Bom Hiroshima: Kenangan Ngeri Michiko yang Secara Ajaib Selamat
Bom Hiroshima: Kenangan Ngeri Michiko yang Secara Ajaib Selamat
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-bbc.jpg?v=8.7.23

Bom Hiroshima: Kenangan Ngeri Michiko yang Secara Ajaib Selamat

Kamis, 6 Agustus 2020 | 14:20 WIB
https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2020/08/06/5f2baafeed00d-bom-hiroshima-kenangan-seorang-perempuan-tentang-bom-yang-mengubah-sejarah-semua-orang-mengira-saya-akan-mati-tetapi-secara-ajaib-saya-selamat_663_382.jpg
Photo :
  • bbc

BBC Indonesia

 

Michiko (on right) and friends
Sanae Hamada
Michiko (kanan) dulu bekerja di pabrik amunisi di Hiroshima ketika berusia 14 tahun

 

Pada pagi hari tanggal 6 Agustus 1945, Michiko ketiduran.

"Saya ingat pada saat itu saya berpikir, `Saya bisa berangkat kerja tepat waktu jika saya naik kereta jadwal berikutnya, tapi saya mungkin masih bisa mengejar kereta jadwal saya biasanya jika saya lari ke stasiun," tulisnya, beberapa tahun kemudian ketika menuturkan kisahnya pada hari naas itu.

"Saya lari ke stasiun Yokogawa, dan saya naik kereta saya biasanya dengan tepat waktu."

Upaya Michiko untuk lari telah menyelamatkan nyawanya. Itu artinya dia aman berada di dalam tempat kerjanya, ketika kota tempat dia tinggal - Hiroshima - dihantam bom nuklir pertama yang pernah digunakan dalam perang.

"Jika saya ketinggalan kereta saya biasanya, saya akan mati di suatu tempat antara stasiun Yokogawa dan stasiun Hiroshima," tuturnya.

 

Short presentational grey line
BBC

 

Michiko Yoshitsuka, 14 tahun, adalah pelajar di sekolah khusus perempuan di jantung kota Hiroshima. Tapi ketika kota itu mendaftarkan anak-anak sekolah demi kepentingan perang, dia mulai bekerja di pabrik Toyo Kogyo, yang berjarak 8 kilometer dari pusat kota, membuat senjata untuk Tentara Kekaisaran Jepang.

Jika dia ketiduran hari itu, itu adalah karena kelelahan, bukan karena malas.

Dia menghabiskan waktu berjam-jam di pabrik.

Perang telah menyebabkan kurangnya pasokan makanan yang luas, dia pun mengalami kelaparan dan malam sebelumnya - seperti malam-malam sebelumnya - pesawat pengebom AS terbang di atas Hiroshima, memicu sirene serangan udara.

Sirene yang nyaring berbunyi sekitar pukul tujuh pagi.

Tetapi tidak seorang pun di luar Proyek Manhattan - kelompok penelitian pemerintah AS yang mengembangkan bom atom - dapat meramalkan kehancuran yang akan datang.

 

Ground crew of the Enola Gay
US Air Force
Awak darat dan pilot Enola Gay yang menjatuhkan bom di Hiroshima

 

Pesawat Enola Gay telah terbang dari pangkalan AS di Tinian, di Kepulauan Mariana, ke Hiroshima beberapa jam sebelumnya.

Pada pukul 8.15 pagi pesawat itu menjatuhkan bom yang oleh orang Amerika dijuluki "Little Boy", melenyapkan kota.

Diperkirakan 140.000 orang meninggal di Hiroshima, baik segera atau setelah beberapa bulan mendatang.

Michiko selamat, berkat Hijiyama, bukit tinggi antara pabriknya dan pusat kota,

Dalam kekacauan yang terjadi setelah ledakan bom, dia menuju Nakayamatoge, jalan setapak pegunungan menuju rumah kerabatnya di Gion.

Di jalan, dia melintasi ribuan orang meninggalkan kota yang hancur.

"Orang terluka di mana-mana. Saya melihat puluhan orang yang tubuhnya terbakar atau bernanah, yang bola matanya menyembul karena tekanan akibat ledakan, atau yang organ dalamnya menyembul dari tubuh dan mulut," tulisnya.

"Ketika saya berjalan, seseorang tiba-tiba meraih pergelangan kaki saya dan memohon, `Nona muda, bisakah Anda memberi saya air?` Saya menepis tangannya... dan berkata, "Maafkan saya, maafkan saya!" Saya dipenuhi rasa takut dan terus berjalan untuk melarikan diri."

Saksikan Juga