Australia Diminta Hapus Working Holiday Visa 'Backpacker', Mengapa
Australia Diminta Hapus Working Holiday Visa 'Backpacker', Mengapa
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-abc.jpg?v=8.7.23

Australia Diminta Hapus Working Holiday Visa 'Backpacker', Mengapa

Selasa, 11 Agustus 2020 | 14:28 WIB
https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2020/08/11/5f32402dcde0c-serikat-buruh-australia-minta-penghapusan-working-holiday-visa-ini-alasannya_663_382.jpg
Photo :
  • abc

Sekitar 130,000 pemegang working holiday visa (WHV) biasanya dipekerjakan di sektor pertanian di berbagai wilayah Australia.

Para petani dan pemilik perkebunan di Australia diminta untuk berhenti mempekerjakan tenaga kerja asing pemegang working holiday visa (WHV) dan backpaker untuk memanen hasil pertanian mereka.

Kalangan serikat buruh mendesak penghapusan jenis visa working holiday. Namun kalangan industri pertanian perkirakan penghentian pekerja working holiday akan menimbulkan kerugian AU$13 miliar. Pengangguran di Australia saat ini mencapai titik tertinggi dalam 20 tahun.

Hal itu disampaikan oleh aliansi sejumlah serikat buruh, yaitu Serikat Buruh Australia (AWU), Asosiasi Distributor Toko dan Pekerja Bersatu, serta Serikat Buruh Transportasi.

Dengan tingginya tingkat pengangguran saat ini, para petani diharapkan untuk mempekerjakan generasi muda di wilayah regional dan pedesaan sendiri.

Saat ini, Pemerintah Federal Australia sedang meninjau ulang tenaga kerja di sektor pertanian.

Baik kalangan industri maupun serikat buruh mendapat kesempatan untuk memberikan masukan ke komite parlemen.

Aliansi Pekerja Ritel dalam masukannya menyebutkan program backpacker atau WHV ini penuh dengan eksploitasi.

Mereka menyerukan agar pekerja Australia masuk ke sektor pertanian serta mendorong perluasan program pekerja musiman.

Beberapa hari sebelumnya kalangan industri pertanian dari Aliansi Produk Segar Australia (AFPA) memberikan masukan bahwa penghentian program backpacker akan merugikan perekonomian sebesar AU$13 miliar.

Selain itu, langkah tersebut akan menaikkan harga buah-buahan dan sayuran segar hingga 60 persen.

Saksikan Juga