Pandemi COVID-19 di India Memicu Lonjakan Pernikahan dan Pekerja Anak
Pandemi COVID-19 di India Memicu Lonjakan Pernikahan dan Pekerja Anak
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-bbc.jpg?v=8.7.28

Pandemi COVID-19 di India Memicu Lonjakan Pernikahan dan Pekerja Anak

Sabtu, 19 September 2020 | 09:42 WIB
https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2020/09/19/5f656e0d3d9bc-pandemi-covid-19-di-india-memicu-lonjakan-pernikahan-anak-dan-pekerja-anak_663_382.jpg
Photo :
  • bbc

BBC Indonesia

 

covid 19, pernikahan anak, India, pekerja anak
Getty Images
Laporan tentang pernikahan anak di India meningkat selama pandemi Covid-19.

 

Karantina wilayah yang diberlakukan di India mendorong sebagian orang tua memaksakan pernikahan dini kepada anak-anak mereka yang masih di bawah umur.

Anak perempuan berusia 13 tahun bernama Rani (bukan nama sebenarnya) baru saja memenangkan pergulatan pertama hidupnya. Orang tua Rani memaksanya menikah pertengahan tahun lalu.

Namun Rani mendapatkan bantuan dan mampu menggagalkan pernikahan tersebut.

 

 

Rani duduk di kelas delapan saat pemerintah India menerapkan karantina wilayah, Maret lalu. Kebijakan yang memaksa sekolah dan tempat usaha tutup, demi memotong penyebaran virus corona.

Sebulan setelahnya, ayah Rani yang tengah mengidap tuberculosis berkata telah menemukan `jodoh` untuknya.

Rani sedih. "Saya tidak tahu kenapa setiap orang tergesa-gesa memaksa saya menikah," ujarnya.

"Mereka tidak mengerti betapa pentingnya menyelesaikan sekolah, mendapatkan pekerjaan, dan menjadi orang yang independen," kata Rani.

Di India, perempuan berusia di bawah 18 tahun tidak diperbolehkan menikah. Meski begitu, India adalah negara dengan jumlah pernikahan anak tertinggi di dunia, berdasarkan catatan UNICEF.

Angka pernikahan anak di India itu diperkirakan melonjak tajam tahun 2020.

Pengelola layanan kontak bantuan khusus anak, Childline, menyebut aduan terkait pernikahan dini yang mereka terima meningkat hingga 17%. Persentase itu dihitung pada Juni-Juli lalu dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

Jutaan orang di India kehilangan pekerjaan selama karantina wilayah yang berlangsung Maret hingga awal Juni lalu.

Sebagian besar dari mereka adalah pekerja informal yang tak memiliki jaminan sosial. Mereka semakin terperosok ke kemiskinan.

Selama karantina wilayah itu, menurut data pemerintah India, lebih dari 10 juta pekerja kembali ke daerah asal mereka di pedesaan.

Dalam situasi sulit itu, banyak orang tua di pedesaan menganggap menikahkan anak perempuan mereka akan menjamin kesejahteraan keluarga.

Walaupun India mulai melonggarkan aktivitas publik sejak Juni lalu, perekonomian domestik belum pulih. Sekolah masih ditutup sehingga aktivitas para remaja yang rentan itu berpusat di rumah.

Sekolah selama ini diyakini merupakan agen perubahan di India, terutama untuk masyarakat ekonomi bawah, salah satunya di negara bagian Odisha, kampung halaman Rani.

Sekolah adalah ruang di mana para perempuan muda itu bisa bertemu guru atau teman dan mendapat bantuan menghindari paksaan pernikahan dini dari keluarga.

Saksikan Juga