China Bahas Perang Dingin dan Serangan Siber, Nyindir AS - VIVA
China Bahas Perang Dingin dan Serangan Siber, Nyindir AS
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-warta.jpg?v=6.3.5
Senin, 21 Oktober 2019 | 16:04 WIB

China Bahas Perang Dingin dan Serangan Siber, Nyindir AS

https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/10/21/5dad71330c11b-bahas-perang-dingin-di-konferensi-internet-dunia-china-sindir-paman-sam_663_382.jpg
Photo :
    wartaekonomi

Bahas Perang Dingin di Konferensi Internet Dunia, China Sindir Paman Sam?. (FOTO: REUTERS/Jason Lee)

Tidak bisa dipungkiri jika Perang Dagang Amerika Serikat (AS) dan China seperti Perang Dingin jilid II. Sebelumnya, Perang Dingin terjadi antara AS dengan Uni Soviet, sekarang Rusia.

Mentalitas Perang Dingin dan perilaku bully atau perundung menimbulkan rasa tidak percaya di dunia maya, menurut Kepala Propaganda China, Huang Kunming.

Salah satu kasus yang dimaksud adalah serangan siber terhadap negara dan perusahaan. Huang mengatakan, beberapa negara sudah melancarkan serangan siber terhadap negara lain atau perusahaan dengan dalih keamanan nasional.

Sayangnya, ia tak menyebutkan negara yang ia maksud. “Dengan dalih keamanan nasional, sejumlah negara menyerang beberapa negara lain dan perusahaan,” katanya, dikutip dari Reuters, Senin (21/10/2019).

Huang mengatakannya dalam Konferensi Internet Dunia yang dikelola oleh Pemerintah China. Tahun ini, konferensi itu berlangsung dengan meningkatnya ketegangan AS dan China, khususnya berdampak pada sektor teknologi.

AS melarang perusahaan-perusahaannya untuk mengekspor komponen ke sejumlah perusahaan China lewat Daftar Hitam.

Kedua negara juga saling perang tarif dalam perang dagang yang makin intensif, menjadi pukulan terhadap rantai pasokan teknologi. Tahun ini, konferensi itu dihadiri oleh Alibaba, Baidu Inc, Microsoft Corp, dan Qualcomm Inc.

Lebih lanjut, China telah berperan lebih besar dalam tata kelola internet global dan menyerukan negara lain untuk menghormati kedaulatan dunia maya mereka.

Menurutnya, tiap negara bebas mengendalikan dan melakukan sensor infrastruktur internet sesuai kebijakannya.

Saksikan Juga

Pesan Mengerikan Suster RS di Wuhan Soal Pasien Virus Corona

BERITA - 1 hari lalu
loading...