Tidak Semua Mahasiswa Indonesia Mau Menetap di Australia
Tidak Semua Mahasiswa Indonesia Mau Menetap di Australia
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-abc.jpg?v=8.7.10
Senin, 12 Agustus 2019 | 17:12 WIB

Tidak Semua Mahasiswa Indonesia Mau Menetap di Australia

https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/08/12/5d512e8b5e8cb-n-a_663_382.jpg
Photo :
  • abc

Indonesia merupakan satu di antara 10 negara pengirim mahasiswa internasional terbanyak di Australia.

Menurut laporan dari Departemen Imigrasi dan Kewarganegaraan Australia, Indonesia menjadi salah satu dari 10 negara penyumbang mahasiswa internasional di Australia.

Dilema Mahasiswa Indonesia di Australia 17.000 mahasiswa Indonesia melanjutkan studi di Australia pada tahun 2013. Meski standar gaji tinggi, beberapa memilih pulang ke Indonesia. Izin tinggal Warga Tetap di Australia sulit untuk diperoleh

Laporan tahun 2017 ini mencatat bahwa sebanyak 20 ribu mahasiswa Indonesia terdaftar di lembaga pendidikan di Australia yang rata-rata adalah di New South Wales dan Victoria.

Ada pendapat umum yang mengatakan kalau bisa sebagian besar dari mahasiswa ini kalau sudah lulus ingin kemudian menetap di Australia, karena fasilitas, gaji, dan kehidupan yang lebih baik.

Namun apakah semuanya demikian?

ABC Indonesia berbicara dengan tiga orang warga Indonesia yang baru saja lulus dari universitas di Australia dan ketiganya memilih jalur kehidupan yang tidaklah sama.

Gabriella Astiti yang lulus dari Universitas Deakin dengan gelar Sarjana Seni bidang Film dan Televisi tahun 2017 memang tidak memiliki rencana menetap ketika tiba di Australia.

Ia memutuskan untuk pulang dan bekerja di Indonesia setelah visa Warga Sementara Australia yang berdurasi dua tahun habis enam bulan lagi.

Videografer lepas di sebuah perusahaan startup di Cranbourne, Victoria, Australia tersebut berpikir bahwa tinggal di Australia bukanlah tujuan akhirnya.

"Izin tinggal permanen di Australia memang seolah-olah bagaikan tiket emas menuju kehidupan lebih baik, tapi itu bukan panggilan saya," kata Asti.

Gabriel Astiti Asti mengatakan bahwa Australia seolah-olah menawarkan tiket emas untuk kehidupan yang lebih baik tapi itu bukan tujuannya.

"Yang pasti saya mau melihat diri saya berjuang di Indonesia dengan alasan yang baik."

Sementara itu, Adisa Manalu yang memiliki gelar Sarjana Seni (Komunikasi dan Media) Universitas Monash sempat tergoda dengan kesempatan tinggal di Australia dengan visa Warga Sementara.

Namun, melihat perkembangan industri kreatif di Indonesia, tanpa ragu ia memutuskan untuk meninggalkan Australia.

"Awalnya lumayan mau ambil visa Warga Sementara, tapi setelah melihat prospek di Indonesia dengan segala macam startups yang bertumbuh jadi mau pulang dan kerja di sana."

Saksikan Juga

Masih Kebakaran Hutan, Australia Dilanda Banjir Bandang

TVONE NEWS - 6 bulan lalu
loading...