Kisah Warga di Australia Sulit Cari Kerja di Masa Pandemi COVID-19
Kisah Warga di Australia Sulit Cari Kerja di Masa Pandemi COVID-19
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-abc.jpg?v=8.7.23

Kisah Warga di Australia Sulit Cari Kerja di Masa Pandemi COVID-19

Jumat, 14 Agustus 2020 | 12:46 WIB
https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2020/08/14/5f36241362c3c-sulitnya-cari-kerja-di-australia-suzanna-asal-bandung-sudah-lamar-80-pekerjaan_663_382.jpg
Photo :
  • abc

Suzanna Martanti mempraktikkan kegiatan mindfulness untuk membantu kesehatan mentalnya.

Sejak pertengahan Februari lalu, Suzanna Martanti sudah mencoba melamar hampir 80 pekerjaan. Bahkan ia pernah bersaing dengan 700 pelamar untuk jenis pekerjaan resepsionis klinik di Melbourne.

Suzanna, yang akrab dipanggil Uchan, memang kebanyakan melamar pekerjaan di sektor kesehatan yang pernah ia tekuni selama 10 tahun.

Uchan mengaku seringkali merasa sangat sedih setiap kali lamarannya tidak berhasil, tapi tak akan membuatnya menyerah.

"Ini menjadi sesuatu hal yang melelahkan tentunya, namun saya akan selalu mencoba," kata Uchan yang tinggal di kawasan Jacana.

Menurutnya, kompetisi yang semakin ketat di antara para pelamar pekerjaan merupakan salah satu dampak pandemi virus corona dan "lockdown" yang masih diberlakukan di Melbourne.

Setelah proses lamaran ditutup, Suzanna yang melamar lewat situs pencari kerjaan SEEK, sering menerima email pemberitahuan yang mencantumkan berapa banyak orang yang melamar.

Ia pernah melihat 700 orang melamar untuk pekerjaan jenis paruh waktu, menggambarkan sulitnya mencari pekerjaan di Melbourne saat ini.

Job Application numberPemberitahuan dari SEEK yang diterima Suzanna mengatakan terdapat lebih dari 700 orang melamar pekerjaaan yang sama dengannya, sebagai resepsionis medis. (Supplied)

Berdasarkan data SEEK bulan lalu, jumlah lamaran pekerjaan di kebanyakan industri di Australia meningkat pesat dibandingkan sebelum pandemi.

Jenis pekerjaan yang menerima lamaran terbanyak antara lain bidang administrasi dan perkantoran, teknologi informasi dan komunikasi, akuntansi, penjualan, dan industri konstruksi.

Di beberapa kesempatan, Uchan juga pernah sampai di tahap wawancara dan tahap pemeriksaan referensi, namun penolakan di tahap lanjutan ini membuatnya kadang merasa putus asa.

"Saya mulai berpikir, "apakah saya cukup baik?", saya merasa tidak berguna atau bahkan tidak mau melakukannya lagi," kata Uchan kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Namun, ia tetap merasa bersyukur atas dukungan dari suami dan keluarganya, apalagi ia juga mengaku masih memiliki pekerjaan "casual" sebagai "bookkeeper" dengan jam kerja tiga jam per minggu.

A woman standing in front of a tree in a her backyard.Suzanna telah berusaha melamar 80 pekerjaan sejak awal pandemi COVID-19 di Australia. (Supplied)

Ibu dari dua anak yang pindah ke Australia di tahun 2005 ini mengatakan dirinya didiagnosa memiliki kecemasan atau "anxiety" beberapa tahun yang lalu.

Meski demikian, Uchan mengaku masih dapat beraktivitas seperti biasa, namun ketika kecemasan itu kembali, ada perasaan mudah sedih bahkan karena hal-hal yang kecil.

"Saya tidak mau berbicara ke siapapun, bahkan ke orang-orang di rumah. Yang saya inginkan hanyalah masuk ke kamar dan sendirian," kata Uchan.

Uchan tidaklah sendirian yang mengalami kecemasan serta kondisi yang tidak nyaman terkait kesehatan mental.

Saksikan Juga