Perjuangan Pebisnis dan Pekerja WNI di Tengah Badai Ekonomi Melbourne
Perjuangan Pebisnis dan Pekerja WNI di Tengah Badai Ekonomi Melbourne
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-abc.jpg?v=8.7.21

Perjuangan Pebisnis dan Pekerja WNI di Tengah Badai Ekonomi Melbourne

Kamis, 6 Agustus 2020 | 17:26 WIB
https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2020/08/06/5f2bc486220e8-pemilik-bisnis-dan-pekerja-asal-indonesia-di-melbourne-bertahan-dalam_663_382.jpg
Photo :
  • abc

Zurlia Usman (kanan) bersama putrinya, Anisa Azzahra Ismail yang menjadi direktur Emaan sejak dua tahun lalu.

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.

Sudah 16 tahun Zurlia Usman, asal Malang, membuka sebuah butik di Melbourne. Dengan aturan pembatasan tahap keempat terkait pandemi COVID-19, ia terpaksa harus menutup sementara bisnisnya.

Bisnis Zurlia, yakni butik Emaan, menjadi satu dari ribuan bisnis yang terkena dampak sejak Pemerintah Victoria menutup sementara usaha yang tidak termasuk kebutuhan pokok dan mendesak, mulai Rabu malam (5/08).

"Setelah turun pendapatan karena pembatasan pertama selama tiga minggu, kami sempat berharap bisa naik lagi pelan-pelan setelah dilonggarkan ternyata di luar dugaan harus tutup sementara lagi."

Zurlia mengaku jika pengeluaran terbesarnya saat ini adalah membayar uang sewa bangunan yang terletak di kawasan Coburg, sekitar 7 kilometer dari pusat Kota Melbourne.

"Yang memberatkan untuk bisnis kami adalah sewa gedung yang cukup tinggi," ujarnya kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Eman Butik Butik Emaan yang berada di kawasan Coburg untuk sementara tutup dan hanya akan melayani pembelian lewat online di situs mereka.

Koleksi Emaan

Tapi Zurlia mengatakan ia bersyukur karena di tengah pandemi COVID-19, ia telah bernegosiasi dengan pemilik bangunan untuk mendapatkan keringanan setelah menunjukkan adanya penurunan pendapatan.

Ia juga mengaku salah satu yang membuat butik Emaan bertahan adalah tunjangan uang "Jobkeeper" dari pemerintah, yang diberikan kepada pemilik bisnis dengan penurunan omset lebih dari 30 persen.

Banyak diantara pemilik bisnis di Melbourne merasa khawatir mereka tidak akan mampu bertahan jika bisnis mereka akan ditutup sementara selama enam minggu.

Tapi dengan berbekal pengalamannya menjalani bisnis butik selama belasan tahun, Zurlia yakin jika ia akan bisa melalui "badai" dengan baik.

"Kami optimis badai kali ini juga bisa dilalui, jadi berpikiran positif, karena bukan sesuatu yang permanen," ujar Zurlia yang kini hanya melayani pembelian online.

Zurlia yang pindah ke Australia di tahun 1988 untuk meneruskan sekolahnya mengatakan banyak hal yang bisa dipelajari oleh pebisnis di Melbourne selama usaha mereka ditutup sementara, seperti melatih kemampuan beradaptasi dalam bisnis dan mencari inovasi.

Berharap kembali bekerja di salon Fenny Fenny yang baru mulai bekerja di salon saat pembatasan tahap ketiga, harus berhenti bekerja ketiga tahap empat diberlakukan.

Supplied: Fenny Yunita

Kemampuan beradaptasi dengan cepat dilakukan oleh Fenny Yunita, mahasiswi Certficate III Hair Dressing dan Diploma of Beauty Therapist, yang sebelumnya memiliki pekerjaan sampingan di hotel.

Saksikan Juga

60 WNI Terjebak di Kapal Pesiar Mewah Italia

TVONE NEWS - 6 bulan lalu