Dideportasi Pemerintahan Trump, Pria Yunani Meninggal Dunia - VIVA
Dideportasi Pemerintahan Trump, Pria Yunani Meninggal Dunia
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-bbc.jpg?v=5.89
Jumat, 9 Agustus 2019 | 15:48 WIB

Dideportasi Pemerintahan Trump, Pria Yunani Meninggal Dunia

https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/08/09/5d4d2cf06d591-pria-yang-pindah-dari-yunani-ke-as-sejak-kecil-meninggal-dunia-setelah-dideportasi-pemerintahan-trump-ke-irak_663_382.jpg
Photo :
  • bbc

Jimmy Aldaoud, yang berasal dari Irak, datang ke AS bersama keluarganya saat ia masih kecil.-EDWARD BAJOKA

Seorang pria yang pindah ke Amerika Serikat sejak masih kanak-kanak dan tinggal di Detroit meninggal dunia pada Selasa lalu setelah dideportasi ke Irak, ungkap pengacaranya kepada BBC.

Jimmy Aldaoud, 41 tahun, tidak mampu membeli insulin untuk mengobati diabetes yang dideritanya, ujar pengacara imigrasi Edward Bajoka.

Aldaoud sendiri belum pernah ke Irak dan tidak bisa berbahasa Arab. Ia dideportasi Juni lalu sebagai bagian dari upaya pemerintah AS mereduksi imigran Irak yang dituduh melakukan tindakan kriminal.

Bajoka mengatakan bahwa kliennya dihukum atas perilakunya yang mengganggu dan tindak pencurian.

Badan Penegakkan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) AS menyatakan bahwa selama dua dekade terakhir, Aldaoud telah menerima 20 vonis hukum, termasuk penyerangan dengan senjata berbahaya, kekerasan dalam rumah tangga, hingga penerobosan rumah.

Lembaga itu mengatakan bahwa ia telah melarikan diri dari program pengawasan tanpa penahanan ICE dan tetap bebas selama sekitar empat bulan, sebelum ia kemudian ditangkap atas dugaan pencurian. Mereka juga mengatakan bahwa ia "dipasok kebutuhan obat-obatan secara lengkap untuk memastikan keberlanjutan perawatannya" ketika ia dideportasi.

Aldaoud lahir di Yunani dan pindah ke AS saat masih kecil bersama keluarganya, ungkap Bajoka.

"Mereka benar-benar menempatkannya dalam situasi paling buruk," kata Bajoka kepada BBC, merujuk pada ICE. "Sungguh kejam yang mereka lakukan terhadapnya dan akhirnya ia meninggal dunia akibat kekejaman itu," tuturnya.

Lembaga perlindungan HAM, Human Rights Watch , menyebut kematian Aldaoud sebagai sebuah "buntut dari kebijakan kejam imigrasi AS yang mengejutkan, namun sudah bisa diduga".

Keluarga Aldaoud, yang berasal dari Detroit, dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah hukum.

Kenapa Jimmy Aldaoud dikirim ke Irak?

Pada bulan Juni 2017, pemerintahan Trump mulai menarget lebih dari 1.000 orang Irak dengan catatan kriminal untuk dideportasi. Menurut , deportasi itu dilakukan setelah AS bersepakat dengan Irak, dengan syarat negara Timur Tengah itu dihapus dari daftar negara yang dilarang masuk ke AS oleh pemerintahan Trump.

Berdasarkan perintah pemerintahan Trump, seperti dikutip oleh Reuters, Irak dihapus dari daftar tersebut setelah upaya "untuk memperbaiki dokumentasi perjalanan, pembagian informasi, dan pengembalian warga negara Irak yang mendapat putusan akhir pengusiran".

Aldaoud adalah satu dari lusinan keturunan kristen kaldea Irak ( Iraqi Chaldean Catholics) yang ditangkap petugas imigrasi dalam patroli di Detroit dan seantero Amerika pada Juni 2017.

LSM perlindungan HAM mengatakan bahwa orang kristen kaldea, yang asal-usulnya dapat ditelusuri hingga ke Mesopotamia kuno di mana Irak berdiri saat ini, berisiko diserang oleh kelompok ISIS.

Bajoka, pengacara Aldaoud, adalah bagian dari tim hukum yang meluncurkan gugatan perwakilan kelompok ( class action ) untuk mencegah pendeportasian kelompok tersebut dari AS ke Irak.

"Cara mereka mendeportasinya (Aldaoud) sangatlah kejam," ujar Bajoka. "Ia menderita diabetes, dan mereka mendeportasinya tanpa insulin, tanpa obat-obatan. Mereka menjemputnya, dan tanpa pemberitahuan kepadanya maupun keluarganya, mereka menjembloskannya ke penjara dan beberapa minggu kemudian ia diterbangkan ke Irak."

Bagaimana Jimmy Aldaoud bisa meninggal?

Serikat Kemerdekaan Sipil Amerika (ACLU) mengatakan kepada BBC bahwa kematian Aldaoud sebagiannya diakibatkan oleh kurangnya akses mendapatkan insulin di Irak.

"Kematian Jimmy telah menghancurkan keluarganya dan kami," ujar Miriam Aukerman, pengacara staf senior ACLU. "Kami tahu ia tak akan bertahan jika dideportasi. Yang kami tidak tahu adalah berapa banyak lagi orang yang akan dikirim ke ajal mereka oleh ICE."

Dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial, Aldaoud menceritakan kisahnya yang dideportasi ke Irak dan bagaimana ia berjuang dengan diabetes yang dideritanya. Dalam video yang tidak diketahui waktu perekamannya itu - namun jelas diambil di Irak - Aldaoud mengatakan bahwa ia tidak punya insulin untuk mengobati kondisinya dan bahwa ia "tidur di jalanan" tanpa bekal makanan.

"Saya memohon kepada mereka," ujarnya, menggambarkan usahanya memohon kepada petugas imigrasi AS. "Saya bilang, `Tolong, saya tidak pernah ke negara itu (Irak), saya belum pernah ke sana.` Tapi mereka tetap memaksa."

Dalam serangkaian cuitan, anggota kongres asal Michigan dari Partai Demokrat, Andy Levin, mengatakan bahwa seharusnya Aldaoud tidak pernah dikirim ke Irak jika hal itu "akan sangat membahayakan hidupnya".

Levin mengatakan bahwa kematian Aldaoud "dapat dan seharusnya bisa dicegah" dan mengatakan bahwa hal itu sama saja dengan hukuman mati.

"Rekan-rekan saya dari Partai Republik dan saya sendiri sudah berulang kali menyerukan kepada cabang eksekutif untuk menghentikan deportasi terhadap orang-orang yang rentan seperti itu," ujarnya. "Sekarang, satu orang sudah meninggal. Kita tidak bisa menunggu satu hari lagi untuk mengambil tindakan."

Saksikan Juga

Dideportasi dari Malaysia, 1 Keluarga Terlantar di Bandara

TVONE NEWS - 11 bulan lalu
loading...