dua kali berhadapan dengan Pakistan dan sekali dengan China, di wilayah yang rawan dengan potensi konflik, di Kashmir dan di Laut China Selatan.


Para analis memperhitungkan kenaikan popularitas Modi beriring dengan pendekatan keamanan nasionalnya. - Getty Images

Di Asia Tenggara, India dengan cepat muncul sebagai `pengimpang bagi kekuatan China dan menjadi pagar bagi kekuatan Amerika Serikat yang sedang menurun` kata lembaga think tank Amerika, Council on Foreign Relations.

Banyak orang India yang melihat peningkatan peran mereka secara regional dihasilkan dari pengaruh kepemimpinan Modi.

Selagi Modi terus mendorong pengaruh India di masa jabatannya yang kedua, kita akan melihat peralihan-peralihan aliansi geopolitik di Asia Tenggara.

Meningkatnya populisme sayap kanan

Selama ini BJP telah menggabungkan antara politik sayap kanan dengan retorika dan tema populis.

Presiden BJP Amit Shah menyebut imigran gelap sebagai `rayap` dan berjanji untuk `melempar mereka ke Teluk Bengal` sementara ia menawarkan kewarganegaraan pada pengungsi Hindu dan Buddha.

Menteri Pertama Uttar Pradesh yang berasal dari BJP, Yogi Adityanath mengatakan Partai Kongres terkena infeksi virus `hijau` (mengacu pada warna hijau sebagai Islam). Dalam lima tahun pemerintahan BJP, hubungan Hindu-Muslim di India telah memburuk dan menimbulkan ketakutan di kalangan Muslim mengenai masa depan mereka di negara tersebut.


Modi dikritik karena tak melakukan banyak hal untuk melindungi kaum minoritas di India - Getty Images

Wacana politik berbasis identitas ini mungkin berhasil sebagai strategi meraih pemilih yang mengalihkan mereka dari masalah ekonomi sesungguhnya, tetapi akan sulit untuk menarik kembali wacana itu.

 

Krisis iklim

Laporan yang dikeluarkan oleh Greenpeace dan AirVisual Analysis di tahun 2019 menyebut 30 kota dengan polusi udara terburuk di dunia dan 22 di antaranya terdapat di India. Kota paling buruk adalah Gurugram, pusat industri teknologi yang berlokasi dekat ibukota Delhi.

India diperkirakan akan menjadi negara dengan penduduk terbesar di dunia - melampaui China - dalam lima tahun ke depan. Namun laporan Bank Dunia menyebut bahwa tekanan terhadap air, tanah dan hutan di India akan menjadi yang terburuk di dunia pada tahun depan.


India saat ini adalah penghasil CO2 terbesar ketiga di dunia - Getty Images

Narendra Modi akan menghadapi dilema. Di satu sisi ekonomi India sedang tumbuh pesat untuk memenuhi kebutuhan jutaan orang yang berada di bawah garis kemiskinan.

Pelambatan terhadap pertumbuhan ekonomi akan dipandang sebagai kegagalan dalam penciptaan lapangan kerja.

Di sisi lain, kegiatan ekonomi yang tak terkekang akan memperburuk tekanan terhadap sumber daya alam yang bisa mengakibatkan krisis lingkungan, yang berpotensi membuat negeri ini masuk ke dalam turbulensi di masa depan.

Di tengah situasi ini, Modi membuat komitmen di Perjanjian Paris bahwa India akan menekan emisi gas kaca hingga 35 persen dalam sepuluh tahun.

Saksikan Juga

Bangunan Tiga Lantai di India Roboh, 12 Orang Tewas

TVONE NEWS - 5 hari lalu
loading...