WHO Cari Pasien Pertama COVID-19 ke China | Halaman 3
WHO Cari Pasien Pertama COVID-19 ke China
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-abc.jpg?v=8.7.23

WHO Cari Pasien Pertama COVID-19 ke China

Jumat, 10 Juli 2020 | 11:37 WIB
https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2020/07/10/5f07efbab8ec6-n-a_663_382.jpg
Photo :
  • abc

Dirjen WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus bersama Presiden China Xi Jinping.

Pada bulan Februari lalu, seorang ahli virologi terkenal dari China, Shi Zhengli menyebutkan virus SARS yang baru itu 96,2 persen mirip dengan virus yang ditemukan di gua kelelawar di Provinsi Yunnan pada 2013.

Tiga dari enam pria yang membersihkan kotoran kelelawar di gua tersebut telah meninggal dunia setelah menderita pneumonia parah.

Menurut laporan terbaru di suratkabar British Times, sampel beku virus tersebut, bernama RaTG13, telah dikirim ke Institut Virologi Wuhan pada 2013.

Tapi direktur institut itu sebelumnya membantah jika virus COVID-19 telah bocor secara tidak sengaja dari laboratorium. Ia bersikukuh jika tidak ada sampel RaTG13 yang disimpan di laboratoriumnya.

A police officer wearing a mask stands in front of the closed seafood market in Wuhan.Banyak sekali pasien terinfeksi COVID-19 yang berasal dari pasar di Wuhan. (Reuters: Stringer)

Pasar Wuhan

Teori ketiga yang lebih luas beredar yaitu bahwa pasar makanan laut dan hewan di Kota Wuhan merupakan tempat virus ini berpindah dari inang hewan ke manusia.

Hal itu didasari oleh faktar adanya ada korelasi yang tinggi dari pasien yang pernah ke pasar itu dibawa ke RS Wuhan dengan gejala pneumonia pada bulan Desember 2019.

Namun perlu diingat dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal medis The Lancet, pasien pertama yang dilaporkan di RS Wuhan tidak memiliki kaitan dengan pasar tersebut.

Hanya sekitar dua pertiga dari pasien paling awal yang jelas memiliki kaitan, sehingga sejumlah pakar menjelaskan pasar ini lebih mungkin sebagai tempat kejadian penyebar utama daripada sebagai sumber wabah.

"Kelelawar adalah asal muasal yang paling mungkin berdasarkan kasus terdahulu dan kesamaan susunan (DNA)," jelas Profesor Nicholls.

"Kecuali bila mereka (WHO) dapat melakukan pengambilan sampel hewan liar yang ada di pasar itu enam bulan sebelumnya, semua teori ini masih hipotesis," katanya.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

Saksikan Juga